[CHAPTER 24]

1.9K 76 8
                                        

War Of Heart - Page 24
.
.


Langkah kaki Misha memelan ketika melewati garis pintu. Gurat wajahnya terlihat jelas kalau gadis itu heran dengan pemandangan yang sedang dilihatnya. Tumben sekali Adam serta Johan peka? Padahal, Misha baru saja mau meminta bantuan, tapi kini mereka sudah terlebih dahulu membantu menurunkan trolley tersebut.

"Dari mana sih, Sha?" Tanya Adam dengan raut muka tidak bersahabat. Oke, sebenarnya, meskipun dalam keadaan biasa wajah Adam tidak enak dilihat, namun Misha yakin kali ini pemuda itu benar-benar sedang badmood. Misha mengangkat kedua alisnya, "Dari to—"

"Malah ninggal temenmu sendiri! Udah tau tangan dia lagi luka, malah disuruh nurunin trolley." Adam mencak-mencak, lelaki itu mengangkat trash bag yang terjatuh dengan satu tangan. Terlihat begitu mudah dan tidak rikuh. "Goblok, sinting."

Deg!

Misha tidak salah dengar kan?

Mudah sekali bagi pria itu menghina Misha! Hey, memang apa kesalahannya sampai-sampai Adam harus berkata seperti itu?!

"Kenapa nggak minta tolong yang lain aja? Kita mesti mau 'kok, bantuin kalian." Johan menimpali dengan bahasa yang lebih halus.

Tenggorokan Misha tercekat. Dadanya masih nyeri mendapat perkataan seperti itu seolah dia orang jahat. Ia juga tidak kuasa membela diri karena perasaan takut yang menyelimutinya.

Hingga para lelaki itu pergi meninggalkan dia dan Shafira, badan Misha masih membeku, tangan dan kakinya tiba-tiba menjadi kebas. Hanya lehernya saja yang dapat digerakkan dan berakhir dia menatap Shafira.

Tapi yang ditatap malah menghindari pandangan.

Oalah, jadi suara gedebum keras tadi adalah suara yang ditimbulkan temannya?

"Yaudah, Ra. Kamu disini aja, biar aku yang buang." Misha bertutur. "Sori ya, malah ninggal kamu sendiri."

"..."

Tidak mendapati tanggapan, berarti sang lawan bicara menyetujui idenya. Misha tidak mengerti apa yang dilakukan temannya tersebut hingga menimbulkan kesalah-pahaman. Lagipula, seingatnya Misha tidak mengatakan apapun pada Shafira kecuali dirinya yang berpamitan mau ke toilet. Kapan Misha menyuruh Shafira untuk menurunkan trolleynya? Meskipun ada perasaan tidak suka, jelas Misha tidak setega itu.

"Sini aku bantu."

Eh?!

Sejak kapan Shafira ada di belakangnya? Misha celingak-celinguk, waspada jika ada sosok lain di sekitar mereka dan khawatir akan menimbulkan kesalahpahaman lagi.

"Nggak usah, nggak usah!" Bisa-bisa kali ini Misha digebuki Adam!

"Nggak usah Shafira!" Misha menyentaknya, menghalangi tangan Shafira yang hendak meraih trash bag tersebut. Akibatnya, Shafira tersentak dan mundur selangkah.

"Kenapa?"

"Tanganmu nanti bisa kegesek lagi." Misha buru-buru menggulingkan trolleynya, lalu menyeret trash bag itu ke tempat pembuangan sampah daun-daun yang ada di ujung halaman.

Ketika selesai, Misha memperbaiki posisi trolleynya sendiri, mendorong sendiri, bahkan menarik ke atas tangga sendiri meskipun susah payah. Entah mengapa, ia jadi ingin melakukan semuanya sendiri tanpa ada campur tangan Shafira meskipun hanya secuil.

WAR OF HEARTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang