WARNING⚠️⚠️
[21+]
_______
Harapan Misha adalah menyelesaikan 6 bulan masa trainingnya dengan menyenangkan, memiliki teman-teman yang banyak dan tidak ada persaingan. Namun, itu adalah harapannya sebelum ia menginjakkan kakinya di hotel berbintang it...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
War Of Heart - Page 37 . .
"Kak Rei, lain kali aja ya kak? Badanku sakit-sakit, pengen cepet istirahat.." Misha berkata pelan di belakang Reinard yang tengah berganti baju di dalam ruang office. Ketika uniform yang dilepasnya telah tanggal, seketika pemandangan punggung besar Reinard menjadi fokus utamanya. Misha berdehem gugup, ingin mengalihkan pandangannya tapi terlalu berat untuk mengabaikan bahu lebar Reinard, bisepnya yang kuat serta punggungnya yang kekar. "Mm, tapi kayaknya sebentar juga nggak papa."
"Hmm?" Misha meremang mendengar kekehan berat Reinard. Setelah pria itu mengenakan kaos hitam polosnya dia berbalik badan, ia berjalan mendekati Misha yang duduk manis di belakang meja. Wajahnya terlihat geli ketika pria itu menunduk mengawasinya. "Sebentar aja? Tergantung nanti ngobatin kamunya cepet atau lama."
Misha yakin tujuan Reinard sebenarnya bukan hanya itu. Tapi tanpa berkata apa-apa dia mengangguk, menyetujui ucapannya.
"Yaudah ayo, yang lain udah duluan."
Misha berjalan di depan Reinard menuju motor besarnya saat lelaki itu menyentuh punggungnya, meminta Misha memimpin langkah. Tapi sebelum mereka meninggalkan ballroom, Reinard tidak lupa menutup pintu karyawan, sebab saat ini anak-anak shift sore tengah incharge di main building--atau tepatnya di ruang meeting Adipati tempat acaranya diadakan. Sedangkan Adam serta Arjuna sudah terlebih dahulu meninggalkan mereka beberapa saat lalu. Misha jadi curiga kalau Arjuna sebenarnya juga takut terkena bogeman Reinard.
"Kita makan dulu!" Seru Reinard di depannya. Misha mengangguk saja. Dia kira Reinard akan membawanya ke warung pecel lele atau warmindo seperti biasanya, tapi ternyata pria itu mengajaknya makan di warung tenda barbeque yang beberapa hari lalu Reinard kunjungi bersama Shafira. Padahal Misha tidak mengharapkan makan besar seperti ini, jaraknya lumayan jauh pula. Tapi karena Reinard berkata makanannya enak jadi Misha harus coba. Bukan hanya itu, tapi..