War Of Heart - Page 35
.
.
Misha menginjak bagian bawah trolley tersebut, kemudian mengangkat tubuhnya dan menarik bagian paling atas tumpukan kursi agar punggung benda itu setengah rebah pada bagian trolley yang berfungsi menahan kursi.
Misha mengerang, sekarang ia betul-betul merasakan bagaimana sulitnya. Dia harus menahan dengan satu tangan agar kursi itu tidak bergeser dan jatuh, serta satu tangan yang lain ia gunakan untuk mendorong trolley, sedangkan karena tumpukan kursi itu sangat tinggi pandangan Misha jadi terbatas. Dia sama sekali tidak dapat melihat jalan di depannya.
Kenapa sesulit ini? Perasaan, ketika dia melihat Reinard memindahkan kursi-kursi itu tidak sesusah ini.
"Berapa lagi?" Tanya Misha dengan suara terengah setelah meletakkan tumpukan kursi ke empat. Harusnya tinggal beberapa buah lagi, tidak perlu satu tumpuk penuh. Tapi karena untuk berjaga-jaga, akhirnya Arjuna meminta Misha untuk membawa setumpuk kursi lagi.
Gila! Anak banquet memang betul-betul kejam.
Akhirnya Misha setengah hati mendorong trolley dari pantry Senopati menuju Adipati. Sebenarnya jaraknya hanya beberapa meter, tapi karena beban yang dibawanya sangat berat, rasa-rasanya Misha sudah berjalan berkilo-kilo meter jauhnya. Bukan cuma itu, lengan Misha pun terasa nyeri karena terus bergesekan dengan besi dan kursi. Dia yakin saat ini lengannya yang masih belum sepenuhnya sembuh mengeluarkan sedikit darah.
Sialan!
Lihat saja Arjuna dan Adam, Misha akan mengadukan mereka pada Reinard!
Misha sedang mendorong trolley dengan hati-hati saat melewati pintu Adipati ketika dia mendengar ketiga laki-laki itu tertawa. Ia menginjak karpet tebal yang melapisi lantai ruang meeting agar tidak terseret saat trolley yang di dorongnya melewati garis pintu.
"Berat ini, cok! Jangan di lepas-jangan di lepas!"
Misha sempat mendengar Arjuna berseru panik sebelum kemudian sesuatu menghantam kursi yang di dorongnya dari depan--mungkin meja, atau seseorang. Misha tidak dapat melihatnya karena tertutup tumpukan kursi. Yang jelas, kerena kecerobohannya, ujung jemari Misha jadi terjepit antara besi trolley dan besi kursi.
Rasa sakit langsung menyengat di ujung jari-jemarinya. Namun belum sempat ia berteriak, trolley yang di dorongnya jatuh ke belakang membuat badan Misha ikut ambruk dan tertimpa tumpukan kursi-kursi serta trolleynya.
"Eh-eh?!"
"Misha!"
Untungnya akal sehat Misha masih bisa bekerja cepat. Sebelum tubuhnya dihantam tumpukan kursi yang berat, Misha meringkuk memiringkan badannya dan melindungi kepalanya dengan kedua lengan. Tidak akan ada luka lecet, tapi ia yakin setelah ini badannya akan terasa sakit. Begitu Arjuna dan Dio berhasil mengangkat kursi yang sebagian masih utuh menimpanya dan membiarkan sebagian yang tercecer, Misha langsung bangkit duduk. Ia hanya meringis sambil memenceti jarinya yang tadi terjepit.
"Eh, sori Sha--" Ucapan Arjuna terhenti saat Misha meliriknya tajam.
Sialan Arjuna, sudah dibantu malah membawa musibah! Semoga dia habis dipukuli Reinard.
"Bukan aku, sumpah!" Arjuna menunjuk-nunjuk Dio yang sedang menyingkirkan kursi di sekitar Misha lalu Adam yang tinggal menata meja--terlihat cuek dengan keadaan yang baru saja terjadi. "Mereka berdua penyebabnya! Ngajakin bercanda terus, akhirnya malah dorong-dorong aku padahal lagi ngangkat meja! Salahin mereka aja!"
"Kok aku?" Dio terlihat tidak terima. "Aku 'kan cuma bagian yang ketawa. Adam tuh!"
Kali ini sang tertuduh menoleh cepat seolah tidak terima, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Antara tidak ingin memperpanjang masalah atau memang dia yang menyebabkan Arjuna menabrak trolley Misha hingga gadis itu terjatuh tertimpa kursi.
KAMU SEDANG MEMBACA
WAR OF HEART
Aktuelle LiteraturWARNING⚠️⚠️ [21+] _______ Harapan Misha adalah menyelesaikan 6 bulan masa trainingnya dengan menyenangkan, memiliki teman-teman yang banyak dan tidak ada persaingan. Namun, itu adalah harapannya sebelum ia menginjakkan kakinya di hotel berbintang it...
