[CHAPTER 29]

2.8K 101 7
                                        

War Of Heart - Page 29
.
.


"Aku mau kamu. Sekarang," ulang Reinard. Matanya terlihat pekat penuh gairah.

Ketika gadis yang diinginkannya tersebut tidak kunjung memberikan reaksi, Reinard dengan seluruh rasa cemburu dan frustasi karena menginginkannya, menekan Misha dengan seluruh kekuatannya. Membiarkan Misha merasakan bukti gairah Reinard yang mengeras, tegak dan siap memasuki gadis itu-membuatnya terkesiap. Tubuhnya menegak dan Reinard dapat merasakan gadis itu gemetar.

"Kak Rei, nanti ketahuan." Kekasihnya itu mendaratkan tangan halusnya di dada bidang Reinard, dan justru memperparah keadaan.

Reinard mengerang, menyingkirkan tangan Misha lalu meraih pinggang gadis itu, mengangkatnya dengan begitu mudah lalu mendudukkannya ke atas meja. "Enggak bakal ketahuan kalau kita mainnya cepet,"

"Tapi-"

"Kamu tau sendiri ballroom jauh dari main building, kondisinya sepi, cuma ada kita berdua. Di sini juga enggak ada kamera CCTV, begitu pula di koridor karyawan. Enggak bakal ada yang tau ulah kita kecuali kamu emang berniat ngasih tau mereka, Sha." Reinard sudah tidak tahan lagi. Begitu ia selesai melepas apron yang dikenakan gadisnya, Reinard kembali mencium Misha. Menempelkan bibirnya ke mulut Misha yang halus dan lembab. Reinard mendesah.

"Kakk, ummh!" Misha tersentak kerena Reinard menarik paksa celana kerjanya begitu saja hingga terdengar bunyi robekan. Misha yakin sekarang dua kancing celananya berhamburan.

Belum cukup dengan tingkahnya, Reinard kembali meraba paha Misha. Pria itu meremas-remas pahanya sebentar sebelum menarik turun celana Misha, begitu juga dengan celana dalam-nya.

"Kak Reinard, plis kak. Aku takut." Misha sudah nyaris terisak, bibirnya membengkak karena habis di mulut Reinard. Namun di mata pria itu justru menggairahkan, dia suka melihat mata, hidung, pipi dan bibir Misha memerah karena ulahnya. Ditambah, gadis itu memohon-mohon pada Reinard, seolah meminta dia untuk  memasukinya dengan keras. Menghancurkan kewarasan mereka berdua.

"Diem dulu ya, Sayang?" Reinard dengan gesit membuka ikat pinggang dan celananya. Ketika dia berhasil menurunkan boxer hingga ke lutut, kejantanannya langsung menegak. Teracung bebas di depan Misha yang kakinya mengangkangi Reinard. "Udah keras banget, Sha."

Melihat wajah ketakutan gadis itu membuat Reinard menyeringai, lalu memajukan wajahnya dan mencium lembut kening Misha. Berusaha menenangkan gadisnya yang terisak dan takut. "Jangan takut. Kita lakuin ini cepet aja ya kalau kamu takut ketahuan."

Reinard memegang kejantanannya sendiri, mengarahkan ke kemaluan Misha yang rentan dan terbuka di hadapannya. Sekali saja Reinard mendorong masuk, Misha tidak bakalan sempat menolak. Tetapi Reinard dengan murah hati meminta izinnya. Melakukan segala cara untuk membujuknya dan menginginkan dirinya juga.

Ketika Reinard menggoda lipatan gadisnya dengan menggosok-gosokkan kepala penisnya di tubuh gadis itu, Misha menunduk-melihat bagaimana kerasnya milik Reinard beradu dengan kelembutan miliknya. Lalu dengan satu tangannya, Reinard mengangkat dagu Misha, membuat tatapan keduanya beradu.

"Kamu mau 'kan, Sayang?"

Pertahanan Misha sedikit goyah, dia tidak tega setelah beberapa saat yang lalu menolaknya, dan kini ketika Reinard menagihnya kembali, Misha merasa bersalah kalau harus menolaknya. Maka dari itu dia mengangguk pelan, mengizinkan sang pejantan mengambil apa yang dibutuhkannya meskipun dalam hatinya masih ada perasaan ragu dan takut. "Cepet ya Kak,"

"As you wish, Princess." Mendapat persetujuan darinya membuat Reinard tersenyum puas. Pria itu mencium bibirnya lagi agar Misha lebih rileks.

Lalu tanpa aba-aba Reinard memasukinya, mendorong kejantanannya begitu saja ke dalam celah sempit milik Misha membuat si pemilik mendesis sakit. "Kak Rei, pelan-pelannhh."

WAR OF HEARTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang