[CHAPTER 26]

3K 85 21
                                        

War Of Heart - Page 26
.
.

"Ah!" Rasanya hangat dan sangat basah. Benda lunak itu terus memainkannya hingga membuat Misha kelimpungan.

Ah, sial. Itu lidah Reinard. Reinard menjilat kewanitaannya?! Sejak kapan lelaki itu menjadi seliar ini?

Ah, masa bodoh, yang penting dia tidak menerobos keperawanannya, 'kan? Tapi jika Reinard benar-benar mengambil kesuciannya, bukannya itu tidak masalah? Misha akan dengan senang hati memberikannya jika Reinard mau. Jika Reinard senang, Misha yakin dia juga akan turut senang.

Fuck!! Pikiran Misha jadi tidak terkendali.

"Jangan keras-keras, Sha." Tiba-tiba wajah lelaki itu sudah di atasnya. Bibirnya mengkilat basah, Misha tidak bisa membedakan apakah cairan itu saliva Reinard atau cairannya. "Enak 'kan?"

"Umm," Misha bergumam kecil. Bukan untuk menjawab pertanyaan Reinard, melainkan karena ulah jemari lelaki itu yang memainkannya kembali dibawah sana. Bergerak halus naik-turun, menekannya keras lalu kembali mengaduknya.

"Kak Reiii, udah~." Rengeknya. Misha mencoba menyingkirkan tangan kuat lelaki itu, namun semakin Misha menjauhkannya, jemari Reinard malah semakin menekannya hingga membuat Misha meringis.

"Sakit?" Pria itu memandangnya sayu, tatapannya seolah menyesal membuat Misha kesakitan, namun tangannya tetap bergerak cepat dibawah sana.

"Enggak," Gadis itu menggeleng sambil memejamkan mata, berusaha sekuat mungkin menahan erangannya. Namun ketika satu jari besar Reinard berhasil memasukinya, sebuah erangan berhasil lolos, disusul dengan gerakan jari lelaki itu yang bergerak maju mundur perlahan. "Aahh."

Misha tahu tubuhnya menikmati sentuhan Reinard. Tentu saja, siapa yang tahan digoda sedemikian rupa oleh sosok tampan dan sejantan Reinard? Bahkan jika lelaki itu diam saja pun, hormon testosteronnya tetap menarik lawan jenis untuk mendekat.

"Jangan keras-keras Sayang." Bisik Reinard di atas wajahnya, membuat Misha membuka matanya. Mulutnya terbuka—susah payah dia berusaha mengumpulkan suaranya untuk menanggapi Reinard, tapi sesuatu yang besar mendesak di bawah sana—menyentuh keras kemaluannya dan berusaha mendorong masuk.

Tenggorokan Misha tercekat, dan hanya rintihan yang mampu dikeluarkannya. Dia setengah syok, namun yang lebih mendominasi pikirannya adalah suara-suara yang menyeruakkan kata 'ini kan maumu?'

Tapi apakah secepat ini pria itu akan menjadikan Misha seutuhnya milik Reinard? Tanpa sebuah pertanyaan, persetujuan, bahkan tanpa aba-aba tiba-tiba saja kemaluan pria itu sudah berusaha merobeknya.

"Ahk! Kak Rei!" Misha menjerit tertahan, kedua tangannya mendorong pinggul Reinard agar dia menjauh—sekaligus menghentikan aksi Reinard yang ingin menyatukan tubuh keduanya. Misha merengek, "Kak, jangan dulu."

"Hm? Kenapa Sayang?" Entah Reinard pura-pura bodoh atau tuli, yang jelas, Pria itu sama sekali tidak menghiraukan rengekannya dan terus berusaha mendorong miliknya masuk tanpa memperdulikan Misha yang terus mencoba mendorongnya menjauh.

"Sebentar aja ya Sayang? Enggak bakal sakit." Misha melihat pria itu meringis, seolah sedang terluka. Mungkin karena kakinya yang sakit karena ditendang-tendang, atau pinggulnya yang terus menerus dicubit keras olehnya, atau bisa jadi kesakitan karena punggungnya kini penuh bekas cakarannya.

"Shhh, tolong diem sebentar ya, Sha?" Pinta Reinard disela-sela kebisingan yang diciptakan Misha. Jemari besar pria itu mengelus sisi wajahnya, membuat Misha tersadar kalau air matanya mengalir. "Udah ya? Kamu percaya kan, sama aku?"

Dikesempatan lain, Misha pasti mengutuki setiap lelaki yang berbicara demikian untuk menarik simpati lawan bicaranya, namun sekarang situasinya berbeda. Kesadarannya perlahan terkikis oleh nada-nada lembut yang dikatakan Reinard serta perlakuan lembut yang diberikan untuknya.

WAR OF HEARTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang