War Of Heart - Page 39
.
.
"Kak Rei cuma bercanda 'kan, bilang kayak gitu tadi?" Cetus Misha. Matanya memandang Reinard yang berbaring di sisinya, mengelus sisi wajahnya dengan halus sementara tubuh mereka masih telanjang bulat di bawah selimut. Gadis itu tengah dilanda ketakutan luar biasa. Misha menyadari kalau Reinard berkali-kali membuang benihnya di dalam tapi dia tidak berani bersuara. Namun mendengar Reinard mengatakan hal gila beberapa waktu lalu, kesadaran Misha seolah ditarik paksa dari tidurnya dan kini mulai mempertanyakan kewarasan Reinard.
"Yang soal awasin kamu?"
"Bukan,"
Melihat Reinard yang menaikkan sebelah alisnya, membuat Misha menghela napas kasar karena merasa malu jika harus mengatakannya terang-terangan.
"Kak Rei tadi bilang bakal ngelakuin apa aja, bahkan seandainya kalau harus... Umm, hamilin aku. Kak Rei nggak bener-bener mikir begitu 'kan?" Selorohnya.
Usapan Reinard pada wajahnya terhenti. Mata pria itu menatapnya dalam saat Misha menunggu jawabannya selama beberapa saat.
"Kenapa kamu mikir kalau aku cuma bercanda? Denger, Sha. Apapun bakal aku lakuin kalau itu soal kamu. Bahkan kalau dengan menghamili kamu bisa bikin kamu terus disisiku, hal itu nggak sulit." Pernyataannya yang lugas dan terdengar seperti sumpah membuat Misha sesaat tidak bisa berkata-kata. Bukan terpesona, justru badan Misha dibuat merinding karenanya. "Adam itu lebih sinting dari yang bisa kamu bayangin--"
"Tapi," Misha memotong kalimat Reinard. Dia tidak peduli dengan kegilaan Adam yang disebut-sebut pria itu. "Kak Rei masih muda, masih kuliah. Apalagi sekarang lagi training, mau skripsian, pasti--"
"Kamu nggak tau keluargaku punya usaha apa, Sayang." Senyum Reinard mengembang, tangannya memainkan rambut Misha yang masih lembab dan dia tersenyum geli. "Ya meskipun cuma usaha travel kecil-kecilan dan tanam saham di beberapa tempat, tapi aku yakin nanti yang bakal mewarisi pasti aku... Ya karena aku anak tunggal."
Misha terdiam lagi mendengar kalimat Reinard yang begitu percaya diri. Kenapa pria itu begitu menganggap remeh statusnya sebagai pewaris tunggal? Bukankah itu artinya beban yang akan ditanggung Reinard sangat besar? Di masa depan, akan ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada pria itu, otomatis Reinard akan menarik diri dari kesenangan duniawi seperti ini dan fokus pada tanggung jawabnya.
Selain itu, bukan tidak mungkin jika orangtua Reinard telah menjodohkan putra tunggal mereka dengan anak dari kenalan atau kolega bisnisnya. Betul 'kan?
Sial! Misha cemburu.
"Tapi kalau kamu hamil anakku, sekarang juga kekayaan keluargaku bakal ditangan kamu." Seringainya menggoda Misha membuyarkan imaji-imaji yang membuat darahnya mendidih.
Plak!
Setelah beberapa saat menahan diri, Misha yang tidak tahan akhirnya memukul bahu Reinard--guna menyalurkan rasa cemburu bercampur kesalnya. Ia yakin sudah memakai segenap kekuatannya, namun respon pria itu tidak seperti yang diharapkan. Seringai Reinard justru kian lebar sebelum akhirnya tertawa sambil merengkuh tubuhnya agar ia peluk.
"Ngaco! Siapa yang mau nikah dini!" Suara Misha teredam dada bidangnya membuat artikulasinya tidak jelas. Saking sesaknya gadis itu nyaris menggigit dada Reinard jika saja lelaki tersebut tidak segera menjauhkan wajahnya. "Kak Rei lupa kalau aku masih sekolah juga? SMK loh, kelas dua alias kelas sebelas! Lulusnya masih lama."
"Emang kenapa? Kamu bisa homeschooling, nggak perlu capek-capek bersihin rumah juga, berapapun pelayan yang kamu mau bakal aku sediain, Sha."
"Kak Rei, please.." Misha memejamkan mata. Tidak sanggup membalas Reinard yang selalu ada jawaban membantah argumennya. Ketika akhirnya dia membuka mata, tatapan mata Reinard langsung menghunusnya. "Kak Rei bercanda 'kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
WAR OF HEART
Narrativa generaleWARNING⚠️⚠️ [21+] _______ Harapan Misha adalah menyelesaikan 6 bulan masa trainingnya dengan menyenangkan, memiliki teman-teman yang banyak dan tidak ada persaingan. Namun, itu adalah harapannya sebelum ia menginjakkan kakinya di hotel berbintang it...
