War Of Heart - Page 42
.
.
"Mulai sekarang pulang sekolah bareng aku, jangan sendiri." Cetus Adam begitu pelajaran terakhir hendak selesai. Felicia menoleh dan menatap Adam dengan pandangan tidak percaya sekaligus kesal. Tanpa bisa dicegah, suaranya ketus saat dia membalas Adam. "Maksud kamu? Emang kamu bisa bawa motor? Bawa mobil?"
"Bisa."
"Emang kamu sopir aku?"
"Aku bisa jadi apapun yang kamu mau. Temen, sahabat, sopir, pacar, bodyguard. Semuanya bisa asalkan kamu sama aku terus dan nggak nakal-nakal lagi kayak semalam..."
Felicia makin kesal. Bisa-bisanya sahabatnya ini sangat posesif. Bahkan perlakuan Adam melebihi orangtua Felicia. Bahkan semalam begitu orangtua Felicia pulang kerja, Mama Papanya tidak memarahinya, justru mereka bertanya uang jajan Felicia cukup atau tidak setelah tahu anaknya tersebut habis kerja kelompok dan jalan-jalan bersama teman-temannya. Karena orangtua Felicia juga tahu bahwa putri semata wayangnya tersebut nyaris tidak pernah bermain keluar apalagi bersama orang lain.
Gadis itu tidak membalas ucapan temannya. Begitu pelajaran usai dan guru keluar setelah selesai berdoa, Felicia cepat-cepat membereskan mejanya. Memasukkan buku dan bolpoinnya dengan asal ke dalam tas lalu buru-buru meninggalkan tas. Ia ikut berdesak-desakan dengan temannya yang lain untuk keluar dari pintu.
"Cia. Felicia!"
Argghh! Kenapa Felicia mendadak takut?
"Sori," Felicia langsung berlari begitu ia berhasil keluar dari pintu. Karena semua kelas keluar secara serentak, ia nyaris menabrak beberapa murid yang juga terburu-buru.
Di depan sana..
Dua puluh meter lagi dia melewati gerbang...
Felicia merasakan detak jantungnya makin menggila. Adrenalinnya terpacu di antara rasa kesal dan takut yang kian terasa.
Tin!
TIINN!
"AWAASS!!"
"AAAA!"
Sebagian murid yang ada disana berteriak histeris saat melihat dari arah parkiran khusus guru sebuah mobil melintas hendak keluar dari gerbang. Felicia tidak tahu kalau yang mereka teriaki adalah dirinya, namun dia sempat menyadari keberadaan mobil itu ketika jarak mereka sudah sangat dekat. Refleknya sudah sangat cepat, ia langsung bergerak lebih cepat. Namun bodohnya, Felicia malah mengambil langkah ke depan padahal jaraknya ke belakang lebih cepat untuk menghindar.
Dua detik sebelum tubuhnya menghantam mobil, tasnya tertarik ke belakang hingga tubuhnya melayang. Felicia terkesiap keras.
"Udah dibilang jangan nakal-nakal lagi sekarang malah mau bunuh diri. Udah bosen hidup?!" Teriak Adam yang tahu-tahu sudah berada di belakangnya, menahan tubuh Felicia yang nyaris jatuh dengan kedua lengannya yang keras. "Sadar Cia!"
Mobil berhenti mendadak. Tampaknya sang pengemudi juga terkejut hingga orang itu membuka kaca jendelanya, lalu melongokkan kepalanya keluar dan berteriak murka. "Siapa itu?! Kalau mau lari-lari jangan disini tapi di lapangan! Temennya dikasih tau!!" Lalu setelahnya orang yang memakai baju batik tersebut kembali menjalankan mobilnya diiringi dengan bunyi-bunyian suara klakson.
Felicia tersadar. Ia langsung menegakkan tubuhnya. Matanya memindai sekitar dan menemukan beberapa murid yang berjalan masih mengamatinya dengan pandangan campur aduk.
"Cia? Kamu itu ceroboh banget." Suara Adam mengambil alih pikirannya. Membuatnya mendongak menatap Adam meskipun dengan pandangan takut-takut. "Ini aja masih di area sekolah, coba kalau kamu udah diluar sana. Bukan cuma ketabrak mobil, tapi kamu bisa kelindes truk!"
KAMU SEDANG MEMBACA
WAR OF HEART
Fiksi UmumWARNING⚠️⚠️ [21+] _______ Harapan Misha adalah menyelesaikan 6 bulan masa trainingnya dengan menyenangkan, memiliki teman-teman yang banyak dan tidak ada persaingan. Namun, itu adalah harapannya sebelum ia menginjakkan kakinya di hotel berbintang it...
