Dia yang Sendiri (3)

362 61 7
                                        

Rooksoo berjalan mengitari air mancur taman sembari menyandung kan sebuah lagu yang nampaknya tak asing ditelinga Alberu. "Dimana aku pernah mendengar lagu itu ?" Gumamnya tanpa sadar.

"Ini cukup menarik" batin Rooksoo, ia yang tadinya mengitari air mancur kini mendudukkan diri pada kursi taman, alasan ia melakukan itu adalah untuk mengubah perhatian mereka semua.

Namun tampaknya sesuai dugaan.

"Astaga......" Fokus mereka semua tak pernah lepas darinya, untuk sekarang ini terlihat lucu bagi Rooksoo mengingat mereka semua begitu membencinya.

"Situasi disini terlalu tegang, bagaimana aku bisa menceritakan kisah terakhir"

"Kau yang membuat situasinya seperti ini. Dasar sialan" umpat Jihye.

"Aku mendengar umpatan mu itu, cucu dari keluarga besar angkatan laut korea" singgung Rooksoo dengan tatapan yang membuat Jihye bergidik.

Heewon berdiri dihadapan Jihye, seakan memberi perlindungan pada gadis itu, "Kami akan pergi jika kau hanya mau membicarakan hal lain" ucapnya tegas.

Helaan napas terdengar, "Apa kalian sendiri tidak bisa menyimpulkan dari apa yang aku katakan terakhir kali ?"

Menurut Rooksoo, dia sudah memberikan bocoran besar dari ucapannya terakhir kali, tapi apa tidak ada yang menyadarinya ? Terutama untuk kelompok Dokja.

"Kesampingkan Jonghyuk dan Sooyoung, sisanya paham kan apa yang kukatakan ?"

Kelompok Dokja saling bertatapan, bukannya mereka tak memahami, tapi mereka hanya belum sadar siapa korban pembunuhan yang Rooksoo maksud sejak awal. Kenapa juga Rooksoo mengatakan mengesampingkan Jonghyuk dan Sooyoung ? Apa mereka berdua tahu sesuatu ?

"Akan aku anggap kalian tidak paham" Rooksoo bangkit, sedikit melangkah maju ke arah kelompok Dokja, "Baiklah. Dari yang aku katakan, sudah jelas pelakunya adalah pelaku yang sama pada dua kisah tadi. Aku harus mulai dari mana ya ?"

Menunggu respon yang tak kunjung didapatkannya, Rooksoo tetap melanjutkan, "Pembunuhan itu terjadi belum lama ini. Hm...... tunggu, aku mencoba mengingat waktu pastinya"

Kedua tangan Jonghyuk mengepal kuat, dirinya mulai melangkah maju namun terhenti saat tangan Sooyoung terangkat di hadapannya, "Aku tahu apa yang akan kau lakukan, tapi aku minta kau untuk tenang. Kau harus sadar kalau kita berdua tidak berhak untuk berbicara sekarang" Bujuk Sooyoung, menarik perhatian yang lain.

"Sooyoung-ah, apa maksud-"

"Tiga tahun ? Empat tahun ? Sekitaran perhitungan kedua tahun ini. Lebih tepatnya saat Dokja masih duduk di bangku kelas 1 sekolah menengah pertama"

"Kelas satu ? Kenapa harus Dok-" Sangah menyadari sesuatu, "Tunggu, Jangan bilang kau......"

Kelompok Dokja terdiam, masing-masing dari mereka mulai menyadari siapa korban pembunuhan ini. Namun diantara mereka, ekspresi Jonghyuk dan Sooyoung lah yang sepertinya paling menarik perhatian Rooksoo.

"Kau..... tadi menyebut Dokja-ssi ? Kenapa ?" Sangah tak ingin menebak, lebih tepatnya ia tak ingin tahu, anak-anak juga tidak boleh tahu. Mereka akan tersakiti.

"Oh, Sangah-ssi sudah tahu kan ? Anggap saja seperti yang kau pikirkan. Lagipula mereka semua sudah bisa menyadari siapa korbannya kan ?"

Sangah terdiam, kedua matanya melebar kala mengingat sesuatu hal yang begitu menyakitkan terjadi di masa lalu.

"Sangah...... a-a-aku...... bahkan belum meminta maaf atas apa yang sudah terjadi selama ini....."

"Dokja, sebaiknya kau masuk kedalam. Lebih baik kau-"

Kumpulan Anak WarasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang