Mencoba (2)

369 51 9
                                        

Pada akhirnya, setelah keributan di dapur berhasil dikendalikan -dengan Myeongwoo mengusir Jonghyuk, Hyunjae, dan beberapa 'satwa liar' lainnya ke ruang makan sambil mengomel tak berhenti- makanan pun akhirnya tersaji di atas meja.

Aroma lezat memenuhi seluruh restoran. Kaldu rebusan mendidih di panci besar, daging panggang disajikan dengan sayuran segar, dan nasi hangat mengepul. Meja penuh sesak, hampir tak ada ruang kosong lagi.

"Kalau ada yang berani mengeluh soal rasa, kalian masak sendiri. Dengan keributan tadi kami-lebih tepatnya aku sudah susah payah menyelesaikan ini semua." Myeongwoo menatap semua orang dengan ekspresi 'kalau-berani-coba-aja'.

"Tidak, ini sudah sangat enak!" Yerim langsung berseru, takut kalau Myeongwoo berubah pikiran.

"Ayo makan, sebelum seseorang membuat kekacauan lagi," ujar Yoojin, mencoba memperbaiki suasana hati Myeongwoo.

Mereka pun mulai makan. Suasana kembali ramai, dengan tawa, percakapan bercampur suara sendok dan sumpit beradu.

Rooksoo duduk di antara Yoojin dan Cale, sedikit canggung pada awalnya dan banyak dari mereka tak menyukai keberadaan Rooksoo disini, terutama berada di dekat ketiga orang yang entah mereka ini paham atau tidak dengan situasi yang ada.

Tapi perlahan-lahan, semua itu memudar. Tawa mereka yang alami dan perhatian yang mengalir tanpa paksaan membuatnya merasa... sedikit lebih ringan.

Namun tetap saja, di tengah semua keriuhan itu, sesekali tangan Rooksoo menyentuh saku jasnya. Surat itu terasa semakin berat. "Sepertinya keputusan yang tepat untuk tidak membaca surat ini sekarang." pikirnya.

Di sisi lain restoran, Dokja duduk bersebelahan dengan Jonghyuk yang baru saja menyajikan masakan: semangkuk besar jjigae panas dan lauk rumahan yang menggugah selera.

"Masih bisa masak seenak ini, ya?" tanya Dokja sambil meniup sendok.

"Kalau tidak bisa, kau pikir aku bisa bertahan hidup saat Sooyoung menyajikan makanan gagalnya." Jonghyuk membalas dengan nada datar, tapi matanya mencuri pandang ke arah Dokja yang tertawa.

Sooyoung, yang mendengar ucapan Jonghyuk langsung menyenggolnya tepat saat pemuda itu ingin meminum air putih pemberian Dokja.

"HAHAHAHAHA!" gelak Sooyoung, dirinya segera bangkit dan menjadikan Dokja sebagai tameng perlindungannya, "Coba saja kau memukulku! Buuweeee!!!"

"Oi! Jangan libatkan aku!"

"Untuk sekarang jadilah tamengku, dia akan luluh jika melihat wajah bodohmu ini."

"Aku semakin tidak ingin terlibat. Jadi menjauhlah!" Dokja mencoba mendorong Sooyoung menjauh, namun gadis itu terus menempel padanya.

Disebelah mereka, Gilyoung dan Yoosung yang merasa sangat tergganggu karena Sooyoung mengambil tempat keduanya dengan segera membantu Dokja menjauhkan gadis itu.

"Yang disana cukup ramai, apa kau tidak ingin membantu Dokja?" Rooksoo dengan iseng bertanya.

"Justru aku yang seharusnya bertanya. Apa kau tidak ingin duduk disamping Dokja?" balas Cale sebelum menyeruput teh hangat yang disediakan oleh Beacrox.

"Sebelum aku sempat mendekat, Jonghyuk sudah membawa Dokja menjauh dariku. Untung saja aku mendapat tempat duduk di antara kau dan Yoojin."

"Jika bukan karena Yoojin, aku juga tidak akan mengizinkanmu duduk disampingku. Jadi jangan terlalu senang, itu sangat menggangu."

Walau ucapan Cale terdengar menusuk, Rooksoo tahu jika Cale sebenarnya peduli, hanya saja sikapnya yang terlihat acuh membuat Cale seperti orang yang sulit untuk dipahami.

Kumpulan Anak WarasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang