Menuju Masalah? (1)

86 17 3
                                        

Jika boleh jujur, Choi Han-tidak, mereka semua sama sekali tidak menyadari sejak kapan Cale mulai membayangkan sesuatu yang tidak ada. Namun satu hal yang mereka sadari, sang tuan muda lebih sering mengurung diri dalam kamar sejak kejadian malang di mansion keluarga mereka.

Kata dokter, berikan Cale waktu sendiri, interaksi dengan mereka mungkin saja akan membuatnya semakin menutup diri. Walau terdengar aneh dan bukan solusi yang begitu baik, mereka terpaksa melakukannya.

Karena Cale menolak berinteraksi dengan siapapun, kecuali dengan Dokter yang datang untuk memeriksanya.

Itulah mengapa mereka menunggu.

Menunggu sang tuan muda sendiri membuka pintu yang tertutup rapat, sejak kematian nyonya Jour Henituse, ibu kandung Cale.

Ada satu waktu, dimana Alberu dan Choi Han pernah melihat interaksi Deruth dengan dokter yang merawat Cale. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas, keduanya melihat tuan Henituse yang selalu terlihat tegas... kini terlihat tak sanggup menutupi kesedihannya.

"Choi Han."

"Alberu-nim?"

"Ayo, sudah giliran kita untuk menunggu Cale."

"... Baik."

Seminggu setelahnya, pintu kamar itu dibuka oleh sang tuan muda setelah sekian lama. Hal pertama yang mereka temukan adalah tubuh kecil yang menyedihkan nan rapuh, terlalu menakutkan untuk disentuh maupun didekati.

"... Ca-cale-nim? A-apa anda mau keluar kamar?"

"Cale-nim, apa anda baik-baik saja?"

Suara Lock dan Rosalyn menarik perhatian Cale yang sedari tadi tertunduk dan masih bersembunyi di balik pintu yang terbuka.

"Oppa...?"

"Hyung..."

Ohhiya, Cale sempat melupakannya. Dia punya sepasang adik kembar, saudara tiri lebih tepatnya, tapi mereka memiliki darah Deruth, sang kepala keluarga. Umur mereka berjarak satu tahun, Cale lebih tua, itulah keduanya menganggap Cale sebagai kakak.

Tapi...

Apakah Cale menganggap mereka sebagai adik?

"Ca-Cale... apa ada yang ingin kau butuhkan?"

Alberu bertanya karena Cale seolah tak menyadari kehadiran mereka. Namun Cale yang membuka pintu ini atas kemauannya sendiri, sudah cukup meredakan kekhawatiran mereka.

"... Alberu...-hyung?"

"...?! Ya! A-ada apa Cale?"

Cale memandangi mereka sejenak, lalu melihat kebelakang, entah apa yang dilihatnya, tak ada siapapun disana. Namun seakan yakin kehadiran sesuatu yang tidak ada itu, Cale mengangguk, lalu kembali menatap mereka.

"Ibu... ibu bilang aku harus menghabiskan makanan yang dibawa oleh Ron... terus, ibu bilang aku harus minta maaf juga pada ayah."

"Ibu?" nampaknya Alberu sadar akan sesuatu. "... maaf jika membuatmu tidak nyaman, tapi siapa yang kau bicarakan, Cale?"

Wajah Cale mengkerut, raut wajahnya seolah tak memahami pertanyaan aneh kakak sepupunya itu. "Tentu saja ibuku, siapa lagi? Apa kau tidak lihat dia?"

"Apa maksudmu... bibi Jour?" Alberu mendapat anggukan dari pertanyaan itu. "Ada di mana bibi Jour sekarang?"

"Disana, lihat." Cale membuka lebar pintu kamarnya, agar mereka semua bisa melihat sosok itu. "Kalian lihat? Ibu tersenyum, dia juga melambai ke arah kita. Ibu bilang dia juga ingin melihat si kembar."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 18 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Kumpulan Anak WarasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang