Yang terakhir ini cukup tentram.
Begitulah pikir Uriel diakhir penyampaiannya. Apa karena keluarga Henituse adalah keluarga terakhir di hari pertemuan orang tua ini?
Hening.
Dan Uriel tidak tahu harus mengatakan apa. Padahal Uriel selalu mengatakan 'anak anda sangat hebat' atau 'anak anda luar biasa' setiap sesi pertemuan terakhir pada setiap keluarga murid yang ia temui hari ini.
Tapi kenapa dengan keluarga yang satu ini? Uriel sendiri bingung.
"Hem... kau benar-benar melakukan yang terbaik selama berada disini. Berbanding terbalik dengan ucapan 'aku hanya ingin bersantai dengan damai' yang biasa kau katakan." suara berat dari kepala keluarga Henituse memecah keheningan.
"Mau bagaimana lagi? Aku terpaksa melakukan semua itu demi kedamaian yang aku inginkan." balas Cale, "apalagi orang tuaku sendiri mengirimkan masalah baru ke akademi ini."
"...sayang, ka-kalau soal itu..."
"Aku tidak bermaksud menyalahkan kalian," sela Cale, "aku yakin anak itu yang membuat kalian harus mengirimnya ke tempat ini."
"...ma-maafkan saya-ibu..."
Cale memandang Violan, sang ibu sejenak, lalu kembali menatap kedepan. "Jangan minta maaf kepadaku nyonya-i-ibu. Seharusnya permintaan maaf itu datang dari ayah, bukan kau."
"Eh? Kenapa jadi ayah?" Deruth menunjuk dirinya sendiri, seolah anggapan sang anak sangat menyakitinya.
Cale kembali memandangi Violan, wanita anggun yang entah sejak kapan telah ia anggap sebagai ibunya setelah melewati banyak hal. Mungkin terdengar aneh, tapi singkatnya seperti itu.
"Jangan salahkan ayahmu, sayang. Ibu jugalah yang mengambil keputusan itu."
"Kau selalu saja membelanya. Itulah mengapa dia selalu bergantung dan menempel padamu." ujar Cale yang tak mempedulikan sikap kekanakan sang ayah, "itu yang kembar katakan." lanjutnya.
"Si kembar sungguh mengatakan itu?" Tanya Violan dan mendapat anggukan langsung dari Cale. "Begitu, ya. Baik, ibu akan ingat untuk tidak terlalu memanjakan ayahmu."
"Senang mendengarnya, Bu."
"Tentu saja!"
"Kenapa kalian malah memperlakukan pak tua ini seperti anak kecil!"
Walau hubungan mereka hanya anak dan ibu tiri, tapi Violan mencurahkan seluruh kasih sayang seorang ibu pada Cale yang bahkan bukan anak kandungnya. Bagi Violan, Cale adalah anak sulung kebanggaannya, walau mereka tak memiliki hubungan darah sekalipun.
"Ehem." Deruth mencoba kembali bersikap layaknya seorang ayah sekaligus sebagai seorang kepala keluarga. "Maaf atas sikap kami sebelumnya, Uriel-ssi. Itu... sampai mana tadi?"
"Eh? Ah." Uriel dengan grogi mengacaukan tumpukan kertas yang beberapa saat lalu sudah ia rapikan. "Untuk pertemuan kali ini, hanya itu yang bisa saya sampaikan. Sebagai wali kelas, saya akan terus mengawasi perkembangan anak anda sekalian selama berada di akademi ini."
"Dan selama anda menjadi wali kelas kami." Sela Cale acuh, "kudengar uriel-ssi memaksa kepala sekolah agar bisa menjadi wali kelas kami, kan? Padahal tiap naik kelas tentu ada pergantian wali kelas juga. Tapi entah kenapa dan bagaimana anda tetap saja menjadi wali kelas kami."
"Ya... mungkin? Tu-tunggu, darimana kau mendengar semua itu?" Uriel tak mungkin mengatakan kalau semua tindakannya tidak lain dan tidak bukan adalah demi Dokja seorang.
"Bukan mendengar, tapi melihatnya langsung. Dari anda sendiri."
"Eh? Ah... hahahaha..."
Ya, walau sepertinya Cale dan anak-anak lain sudah menyadari hal itu namun memilih untuk tak begitu memikirkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kumpulan Anak Waras
FanfictionBagaimana jadinya jika ketiga tokoh utama beserta teman²nya di masing-masing cerita mereka berkumpul? Kim dokja, pemuda yang hobinya membuat orang lain khawatir dengan aksi dan ide nekatnya Han Yoojin, pemuda yang mungkin memiliki hobi yang sama den...
