Lebih Satu Identitas (1)

685 93 13
                                        

Langit orange menenangkan mulai tergantikan oleh langit gelap dengan berjuta titik-titik kecil putih serta bulan sabit indah menjadi pelengkapnya. Perubahan waktu itu menemani kedua pemuda yang sekarang berada di bagian paling atas sebuah rumah sakit. Ruangan terbuka yang sangat cocok untuk melihat keindahan malam itu.

"Terima kasih sudah membantuku membawa Yoojin ke rumah sakit" Dokja mulai membuka pembicaraan diantara kesunyian yang terasa sudah lama.

"Tidak masalah. Ini tidak seberapa dengan masalah yang telah kusebabkan pada Yoojin"

"Masalah yang kau sebabkan ? Tunggu, aku tidak paham--"

"Daripada itu, apa kau sudah menghubungi orang rumah mu ? Tanpa kau beritahu pun, aku tau kalau kau tadi tersesat. Mereka pasti khawatir. Lagipula kau sudah meminjam ponselku tadi untuk menghubungi keluarga Yoojin, pasti kau juga seharusnya menghubungi keluargamu kan ?"

"A-a-pa maksudmu ?! A-aku tidak mengerti......" Dokja mencoba mengelak, namun tatapan penuh selidik Barrow membuat Dokja tak mampu menahan gejolak kepanikannya. "Be-benar !!! Aku tersesat !!! Aku tadi tersesat !!! Selain keluarga Yoojin, aku juga sudah menghubungi keluargaku !! Kau puas sekarang ?!!"

"Sulit bagimu untuk menipuku. Kau itu mengingatkanku pada seseorang, jadi mudah bagiku untuk menebak" balasnya dengan senyum penuh kemenangan ? Tidak, lebih tepatnya senyum kejahilan. "Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi apa kau bisa berhenti mewaspadaiku ? Setelah apa yang aku lakukan, kau masih tidak percaya ?"

"Kau tenang saja, aku tau kau orang baik, jadi aku tidak akan mewaspadai mu lagi"

Itu benar, Kim Dokja perlahan menurunkan kewaspadaannya pada pemuda yang mengakui dirinya sebagai Barrow Henituse itu sejak Barrow memberi bantuan kepadanya secara sukarela pada orang yang bahkan baru ia temui.

"Te-terima kasih juga sudah meminjamkan ponselmu, padahal aku bisa saja meminjam telefon milik rumah sakit"

Barrow menatap Dokja yang cemberut itu sejenak. Tatapan mata Barrow yang melunak seakan-akan menyiratkan sebuah kesepian tersendiri yang entah bagaimana terasa begitu jauh.

"Tapi tidak kusangka, ponsel adalah benda yang sangat penting tapi kau malah menghilangkannya di saat kau juga menghilang di tengah ko--"

"AKKHH !!! Aku mengerti !!! Aku mengerti !!!" Wajah Dokja memerah menahan malu. Andaikan saja Barrow bukan orang yang membantunya, sudah Dokja berikan pukulan manis pada wajah tampannya itu.

Barrow tertawa lepas yang tentu mengundang kekesalan Dokja. Tapi sekali lagi, andaikan saja Barrow bukan orang yang membantunya, sudah Dokja tonjok itu wajah tampan yang entah sejak kapan terlihat lebih mengesalkan dari Jonghyuk.

"Kembali ke topik sebelumnya" cara berbicara Dokja berubah, mungkin terdengar lebih serius ? Namun Barrow sudah bisa menebak pembahasan apa yang akan Dokja permasalahkan.

"Apa hubunganmu dengan Cale ? Maksudku, apa hubunganmu dengan keluarga Henituse ?"

Ya, sebelum keduanya berada di tempat ini, Dokja sudah sempat menanyakannya, itu pada saat Dokja tengah menunggu hasil pemeriksaan Yoojin. Mungkin Dokja penasaran saja dengan identitas Barrow yang menurutnya masih mencurigakan itu.

"Kau belum menjawanya. Apa kau mencoba menghindar ?"

"Hahahaha......aku bukan mau menghindar"

"Lalu apa ?"

Tapi memang benar, Barrow bukan ingin menghindari pertanyaan itu, hanya saja, Barrow merasa bukan waktu yang tepat membahasnya. Ada beberapa alasan dan ada satu alasan yang paling ingin Barrow beri antisipasi.

"Hu......." Melihat Dokja yang dengan serius menunggu jawabannya, Barrow hanya bisa menghela kemudian melanjutkan, "Biarkan aku memperkenalkan diri sekali lagi..."

Kumpulan Anak WarasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang