Langkah kaki yang menghilang dalam ramainya suasana kota di pagi itu hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang tak seorang pun di dalam restoran hangat itu sadari-bahwa tawa mereka sedang diawasi, bahwa kebahagiaan mereka sedang dicatat... untuk dihancurkan, satu demi satu.
Sementara itu, di dalam restoran, suasana makan malam mulai mereda. Beberapa orang mulai bersandar ke kursi, perut kenyang dan senyum puas masih terlukis di wajah mereka. Yerim tertidur dengan kepala di bahu Yoojin, sementara si kembar Henituse mulai berebut potongan terakhir dari buah-buahan pencuci mulut.
Namun, Rooksoo masih terdiam. Tangannya yang menggenggam saku jasnya mulai bergetar pelan. Ia bisa merasakan denyut halus dari ponselnya-getaran satu pesan masuk. Sangat singkat. Nyaris tak terdengar.
[Pesan masuk: 1]
Dengan napas tertahan, ia mengambil ponsel dan membukanya perlahan.
Pengirim Tidak Dikenal:
> "Tidak aku sangka kau memilih dekat dengan mereka, Rooksoo. Kebahagiaan mereka yang kau coba lindungi itu akan berakhir sia-sia. Terutama untuk ketiga orang-"
Belum selesai ia membaca pesan tersebut, Rooksoo memalingkan wajahnya yang berkerut. "Tidak... aku harus segera menemukan keberadaan orang itu..." gumamnya hampir tak terdengar.
Jari-jarinya menggenggam ponsel itu erat, terlalu erat, hingga kuku jarinya memutih. Tatapannya membeku, dadanya berdegup kencang. Yoojin yang duduk di sebelahnya melirik sekilas.
"Kau baik-baik saja?" tanya Yoojin, pelan namun khawatir.
Rooksoo terdiam sesaat, lalu menutup layar ponselnya cepat-cepat. Ia tersenyum kecil, tipis, penuh usaha.
"Iya. Hanya... kekenyangan."
"Kekenyangan? Bukannya kau hanya makan sedikit?"
"Sungguh, aku sudah kenyang. Satu potong roti dan teh hangat di pagi hari saja sudah membuatku kenyang."
Yoojin tidak bertanya lebih jauh, namun ada kerutan tipis di alisnya. Ia merasa ada yang tidak beres, tapi dirinya tak ingin membuat Rooksoo tak nyaman dengan pertanyaan yang tidak perlu.
Di ruang belakang restoran di dekat dapur, Myeongwoo sedang membersihkan dan merapikan peralatan makan yang sudah digunakan. Jonghyuk, Choi Han, dan Hyunjae entah kenapa, ikut membantunya kali ini.
"Kalian tidak biasanya membantu tanpa diminta, dan aku sama sekali tidak mengingat kalau mereka bertiga meminta bantuan kalian" ucap Myeongwoo.
Mereka bertiga yang dimaksud Myeongwoo itu tentu saja Dokja, Cale, dan Yoojin. Ketiga orang yang saat ini membantunya tidak akan bergerak atau melakukan tindakan apapun jika bukan karena perintah pawang mereka.
"Entah kenapa... perasaanku buruk," jawab Jonghyuk, sambil menyeka sendok.
Myeongwoo terdiam, lalu menoleh. "Soal apa? Apa soal fakta yang Rooksoo katakan pagi tadi?"
Jonghyuk menatap keluar jendela, ke arah kegelapan gang kecil diantara gedung tinggi didepan restoran ini. "Seperti... sesuatu akan terjadi. Sulit untuk dijelaskan, tapi aku selalu merasa seperti ini jika ada bahaya yang mencoba mendekati Dokja."
"Perasaan macam apa yang kau maksud itu? Kau pasti hanya terlalu khawatir." bukannya Myeongwoo tidak mengerti, hanya saja dia terkadang mendengar hal serupa dari Hyunjae dan selalu saja Yoojin berada di situasi yang sulit disaat itu juga.
"Ya, aku paham perasaan itu." Sampai Hyunjae bersuara dengan pandangan yang mengarah ditempat serupa Jonghyuk menatap, "Dan sesuatu yang akan terjadi itu seperti masalah yang sangat besar." lanjutnya sambil menyerahkan tumpukan piring pada Myeongwoo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kumpulan Anak Waras
FanfictionBagaimana jadinya jika ketiga tokoh utama beserta teman²nya di masing-masing cerita mereka berkumpul? Kim dokja, pemuda yang hobinya membuat orang lain khawatir dengan aksi dan ide nekatnya Han Yoojin, pemuda yang mungkin memiliki hobi yang sama den...
