Mencoba (1)

407 55 7
                                        

Saat mereka berjalan bersama menuju restoran milik keluarga Myeongwoo, tawa dan obrolan ringan terus terdengar dari mereka, sebagian besar berasal dari anak-anak yang sudah tak sabar ingin mencoba masakan Jonghyuk.

Dan lebih menyenangkannya lagi, mereka tidak perlu bayar pakai uang pribadi, kan? Karena ada Cale yang siap menanggung semuanya.

Namun di antara tawa itu, Rooksoo berjalan sedikit lebih lambat dari yang lain. Langkahnya tenang, tapi pikirannya tidak. Entah yang lain menyadarinya atau tidak, namun ada kegelisahan tipis yang tersirat dari tatapan datarnya itu.

Surat yang sebelumnya ia terima terasa begitu berat di dalam kantong jasnya. "Aku penasaran, apa isinya," gumamnya pelan.

Tak disangka, seseorang menyahut. "Kalau kau penasaran, kenapa tidak membacanya sekarang saja? Mungkin isinya cukup penting bagimu."

Suara itu datang dari samping. Cale.

Rooksoo mengernyit, "Kupikir kau sibuk menghindar dan tidak ingin berbicara denganku."

Cale mendengus pelan, "Aku hanya tidak mau memperkeruh suasana. Tapi sejujurnya, aku juga ingin tahu. Siapa orang yang cukup misterius untuk mempercayakan sesuatu pada kita bertiga, tapi tidak langsung padamu? Kalau dianggap kebetulan rasanya ya... kau tahu sendirilah."

Rooksoo memutar pandangan, lalu menarik napas dalam. "Itu justru yang membuatku ragu membukanya sekarang. Kalau ternyata isinya... hal yang tidak ingin kalian tahu? Atau mungkin hal yang tak seharusnya kalian tahu? Manapun dari itu, kalian pasti akan menjauhiku."

Cale terdiam sejenak. "Aku tidak mengerti kenapa kau mengatakan hal seperti itu. Tapi asal kau tahu kami ini bukan orang yang mudah dipaksa menjauh tanpa alasan, Rooksoo."

"Bagaimana jika itu hal yang menyakitkan?"

"Terutama kalau itu menyakitkan," jawab Dokja, tiba-tiba muncul di sisi lain Rooksoo, ikut dalam percakapan tanpa diundang.

Yoojin sedikit melambatkan langkahnya hanya untuk sekedar menyesuaikan langkah ketiganya dan melempar senyum kecil, "Mungkin kau belum tahu, tapi kami semua ahli dalam menahan luka masing-masing? Ya... anggap saja seperti itu."

Mereka berjalan beriringan dalam keheningan yang dalam, bukan karena canggung-tapi karena sesuatu hal yang nampaknya tak ingin mereka lanjutkan.

"Aku akan membacanya nanti. Setelah makan. Aku janji." ujar Rooksoo akhirnya, "Tapi karena surat ini ditujukan padaku, aku hanya akan membacanya sendiri."

"Dokja, jangan coba-coba mengetahui surat pribadi orang lain," ucap Cale, nadanya tenang tapi tegas. Seolah sudah tahu persis apa yang sedang dipikirkan Dokja.

Dokja tersenyum kecil, sedikit malu. "Ketahuan, ya?"

Cale mendengus pelan, menyilangkan tangan di dada. "Wajahmu terlalu jujur untuk rencana diam-diam semacam itu."

"Sungguh? Tapi kenapa kau malah terjebak dalam rencanaku saat pemilihan ketua osis waktu itu?" tanya Dokja sedikit mengganggu Cale.

"Itu karena aku belum tahu bagaimana mengatasi dirimu. Jadi jangan pikir aku akan terjebak dengan rencana aneh milikmu lagi." balas Cale yang benar-benar tak ingin mengingat kebodohannya waktu itu.

"Yaa!! Sudah cukup!! Kita akhiri pembicaraan tentang masa lalu ini." ujar Yoojin segera menengahi.

"Sudah aku duga kalian benar-benar lucu dan banyak tingkah saat bersama." senyum kecil kini terlihat pada wajah Rooksoo yang membuat Dokja dan Yoojin sempat terpana akan senyum langka itu. "Ha.... sekarang aku mulai lapar." lanjutnya.

"... Ka-kalau begitu, kita pastikan makanan hari ini cukup enak untuk menguatkan mentalmu," Yoojin menyenggol bahu Rooksoo.

"Dan cukup mahal untuk membuat Cale bangkrut. Walau sepertinya uang yang dia miliki tidak akan habis sih." tambah Dokja, melirik ke arah Cale yang langsung memutar bola mata.

Kumpulan Anak WarasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang