Budayakan Follow dulu sebelum baca ya🥰
21+
"Aku menyukainya ketika tubuhnya bergetar karena rasa takutnya kepadaku...
Aku menikmatinya ketika wajahnya berubah putus asa memohon kepadaku...
Aku menginginkanya dan akan kupastikan dia berada dalam g...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Read!
---
Rasa perih di tubuh intinya masih terasa, karena ini pertama kalinya melakukan hal yang begitu intim,panas membara sampai ke tulang. Meskipun Nevan melakukannya dengan lembut, dan memperlakukanya dengan baik, tapi ada hal yang tidak dia mengerti tentang pria itu. Nevan dengan segala hal misteriusnya, membuat Spring bertanya-tanya sebenarnya apa tujuan Nevan sebenarnya. Spring tidak mau berekspetasi tinggi tentang Nevan, dengan dia sudah membantu perusahaanya saja itu sudah cukup. Seperti apa masa lalu pria itu dengan wanita, sampai dia menolak memiliki seorang anak. Padahal, tidak masalah jika Spring hamil anaknya.
"Terlalu misterius dan susah ditebak," gumam Spring, sambil memoles lipstik nude YSL miliknya. Spring menatap kaca, hari ini dia memakai gaun midi bergaya elegan dengan desain fitted dan bahan rajutan. Gaun berwarna krem bergaya klasik yang dihiasi garis hitam, mampu memberikan sentuhan vintage dan mewa. Terlebih lagi wanita bersurai itu menguncir kuda rambut cokelat panjangnya. Make up tema starwberry yang membuat wajahnya terlihat segar. Hingga terbukalah pintu kamar yang menunjukkan tubuh besar Nevan, membawa sebuah kotak sepatu keluaran Channel.
"Pakai ini," Nevan menyodorkan sepatu slingback, yang warnanya sangat pas dengan gaun Spring. Sepatu yang terlihat elegan dan sangat cocok dengan penampilan Spring pagi ini.
"Terima kasih,"ucap wanita itu pelan, lalu memakai sepatu itu, dan tanpa sadar membuat Nevan menyunggingkan senyum tipis. Istrinya terlihat menarik dengan dandanan pagi ini. Sayang sekali, tadi malam Nevan harus menahan hasratnya lagi karena wanita polos ini tidak bisa mengimbangi kegilaanya terhadap tubuh Spring. Maunya dia tetap ingin melakukannya sampai pagi, tapi melihat wajah kelelahan istrinya Nevan sedikit tidak tega. Nevan juga tahu bahwa istrinya adalah perawan.
"Ayo kita pergi sekarang," ajak Nevan yang kini menggandeng tangan Spring, membuat wanita itu sedikit gugup. Jujur saja dia belum terbiasa dengan sikap Nevan yang tiba-tiba seperti ini.
"Kita mau ke mana?" tanya Spring pelan, akan tetapi Nevan tidak menjawab, melainkan mengertkan genggaman tangannya.
"Ke tempat yang indah," jawabnya singkat.
--
Nevan mengajak istrinya melihat pemandangan laut mediterania, dengan yacht mewah miliknya, yang berada di atas air dengan cuaca pagi hari yang begitu sejuk dan cerah. Kapal ini memiliki desain modern dan elegan, dengan lampu-lampu yang menerangi bagian tangga dan area dek belakangnya, menciptakan suasana hangat dan berkelas.
Yacht ini memiliki beberapa tingkat, termasuk dek utama yang luas dengan area duduk yang nyaman, dilengkapi dengan furnitur mewah. Terdapat antena dan perangkat komunikasi di bagian atas kapal, menandakan teknologi canggih yang melengkapinya. Jika Nevan sedang tidak di Monako, yacht miliknya ini akan disewa oleh billioner terpandang di negara ini. Otak bisnisnya tidak bisa dipungkiri, bahkan dia bisa memanfaatkan barang mewahnya untuk menghasilkan uang.
Spring sekali lagi merasa kagum dengan design yacht milik suaminya ini, sudah dipastikan rancangan ini pastinya merogoh biaya yang tidak sedikit.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya," sapa si Kapten yang biasanya menjalakan operasi Yatch.
"Pagi Brook," balas Nevan, menggiring istrinya masuk ke dalam Yatch.
Spring dan Nevan duduk di sofa mewah, yang diletakan di tengah sehingga penumpang bisa menikmati keindahan pemandangan laut. Tidak lama, sang kapten menjalankan yatch tersebut.
"Silahkan menikmati wine yang kami persembahakan ini Tuan dan Nyonya," ujar seorang pelayan dengan sopan, sambil menuangkan wine merah di gelas kristal mereka berdua.
"Terima kasih," ucap Spring lembut, manik cokelatnya kembali menatap keindahan laut mediterania.
Laut Mediterania adalah bentangan perairan yang memukau, dikenal dengan warna biru safirnya yang jernih dan sejarah panjang yang menghubungkan berbagai peradaban besar. Laut ini dikelilingi oleh tiga benua—Eropa di utara, Afrika di selatan, dan Asia di timur—menciptakan suasana yang kaya akan budaya, tradisi, dan arsitektur bersejarah di kota-kota pelabuhan di sekitarnya.
Angin lembut yang berhembus di sepanjang pantainya membawa aroma asin laut bercampur dengan wangi tumbuhan aromatik seperti rosemary dan lavender yang tumbuh subur di kawasan ini. Di siang hari, airnya berkilauan di bawah sinar matahari, sementara pada malam hari, permukaannya memantulkan sinar bulan dan lampu-lampu kota pesisir, menciptakan suasana magis.
Laut Mediterania tidak hanya indah secara visual tetapi juga menjadi jalur kehidupan, dengan kapal-kapal layar, yacht mewah, dan perahu nelayan yang bergerak di antara pulau-pulau indah seperti Santorini, Corsica, dan Sardinia. Di sepanjang garis pantai, terdapat tebing-tebing menjulang, pantai berpasir putih, dan teluk-teluk tersembunyi yang sempurna untuk beristirahat atau menjelajahi dunia bawah laut yang kaya dengan terumbu karang dan kehidupan laut.
Angin laut membuat rambut Spring bergerak ke belakang, hingga terlihatlah leher jenjang wanita itu. Spring sejenak menikmati keindahan laut ini, melupakkan rasa sakitnya akibat sikap Nevan tadi pagi.
"Sepertinya kau menyukai laut," komentar Nevan menatap lekat istrinya, lalu menyesap wine merah yang tadi disajikan oleh pelayan.
Spring memandang suaminya, begitu tajamnya cara Nevan melihatnya, kemudian dia tersenyum. "Tentu saja, siapa yang tidak suka laut?Apalagi laut seindah ini," lontar Spring sedikit riang.
"Mendekatlah kemari Rose," titahnya dengan suara serak, membuat Spring membeliakkan mata.
"Aku tidak akan menidurimu di sini, jika itu yang kau pikirkan," lanjut Nevan menggerakkan jari telunjuknya, mengisyaratkan Spring untuk mendekat.
Spring cemberut dan malu mendengar ucapan suaminya yang tidak ada filter, terlalu vulgar. Namun, akhirnya di menggeser tubuhnya semakin mendekat kepada Nevan, hingga pria itu menariknya dalam pelukan. Tangan besarnya memeluk pinggang mungil Spring dari belakang, dagunya dia tumpu di bahu sang istri, sehingga merasakan tubuh istrinya yang msih saja tegang.
"Kenapa tubuhmu selalu tegang, jika kusentuh?" bisik Nevan tepat di telinga Spring, membuat wanita itu menghela napas pendek.
"Entahlah, karena aku sejak dulu tidak pernah berdekatan intim dengan lawan jenis," jelasnya pelan, dia ingin santai tapi tidak terlalu bisa karena tubuhnya selalu tegang ketika Nevan berada di sekitarnya.
"Kau wanita istimewa, bisa menjaga kehormatanmu sampai menikah," gumam Nevan membuat Spring tersenyum, meskipun suaminya tidak bisa melihatnya.
"Karena prinsipku sejak dulu adalah bisa menempuh pendidikan tinggi," balas Spring jujur.
"Nev, apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Spring pelan-pelan, dia tahu jika topik ini sangatlah sensitif. Namun, sekarang dia adalah bagian dari keluarga Nevan, jadi dia ingin tahu tentang orang tua Nevan.
"Hmm ... kau ingin menanyakan apa?" deham Nevan masih menikmati aroma istrinya memeluk erat dari belakang, sambil memejamkan mata.
"Ceritakan tentang orang tuamu," Spring bertanya cepat, membuat manik hitam Nevan terbuka. Alis tebalnya mengerut tidak suka. "Mereka sudah mati," jawabnya dingin, lalu melepas pelukannya dan menenggak wine itu hingga tidak bersisa.
"Jangan lagi membahas orang yang sudah mati," lanjutnya lalu memeluk istrinya kembali, menatap datar laut yang terasa hampa meskipun pemandangan ini begitu indah .
Spring tidak mau banyak bertanya lagi, karena sepertinya ini bukan waktu yang tepat.