Chapter 22

387 73 12
                                        

"Kenapa aku tidak merasakan apapun saat menyentuhnya?"

Pagi-pagi sekali, Jeongyeon duduk di lantai bawah sambil terus meraba-raba bagian belakang lehernya. Dia begitu penasaran hingga tidak menyadari tatapan orang-orang disekitarnya.

Sunmi hanya bisa menatapnya dengan aneh dan memperingatkan para pelayan untuk menutup mata akan tingkah konyol tuannya.

"Aneh."

Jeongyeon menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan wajah muram sembari mengingat kembali apa yang dirasakannya tadi malam.

Yang jelas tangan Mina terasa sedikit dingin saat menyentuh bagian belakang lehernya, membuatnya merinding dan menciptakan sensasi geli serta perasaan tidak nyaman.

Setelah memikirkannya, dia kembali mencoba menyentuh lehernya. Kali ini dengan berbagai macam sentuhan dari yang lembut, perlahan-lahan hingga usapan kasar.

Tapi, tetap saja tidak ada satupun yang memberikan perasaan yang sama seperti yang dilakukan Mina tadi malam.

Jeongyeon merasa bingung dan menjadi semakin khawatir di dalam hatinya. Dia kemudian mencari informasi di ponselnya dan segera mendapatkan jawabannya.

Rasa geli saat disentuh orang lain berbeda dengan saat disentuh diri sendiri karena otak memprediksi sentuhan dari diri sendiri.

Setelah membacanya, dia menghela napas dan akhirnya merasa lega, "Oh, jadi begitu. Syukurlah, aku pikir itu terjadi karena aku menyuk..."

Jeongyeon segera berhenti dan menggelengkan kepalanya. Sejujurnya, sejak dia memimpikan Mina, dia mulai merasa gugup ketika bertemu dengan wanita itu.

Dia mulai ketakutan karena dia merasa bahwa ini bukan seperti dirinya dan khawatir jika ada yang salah padanya. Ditambah dengan kejadian tadi malam yang membuatnya semakin merasa tidak nyaman.

Tapi, sekarang dia tidak perlu khawatir lagi. Dia hanya salah paham sebelumnya dan terlalu berpikiran buruk.

Tsk.

Ini semua jelas salah Mina.

Jika sejak awal dia tidak menggodanya, maka dia tidak akan merasa seperti ini. Wanita itu benar-benar menyebalkan, apalagi prilaku tidak bertanggung jawabnya itu.

Dengan seenaknya membuat kekacauan dan kemudian malah kabur begitu saja, tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Hah....

Tapi, setidaknya sekarang apa yang ditakutkannya tidak terjadi.

Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Jeongyeon berhenti menyentuh lehernya dan tepat pada saat itu, Mina yang sudah berpakaian rapi turun dari lantai atas.

Dia tidak menyangka Jeongyeon ada di lantai bawah saat ini, begitu pun dengan pihak lain. Mereka berdua sama-sama tercengang saat bertemu dengan satu sama lain.

"........."

Ini bukan pertama kalinya Jeongyeon melihat Mina berpakain formal, tapi entah kenapa, dia merasa bahwa Mina saat ini memancarkan kecantikan yang cerdas dan cakap dalam balutan blazer.

Dia memiliki perawakan yang tinggi dan ramping, pinggangnya kecil serta dada yang tidak besar atau pun kecil.

Hari ini, dia mengenakan blazer abu-abu muda di bagian luar dan kemeja sutra biru tua di bagian dalam.

Kerah kemeja longgar dan dihiasi kalung platinum. Rok sempit memeluk bokongnya yang kecil dan betisnya yang dibungkus stoking tampak tipis dan panjang.

Pakaian ini terlihat biasa saja, tapi tampak luar biasa saat dikenakan oleh Mina. Apalagi stoking itu menambah kesan pantang menyerah dan sensualitas.

Jeongyeon menatapnya lama, jelas terpesona. Dia berpikir bahwa Mina sungguh cantik sekali. Tapi, dia hanya bisa menyimpan kata-kata itu dalam hati.

Where am i?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang