"G-gay?"
"Ya..."
Sana memperhatikan keterkejutan di wajah Jeongyeon dan mengambil kesempatan itu untuk menutup jarak.
"Itulah yang kudengar dari beberapa orang..." lalu menjulurkan lidahnya dan menjilat leher Jeongyeon.
Srttt...
Tubuh Jeongyeon seketika bergetar saat benda lembut nan basah itu menyentuh kulitnya.
"Jangan bicara omong kosong!"
Jeongyeon mendorong Sana menjauh darinya dan mengusap lehernya yang basah dengan punggung tangannya.
"Dan berhenti menggodaku! Aku sudah punya istri..."
"Hahahaha..."
Sana memandangi Jeongyeon lebih dalam dan kemudian memegangi dagunya, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
"Punya istri atau pun tidak sama sekali tidak masalah bagiku. Sudah dua hari aku tidak bersenang-senang. Apa kau ingin menghabiskan waktu bersamaku malam ini?"
Sana hanya menggodanya, dia tidak benar-benar ingin terjadi sesuatu antara dirinya dan Jeongyeon.
Bagaimanapun, dia tahu karakter ayahnya. Meskipun dia membiarkan dirinya bermain sesuka hati, pastinya tidak akan menyenangkan jika dia tidur dengan suami orang. Apalagi suami itu dari wanita terkaya dan paling berpengaruh di kota ini.
Sana tidak berniat serius dengan Jeongyeon. Dia hanya merasa Jeongyeon yang kehilangan ingatan sangat menarik hingga membuatnya ingin terus menggodanya seperti sebuah pil ekstasi.
"Aku bilang aku tidak mau..."
Jeongyeon berbalik dan menatap Sana dengan dingin. Dia memiliki bola mata berwarna coklat yang membuatnya sangat cerah ketika melihat lebih dekat.
Ini pertama kalinya Sana di tolak, tapi anehnya dia tidak merasa kesal. Malah dia semakin penasaran mengapa Jeongyeon tidak tertarik padanya dan langsung menolaknya.
Apa mungkin gosip tentang dirinya Gay itu memang benar?
Tapi sekarang dia menderita amnesia?
Yoo Jeongyeon, sungguh sangat menarik.
Sana tersenyum miring lalu berbisik di telinganya, "Kau tidak mau? Tapi aku sangat ingin. Wangimu saja sudah membuatku basah. Kau dan aku adalah tipe orang yang sama. Dalam hal ini, bermain bersama bukanlah masalah besar, kan?"
Telinga Jeongyeon memerah setelah mendengar kata-katanya yang ambigu dan dia merasa sedikit marah.
Tipe orang yang sama?
Dia paham bahwa Sana menempatkan dirinya dalam kategori yang sama dengannya. Yaitu, seorang playboy yang sudah berpengalaman dalam pertempuran satu malam.
Jeongyeon semakin tidak yakin apakah kata-kata Sana sebelumnya dapat dipercaya atau tidak. Pertama dia menyebutnya seorang gay dan sekarang dia bilang mereka adalah tipe yang sama.
Sana pasti sedang mencoba membodohinya, dia tahu bahwa dia kehilangan ingatan dan memanfaatkan ketidaktahuannya.
"Ah, manis sekali. Apa kau malu?"
Sana memperhatikan telinga Jeongyeon memerah, membuatnya semakin bersemangat untuk terus menggodanya. Ini benar-benar pengalaman baru baginya.
Dia tidak tahu bahwa pria yang dulunya begitu menyebalkan dan bajingan bisa menjadi sangat malu ketika digoda.
Sana ingin mengatakan sesuatu yang lain, tapi Jeongyeon tiba-tiba mendorong bahunya dan menjauh darinya.
"Aku akui kau cantik, tapi kita berdua tidak cocok satu sama lain..." Jeongyeon berkata dengan sikap sok, meski telinganya sudah memerah, wajahnya masih terlihat tenang dan acuh tak acuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
FanfictionJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
