Mina duduk di balkon, menyesap kopinya, matanya mengamati pemandangan halaman rumahnya yang luas.
Pepohonan yang rimbun, bunga-bunga di taman dan pelayan yang berlalu lalang memberikan kedamaian setiap pagi ketika dia bangun dan menghadapi hari yang akan datang.
Namun, anehnya pagi ini dia tidak merasakan hal yang sama. Ketika dia melihat pemandangan itu, dia akan termenung dan pikirannya mulai melayang kemana-mana.
Sedari semalam, dia masih memikirkan tentang dunia lain yang disebutkan oleh Jeongyeon, membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Bagaimana kehidupan di dunia yang disebutkan oleh Jeongyeon itu?
Apakah sama dengan dunianya saat ini atau berbeda?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus muncul di kepalanya dan setiap kali dia memikirkannya, perasaan bersalah akan membuncah dihatinya.
Jika Jeongyeon yang sekarang bukan Jeongyeon yang asli, berarti selama ini dia telah menyakiti orang yang salah.
Terlalu banyak hal jahat dan kata-kata kasar yang telah dia lontarkan pada Jeongyeon, membuatnya gundah dan tidak nyaman.
Pantas saja waktu itu Jeongyeon tampak sangat terluka ketika dia menuduhnya dan berkata yang tidak-tidak padanya.
"Mina, apa yang kau lakukan?" wajah Momo tiba-tiba muncul di layar laptopnya.
Mina memaksakan senyum, mengangkat cangkir kopinya dan menunjukkannya, "Tidak ada, aku hanya sedang minum kopi. Bagaimana denganmu? Ini sudah hari ketiga sejak kau kembali dan kau bilang, kau sangat sibuk hingga belum bisa berkunjung. Tapi, kenapa kau tiba-tiba punya waktu untuk menghubungiku?"
Mina tidak ingin terlihat frustasi di depan teman-temannya dan jelas aktingnya sangat bagus.
"Aku meneleponmu karena aku merindukanmu. Beberapa pekerjaanku sudah selesai dan aku punya waktu luang sekarang." kata Momo santai, sama sekali tidak menyadari kedipan mata Mina yang tak berdaya.
"........"
Hening sejenak dan Momo berbicara lebih dulu, "Mina, bagaimana kalau kita makan malam bersama malam ini? Aku ingin makan di restoran tempat kita sering makan dulu."
Mina hendak menyetujui ketika dia tiba-tiba mengingat Jeongyeon, jadi dia bertanya dengan hati-hati, "Apa kau keberatan jika aku membawa Jeongyeon bersamaku?"
Awalnya Mina berpikir Momo akan menolaknya, namun dia tidak menyangka Momo akan langsung menyetujuinya dan bahkan tampak lebih bersemangat.
"Tentu saja tidak. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku benar-benar penasaran, apakah dia benar-benar berubah seperti yang kau ceritakan padaku."
".........."
Mina tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Setelah membuat janji dengan Momo, Mina tiba-tiba merasa ada hal lain yang dia nanti-nantikan. Dia membaca dengan tenang di kamarnya kemudian bersiap-siap untuk pergi bekerja.
.
.
.
.
.
Waktu berlalu dengan cepat dan ketika dua jam sebelum waktu yang di jadwalkan untuk makan malam, dia naik ke atas dan mengetuk pintu kamar Jeongyeon.
"Ada apa?"
Ekspresi Jeongyeon menjadi gelap ketika melihat Mina berdiri di luar. Dia masih marah karena kejadian kamera pengawas sebelumnya.
Mina menyadari hal ini, tapi dia tetap tanpa ekspresi, namun bertanya dengan nada yang sangat lembut, "Aku ada janji makan malam dengan temanku. Kau mau ikut?"
Meskipun Jeongyeon masih kesal pada Mina, namun setelah mendengar hal ini, dia tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan itu.
Dia telah terkurung di rumah dan tidak melakukan apapun. Makan malam yang ditawarkan Mina tentu sangat menarik minatnya dan apalagi ini berkaitan dengan makanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
FanfictionJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
