Mina memperhatikan wajah Jeongyeon yang buruk dan tidak bertanya sepatah kata pun tentang nyonya Kim di sepanjang perjalanan.
Setelah tiba di rumah, Jeongyeon tidak menemani Chaeyoung bermain dan hanya membiarkan pengasuh untuk menemaninya lalu pergi ke kamarnya dengan dalih ada urusan.
Sebenarnya setelah pulang, Jeongyeon menunggu Mina bertanya padanya tentang nyonya Kim dan telah menyiapkan beberapa jawaban di kepalanya.
Tentunya jawaban-jawaban itu tidak ada yang ada yang berkaitan dengan identitas aslinya. Paling-paling dia hanya menyebutkan bahwa dia memiliki beberapa potongan ingatan waktu kecil yang menunjukkan bagaimana perlakuan nyonya Kim padanya.
Namun tanpa diduga, Mina sama sekali tidak menyebutkannya dan hanya pergi ke ruang kerja untuk mengurus pekerjaannya.
Jeongyeon sendiri juga tidak ingin mengganggunya, jadi dia kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Sejak bertemu nyonya Kim, dia merasa ada yang mengganjal di hatinya. Hal itu membuat suasana hatinya menjadi tidak enak dan dia sangat tertekan.
Dia tak pernah menyukai kondisinya yang seperti ini, jadi dia menyibukkan diri dengan berolahraga dan bermain game di ponselnya.
Kota di tempatnya tinggal sekarang jarang hujan di musim gugur dan begitu hujan mulai turun, hujan akan turun terus menerus.
Langit cerah di pagi hari segera berubah mendung. Awan gelap bergerak cepat di langit dan langit tiba-tiba menjadi menggelap. Tak lama kemudian, gerimis pun turun ke bumi.
Jeongyeon sudah bosan bermain game, dia meletakkan ponselnya di atas meja dan tidak melakukan apapun.
Dia hanya berbaring di tempat tidur yang empuk, menyaksikan garis-garis hujan di kaca saling bertautan dan bertahan sementara ranting-ranting hijau tertiup angin.
Suasana saat ini terasa begitu tenang dan damai. Udara terasa sejuk dan segar, dengan rintik air yang turun perlahan, menciptakan keadaan yang menenangkan.
Jeongyeon perlahan menutup matanya, kemudian dia kembali bermimpi panjang dan berat yang tak kunjung terbangun.
Mimpinya tetap gelap seperti biasa. Bahkan seberkas sinar matahari pun tak dapat menyinari ruangan kecil itu, hanya sebuah lampu tidur yang tergantung di dinding.
Cahaya sangat redup dan anak kecil di ruangan itu berjongkok di sudut ruangan dengan tubuh gemetar ketakutan.
Nyonya Kim masuk mengenakan gaun tidur bewarna hijau yang akan bersinar di bawah cahaya redup. Dia tersenyum, tapi senyumnya akan membuat orang merinding melihatnya.
Dia menyalakan sebatang rokok di ruangan yang gelap lalu berkata, "Kau harus mendengarkan ibumu. Anak-anak yang tidak mau mendengarkan ibunya akan di pukuli."
Suaranya sangat mirip dengan suara hantu di film horor. Selain itu, ruangannya tertutup dan membuat suara sekecil apapun akan bergema di dalamnya.
Nyonya Kim mengepulkan asap rokok dari mulutnya dan asap biru ke abu-abuan menyebar di depan matanya yang suram.
Dia melangkah mendekat dan sepatu hak tingginya mengetuk lantai beton. Setiap suara seakan menginjak ujung hati seseorang, seolah-olah dia menginjaknya tanpa ampun.
Kemudian, dia menatap anak kecil yang meringkuk di sudut rungan itu, "Bicaralah jika kau mendengarku."
Anak kecil itu berkata dengan takut-takut, "Aku selalu mendengarkan ibuku. Aku ingin pulang. Aku tidak ingin tinggal di sini."
Nyonya Kim terkekeh dan berkata, "Tapi, ibumu memintamu untuk tinggal di sini. Dia bilang kau tidak patuh."
Sambil berbicara dia berjongkok, "Apakah kau menjatuhkan vas bunga ibumu terakhir kali?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
FanfictionJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
