"Apa kau baru saja berakting menjadi orang cacat?"
Mendengar pertanyaan yang lebih seperti ejekan itu, Jeongyeon seketika mengurungkan niatnya untuk meminta tolong pada Mina.
"Hahahaha, lucu sekali." balasnya datar.
Setelah beberapa saat menarik napas, Jeongyeon kembali melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah dengan tangan terus memegangi pinggangnya.
Ketika jarak di antara mereka semakin dekat, Mina akhirnya menyadari bahwa Jeongyeon sedang tidak bercanda.
Apalagi setelah melihat wajah pihak lain yang pucat dengan raut wajah kesakitan, Mina tidak bisa untuk tidak bertanya, "Ada apa?"
"......."
Jeongyeon tidak berniat untuk menjawab dan terus berjalan menuju tangga, namun tiba-tiba dihentikan oleh Mina.
Wanita itu sudah berdiri di depannya dan menghalangi jalannya, "Ada apa denganmu?"
Melihat tidak ada jalan untuk pergi, Jeongyeon akhirnya menyerah. Lagi pula, tidak ada gunanya melawan dalam kondisi yang sedang tidak menguntungkan ini.
Dia menarik napas dalam-dalam dan mencoba menjaga nada suaranya tetap stabil, "Aku terjatuh di kamar mandi dan melukai pinggangku."
"......."
Mata Mina seketika terpaku ke arah pinggang Jeongyeon. Postur berdiri pihak lain yang tampak aneh, jelas membuktikan bahwa dia tidak berbohong.
"Bisakah kau membantuku memanggilkan Sunmi? Aku tidak dapat mengoleskan obat sendiri. Pinggangku sakit sekali." Jeongyeon berkata lembut dengan nada memohon dalam suaranya.
"........"
Tanpa di duga orang yang sedang berdiri di hadapannya terdiam beberapa saat dan ketika dia berbicara lagi, kata-katanya tidak seperti yang Jeongyeon bayangkan.
"Kau tidak perlu memanggil Sunmi. Aku bisa melakukannya."
Seketika mata Jeongyeon melebar dan merinding hingga kata-kata penolakan langsung meluncur dari mulutnya, "TIDAK!"
"......."
Dahi Mina berkerut dalam.
Apa dia baru saja di tolak?
Jeongyeon langsung gelagapan, dia tidak ingin Mina membantunya. Wanita ini sungguh kejam, siapa yang tahu apa yang akan dia lakukan pada pinggangnya nanti. Bisa-bisa cederanya menjadi semakin parah dan mungkin tidak dapat di sembuhkan.
"T-tidak perlu. Aku tidak ingin mengganggu waktu istirahatmu. Itu sungguh akan merepotkanmu. Uhm...aku...aku akan mencari Sunmi dulu."
Dia tidak ingin mengatakan apapun lagi pada Mina saat ini dan tidak berencana untuk tinggal lebih lama. Dia butuh Sunmi untuk mengobati pinggangnya secepat mungkin.
Tepat saat dia melewati Mina dan hendak melarikan diri, dia mendengar suara langkah kaki mengikuti di belakangnya.
Jeongyeon berusaha keras mempercepat langkahnya, namun tiba-tiba lengannya di cengkeram oleh pihak lain dan detik berikutnya, dia diseret dengan paksa.
"T-tunggu....t-tunggu dulu...h-hei, berhenti menyeretku...akhhh, k-kau menyakitiku...Suuunmiiiiii..."
Jeongyeon meronta-ronta, namun gerakannya itu hanya membuat rasa sakit di pinggangnya semakin terasa. Jadi, dia hanya bisa pasrah dan mengikuti Mina sambil terus meneriaki nama Sunmi untuk datang membantunya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, aroma samar bunga peony tercium di seluruh ruangan. Baunya tidak terlalu menyengat, tapi tercium sangat jelas di indera penciuman Jeongyeon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
FanfictionJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
