Chapter 35

401 65 10
                                        

Ada banyak tamu di malam hari, bahkan lebih banyak dari di pagi hari. Jeongyeon turun bersama Mina ke bawah dan menemukan Jihyo serta Tzuyu sudah ada di sana.

Jihyo mengocok sampanye dan melirik Jeongyeon, "Kau telah melupakan teman-temanmu sekarang setelah kau memiliki istri."

Jeongyeon tersenyum, "Bagaimana mungkin?"

Jihyo memutar malas matanya, tidak ingin berdebat dengannya. Dia lalu melirik ke arah Mina dan mulai berbicara dengannya.

Di sisi lain, Tzuyu menepuk bahu Jeongyeon dan bertanya, "Mengapa kau tidak membalas pesanku?"

Jeongyeon tanpa sadar pergi mengambil ponselnya, tapi ternyata itu tertinggal di kamarnya, jadi dia menjelaskan, "Aku sibuk sore ini dan lupa."

"Sibuk?"

Tzuyu melirik Jeongyeon dan Mina dengan ambigu. Dia ingat apa yang dikatakan Jihyo sebelumnya bahwa Mina dan Jeongyeon tidak pernah keluar dari kamar sejak siang tadi.

Mungkinkah hubungan mereka sudah membaik dan mulai berjalan ke arah yang lebih romantis?

"Lupakan saja."

Tzuyu tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dan berbisik ke telinga Jeongyeon, "Tentang rencana yang kau bicarakan terakhir kali, aku sudah mengatur semuanya."

Jeongyeon langsung tersenyum dan menepuk bahu Tzuyu dengan puas, "Kau memang temanku yang sangat bisa diandalkan."

Beberapa saat setelah mereka berkumpul dan mengobrol bersama, tiba-tiba banyak orang berdatangan untuk menyapa mereka atau lebih tepatnya menyapa Mina.

Jeongyeon yang awalnya berdiri di sebelah Mina, mulai terdorong ke keluar lingkaran oleh beberapa pria berjas mahal.

Tzuyu, Jihyo dan Mina sama-sama di kerumuni oleh orang-orang itu dan Jeongyeon hanya memandang mereka dengan malas.

Para penjilat ini sungguh gigih sekali.

Jeongyeon tidak terlalu peduli jika dia tersisih dari kelompoknya. Dia malah bersemangat dan merasa bebas karena bisa berkeliling tanpa harus diganggu oleh orang-orang yang tidak dikenalnya.

Dia mengambil segelas sampanye dan meminumnya untuk memuaskan diri. Melihat sekeliling, semua orang tampak sibuk dengan urusan mereka sendiri.

Dia tiba-tiba merasa di ruangan ini terlalu berisik, jadi dia pergi keluar untuk mencari udara segar.

"Jeongyeon-ah...." seseorang tiba-tiba menyapanya.

Jeongyeon tampak terkejut, tidak menyangka akan bertemu kenalannya di sini, "Ohhh, Sana? Aku tidak tahu bahwa kau juga di undang."

Sana hanya tersenyum, dia terus bergerak mendekatinya dan keduanya berdiri lebih dekat satu sama lain.

"Apa kau lupa bahwa keluargaku juga termasuk orang terpandang di kota ini?" ucap Sana sombong.

Jeongyeon mengangkat bahunya, "Tentu saja aku tahu. Aku hanya tidak tahu bahwa keluarga kita juga saling kenal."

Sana terkekeh lalu memperhatikan sekeliling Jeongyeon dan tidak menemukan Mina bersamanya. Dia tidak tahan untuk tidak bertanya, "Jadi, apa yang kau lakukan di sini sendirian? Kenapa kau tidak bersama istrimu?"

"Oh tunggu, biar aku tebak..." Sana memegang dagunya, berpura-pura berpikir.

"Dia pasti sibuk berbicara dengan orang-orang penting itu, kan? Lalu, kau merasa bosan dan memilih untuk pergi keluar. Bagaimana, apa tebakanku benar?"

"......."

Jeongyeon sedikit kagum.

Tebakan Sana hampir 100% benar.

Where am i?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang