Chapter 30

399 71 17
                                        

Mina tidak pernah tidak sibuk setelah mengambil alih perusahaan keluarganya. Baginya, tidak ada hari tanpa bekerja sehingga membuatnya jarang sekali menghabiskan waktu dengan adiknya, Chaeyoung.

Mempunyai hari libur, merupakan kesempatan langka baginya. Jika pun ada, dia akan memanfaatkannya untuk melakukan sesuatu yang penting dan tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.

Seperti hari ini, ketika mempunyai hari libur, dia tidak berencana untuk tinggal seharian di rumah dengan bermalas-malasan, tapi dia menyiapkan sebuah pertemuan penting di kediamannya.

Mina bangun dari tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi kemudian turun ke bawah untuk sarapan.

Ketika dia berjalan menuruni tangga, dia menemukan Jeongyeon sudah berbaring di sofa sambil menonton TV.

Mina menyadari bahwa Jeongyeon sekarang sangat menyukai film kartun dan dia selalu menontonnya dengan penuh semangat, bahkan kadang sampai terbawa suasana.

Sungguh, kekanak-kanakan, ckckckckck....

Setelah kejadian di kolam renang, hubungan mereka sedikit mengendur dalam beberapa hari terakhir, tapi mereka masih tidak berbicara lagi dengan satu sama lain.

Mina tentu ingin menyelesaikan kebuntuan ini. Lagi pula, ulang tahun nyonya Yoo akan tiba beberapa hari lagi dan dia harus kembali berpura-pura menjadi pasangan yang harmonis dengan Jeongyeon.

Namun, dia benar-benar tidak tahu bagaimana cara merendahkan hati dan meminta maaf pada seseorang.

Mina berpikir sejenak dan akhirnya mengambil inisiatif untuk memulai percakapan dan ini adalah pertama kalinya dia melakukannya dalam beberapa hari terakhir.

"Ada tamu penting yang akan datang sore ini. Aku akan pergi ke pusat perbelanjaan di kota untuk membeli beberapa barang."

Dia memperhatikan dengan seksama ekspresi Jeongyeon dan melihat telinganya berkedut ketika mendengar kata-katanya.

"Pusat perbelanjaan di kota?" Jeongyeon bergumam pelan lalu menoleh untuk menatap Mina dengan sedikit cahaya di matanya.

Namun, ketika dia mengingat prilaku Mina sebelumnya, dia langsung merengut dan bersikap acuh tak acuh, "Lalu, apa hubungannya denganku? Jika kau mau pergi, pergi saja. Tidak perlu melaporkannya padaku. Toh, kita tidak punya hubungan apa-apa."

Mendengar hal itu, Mina tidak marah atau pun tersinggung. Dia tahu Jeongyeon sedang berpura-pura dan dia tertawa dalam hatinya.

Pria ini bahkan tidak dapat menyembunyikan ketertarikan di matanya itu. Hanya dengan melihat ekspresinya, dia tahu bahwa Jeongyeon ingin ikut dengannya.

Mina merasa ini merupakan titik balik dimana hubungan antara keduanya bisa sedikit di longgarkan. Dia hanya perlu selangkah lagi untuk memancingnya naik ke permukaan.

Jadi, dia menyisir rambutnya dengan tangannya dan berbicara dengan lembut "Ada banyak barang yang ingin aku beli dan tidak nyaman untuk membawanya sendiri. Apa kau mau membantuku?"

Mina tidak pandai memberikan undangan secara proaktif dan hal itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman, apalagi sekarang dia melakukannya pada Jeongyeon.

Tapi, jika dia tidak mengambil inisiatif akan sulit bagi mereka berdua untuk mengakhiri perang dingin ini.

Mina tampak tenang, tapi pikirannya kacau. Dia takut Jeongyeon akan menolaknya dan dia juga takut pihak lain mengatakan sesuatu yang akan membuat suasana menjadi semakin canggung.

"........"

Jeongyeon terdiam dan tampak sedang berpikir keras. Dia bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia harus ikut atau tidak?

Where am i?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang