Jeongyeon hanya bisa mempertahankan posisi meringkuknya. Ketika dia meluruskan pinggangnya sedikit, rasa sakitnya menjadi dua kali lipat, membuat wajahnya pucat.
Apakah tubuhnya masih mempertahankan kesadaran pemilik aslinya?
Kalau tidak, mengapa dia selalu bereaksi sekuat ini hanya dengan melihat hal-hal yang penuh kenangan?
Setelah sekian lama, rasa sakit yang menjalar itu akhirnya mereda, tapi wajahnya tetap saja tidak terlihat begitu baik.
Dia menatap dinding dengan tatapan yang rumit. Seolah-olah pemilik aslinya muncul di depan matanya dengan ekspresi marah di wajahnya, memegang pisau dan menggoreskannya satu demi satu, melampiaskan semua kekesalannya dalam goresan yang dalam itu.
Tapi, mengapa pemilik aslinya menjadi seperti ini?
Jeongyeon merasa sedikit sakit kepala. Dia memegang otaknya yang bengkak dengan kedua tangannya, tetapi dia masih tidak dapat memecahkan misteri dihadapannya.
Setelah perlahan-lahan tenang, dia sekali lagi menahan rasa tidak nyaman dan mengamati dinding dengan seksama, mencoba menemukan beberapa petunjuk yang ditinggalkan oleh pemilik aslinya.
Namun, setelah lama mencari, dia tidak dapat menemukan petunjuk berguna lainnya di dinding ini. Dia terdiam sejenak dan akhirnya mulai mencari tempat lain di ruangan itu.
Ruangan ini relatif normal, tanpa foto Kyungwan di sekitarnya dan tempat ini tidak tampak begitu menyeramkan jika dibandingkan dengan kamar di lantai bawah.
Setelah sekian lama mencari, akhirnya dia menemukan buku hariannya. Saat melihat buku itu, jantung Jeongyeon langsung berdebar kencang.
Dia tidak peduli dengan debu di sana, dia hanya duduk di kursi dan dengan hati-hati membuka sampul buku harian itu.
Rabu, 19 januari 2010
Aku menyukainya, tapi dia memandangku begitu jauh sehingga aku merasa tidak dapat menyentuh ujung pakaiannya. Tapi senyumnya sungguh indah dan begitu lembut sehingga bagaikan langit yang penuh bintang. Aku ingin dekat dengannya, tidak peduli sekeras apapun aku berusaha.
Senen, 25 April 2010
Aku menyelesaikan pekerjaan rumahku lebih awal hari ini. Aku ingin pergi menemui eomma, tapi aku melihat wanita itu bersamanya. Mereka sedang mengobrol di ruang tamu, tersenyum dan tertawa, terlihat begitu bahagia.
Aku tiba-tiba merasakan sesak di dadaku dan tubuhku gemetaran hanya dengan melihat sosok itu. Aku ingin pergi dan berlari sejauh mungkin, tapi eomma melihatku dan memanggilku. Dia memintaku untuk menyapa wanita itu, tapi aku menolak dan segera kembali ke kamarku.
Aku sungguh ketakutan dan bersembunyi seharian di dalam kamar pada hari itu. Tapi aku tidak menyangka bahwa eomma yang selalu memanjakanku, akan tampak begitu marah ketika mendatangiku.
Dia nampaknya sudah gila, matanya yang merah dan ekspresi histerisnya membuatku takut.
Dia bahkan ingin memukulku.
Aku sangat ketakutan.
Jeongyeon sedikit mengernyit saat melihat ini. Terlalu banyak informasi yang mengejutkan di dalamnya.
Ini tidak bisa dianggap sebagai buku harian, tapi lebih seperti sesuatu yang di tuliskan berdasarkan hari yang paling layak di catat.
Sekarang tahun 2025 dan catatan ini di tulis pada tahun 2010, berarti pemilik aslinya masih berusia 15 tahun saat itu.
Rabu, 27 April 2010
Eomma tiba-tiba datang ke kamarku di malam hari. Aku sangat ketakutan. Aku pikir dia akan memarahiku lagi, tapi dia hanya menangis dan terus meminta maaf padaku atas kejadian sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
FanfictionJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
