Chapter 45

328 53 3
                                        

Jeongyeon hanya mengikuti Mina sepanjang hari. Ketika akhirnya tiba waktunya pulang bekerja, dia menghela napas dan menepuk pundaknya sambil memuji dirinya sendiri.

Meskipun dia tidak melakukan apa-apa, dia telah menghabiskan seluruh energinya untuk bersikap baik dan menahan diri agar tidak berisik hanya untuk menepati janjinya pada Mina.

Ini sungguh sulit baginya.

Ketika Mina mulai berkemas, Jeongyeon meregangkan seluruh tubuhnya sebelum mengikutinya keluar dari kantor.

Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir dan ketika Mina hendak masuk ke dalam mobil, dia tiba-tiba bergumam pelan, "Kau telah bekerja keras hari ini."

"Hah?"

Jeongyeon yang berada di belakangnya agak bingung.

Suara Mina terdengar begitu sayup-sayup, ditambah dengan sikapnya yang acuh tak acuh, membuatnya ragu, apakah kata-kata itu benar-benar ditujukan padanya atau dirinya sendiri?

Mina juga tidak menjelaskan, dia hanya menatap cuaca yang indah dan ketika dia mengambil tempat duduk di kursi pengemudi, senyum tipis tersungging di bibirnya.

Suasana hatinya jelas tampak baik sore ini. Dia bahkan meminta sopirnya mengambil mobil lain dan memilih untuk mengemudi sendiri dengan Jeongyeon duduk di kursi penumpang.

Jeongyeon awalnya mengira mereka akan langsung pulang, namun melihat mobil berhenti di sebuah restoran, serangkaian pertanyaan memenuhi benaknya.

Mengapa mereka berhenti ke sini?

Ini bahkan belum masuk jam makan malam.

"Keluar dari mobil. Kau tidak banyak makan sebelumnya."

Mina adalah orang pertama yang keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam restoran, meninggalkan Jeongyeon yang masih tercengang di tempatnya.

Melihat Mina seperti ini, Jeongyeon segera mengikutinya dan bibirnya melengkung ke atas dengan tak terkendali.

Dia memang masih lapar setelah makan siang sebelumnya, namun melihat bagaimana Mina tetap bekerja tanpa henti setelah rapat dan makan dengan porsi sedikit, dia menahan diri untuk mengeluh dan memesan makanan lain.

Jeongyeon benar-benar tidak menyangka bahwa Mina akan memperhatikannya. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan berkata sambil tersenyum, "Jadi kau khawatir aku belum kenyang dan membawaku ke sini untuk makan?"

Mina bahkan tidak meliriknya selama di kantor dan bagaimana wanita ini bisa menyadari bahwa dia belum makan banyak?

Mendengar pertanyaan Jeongyeon yang penuh semangat, Mina tidak menjawab dan membiarkannya terus bicara sambil mengikutinya.

Tanpa melihatnya, Mina sudah bisa membayangkan Jeongyeon sekarang tampak seperti anak anjing yang mengibas-ngibaskan ekornya, menunggu diberi makan oleh tuannya dan sudut bibirnya tanpa sadar terangkat.

Melihat Mina tidak berniat menjawab pertanyaannya, Jeongyeon tidak marah dan hanya tersenyum, tidak berkata apa-apa lagi.

Dia dengan patuh mengikuti Mina dari belakang, membiarkannya mengambil menu dan memesan makanan pada pelayan.

Jeongyeon duduk di hadapannya, menopang dagu, mengamatinya dan merasa Mina saat ini benar-benar tak tertahankan.

"Mina, kau sangat cantik." seru Jeongyeon, tanpa malu sedikit pun.

Dengan banyaknya kebaikan yang di berikan Mina padanya hari ini, membuat Jeongyeon tidak bisa menahan diri untuk tidak memujinya.

Bagaimana pun, Mina sungguh cantik. Setiap gerakannya bahkan dapat memikat hati dan jiwanya dengan mudah. Tak ada yang lebih memikat dari pada dirinya selama dua kehidupannya.

Where am i?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang