Chapter 33

410 68 10
                                        

"Suzy, kirim dokumen-dokumen ini ke bagian penjualan nanti. Aku pergi dulu." Mina selesai menjelaskan masalahnya dan berbalik untuk meninggalkan perusahaan.

Tidak lama kemudian, mobil berhenti di depan pintu rumahnya. Mina masuk dengan sedikit harapan di hatinya.

Sayangnya, dia tidak mencium bau familiar di pintu dan tidak bisa menahan perasaan sedikit kecewa.

Dia mendongak, melihat bahwa para pelayan baru saja menyiapkan makanan di atas meja dan siap untuk pergi sementara Jeongyeon sedang berbaring di sofa.

"Mengapa kau kembali begitu cepat hari ini?" Jeongyeon melirik Mina dan berbicara dengan malas.

Dia memegang bantal di tangannya dengan jari-jarinya menjepit sudut bantal. Entah kenapa, dia merasa bahwa Mina terlihat lebih cantik hari ini.

Jeongyeon tidak tahu apa yang berbeda darinya. Hanya saja dia merasa bahwa matanya terlihat jauh lebih lembut dari sebelumnya. Tapi, dia tidak terlalu memikirkannya dan hanya mengaitkan hal itu dengan perasaannya saja.

"Eomma tadi meneleponku dan meminta kita pulang malam ini dan menginap di sana. Besok adalah hari ulang tahunnya dan dia ingin kita berada di sana selama persiapan acaranya."

Setelah mendengar perkataan Mina, Jeongyeon mengernyit bingung. Dia jelas tidak tahu tentang hal ini dan bertanya-tanya, apakah hubungan orang tuanya dengan Mina sedekat itu sehingga dia dapat membuat permintaan seperti itu?

Sial.

Dia sungguh tidak ingin datang ke tempat itu, apalagi menginap di sana. Siapa yang tahu kenangan mengerikan apalagi yang akan dia temukan di rumah pemilik aslinya.

Sejujurnya, setelah melihat kenangan terakhir kali pemilik tubuh ini, Jeongyeon tiba-tiba tidak ingin mencari tahu lagi.

Dia benar-benar tidak tahan akan perasaan tidak nyaman yang dialaminya setiap kali melihat pemandangan itu.

Belum lagi ketakutan dan rasa sakitnya. Itu terasa sangat nyata dan sungguh mengerikan hingga mempengaruhi psikis dan juga fisiknya.

Memikirkan bahwa dia akan mengalaminya lagi, Jeongyeon merasa ngeri dan buru-buru bertanya, "Kenapa kita harus pergi hari ini. Acaranya kan besok malam. Bisakah kita pergi besok saja?"

Mina melepas sepatu hak tingginya dan berkata tanpa menatapnya, "Aku sudah menyetujuinya dan tidak baik untuk membatalkannya. Itu hanya akan mengecewakan ibumu."

Setelah itu, dia naik ke atas untuk mandi, tidak menyadari ekspresi jelek di wajah Jeongyeon dan gerutuan kecilnya.

Air hangat dari pancuran membasahi seluruh tubuhnya, menghilangkan rasa lelahnya. Sebenarnya, ada dua hal yang tidak ingin diakui Mina kepada Jeongyeon.

Alasan pertama mengapa dia kembali begitu cepat sebenarnya karena dia mengharapkan Jeongyeon memasak untuknya siang ini.

Setelah perang dingin antara keduanya berakhir, hubungan mereka menjadi lebih baik. Mina menemukan bahwa Jeongyeon masih memiliki beberapa kelebihan, setidaknya dia tidak menyebalkan dalam hal memasak.

Sayangnya, Jeongyeon tidak memasak lagi setelah hari itu dan kadang-kadang dia hanya membuat beberapa kue dan kue kering sebagai cemilan.

Mina tidak terlalu suka sesuatu yang manis, tapi ketika dia melihat kue yang di buat oleh Jeongyeon sendiri dan mencium baunya, dia menjadi sedikit bersemangat.

Namun, dia tidak tidak bisa untuk tidak tahu malu meminta cemilan kepada Jeongyeon. Ini lebih sulit dari pada meminta maaf dan dia tidak akan bisa melakukannya dengan kepribadian yang dimilikinya.

Where am i?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang