Setelah berbicara beberapa patah lagi dengan Suzy, Mina mengizinkan pihak lain pergi dan menyuruh sopirnya berkendara pulang.
Dia tampak sangat lelah dan hanya duduk di kursinya, tanpa bergerak dengan mata agak merah.
Mina merasa kesal, bukan hanya karena masalah Jeongyeon, tapi juga akan sikapnya pada pria itu yang melunak selama beberapa hari terakhir.
Mungkin, dia terlalu serakah dan berkhayal bahwa kali ini dia dapat mempercayai Jeongyeon dan memberikan kebebasan padanya.
Sayang sekali bahwa semua itu hanyalah khayalan belaka. Sekarang Jeongyeon bahkan dapat dengan mudah mengalahkannya hanya dengan satu pukulan.
Mina tersenyum pada dirinya sendiri, menarik kotak kue di sampingnya, meminta mobil berhenti di pinggir jalan lalu membuangnya ke tempat sampah dan kembali ke rumah.
Ketika dia pulang, Jeongyeon sedang duduk di ruang tamu sambil menonton TV. Dia memotong buah-buahan dan menaruhnya di atas meja. Ada banyak jenisnya dan cukup banyak, tentu saja itu cukup untuk dua orang.
Saat Mina masuk ke dalam, dia mendengar Jeongyeon tertawa. Melihat pihak lain duduk santai di sofa, kemarahan dan kebencian yang telah lama di tekan di dalam hatinya pun kembali muncul.
Dia melotot tajam ke arah Jeongyeon, tatapannya bagaikan pisau yang siap menebas targetnya kapan saja, cukup membuat pihak lain menyadari ada sesuatu yang salah.
Jeongyeon dengan peka memperhatikan tekanan rendah pada Mina dan bertanya dengan lembut, "Ada apa denganmu?"
Mina mengangkat kepalanya, menatapnya lalu menyerahkan foto-foto yang diberikan Suzy sebelumnya.
"Jeongyeon, ini rencanamu, kan? Aku benar-benar tidak menyangka pikiranmu akan sedalam ini. Di permukaan kau berpura-pura menjadi baik dan membuatku mempercayaimu, tapi diam-diam menggunakan metode ini untuk membalaskan dendammu padaku. Kau lebih pintar dari sebelumnya dan bahkan jauh lebih hina!"
Mina berusaha menjaga suaranya tetap tenang, tapi jika mendengarkan dengan seksama, siapapun dapat mendengar getaran dalam nada suaranya.
Jeongyeon benar-benar bingung dengan rentetan pertanyaan dan tuduhannya yang bertubi-tubi. Dia tidak tahu bahwa seseorang telah mengambil fotonya dan mengirimkannya pada Mina.
Tapi, foto ini tidak terlihat seperti apa yang digambarkan di dalamnya. Jelas bahwa seseorang berencana untuk memfitnahnya.
Seharusnya Mina menanyakan kronologisnya terlebih dahulu kepadanya dan mendengarkan penjelasannya.
Tapi...
Dia malah datang sambil marah-marah, menghinanya dan bahkan menuduhnya melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan.
Jika pun foto ini benar, itu juga bukan urusannya. Bukankah mereka sudah sepakat sebelumnya untuk tidak mencampuri urusan masing-masing?
Wanita ini memang hanya ingin mencari masalah dan selalu bersikap tidak masuk akal kepadanya.
Dia sama saja dengan keluarganya di dunia sebelumnya. Selalu menyalahkan dan menuduhnya dengan semena-mena.
Jika sudah seperti ini, tidak ada gunanya untuk menjelaskannya karena di mata orang-orang seperti ini, dia hanya akan selalu salah.
Memikirkan hal itu, Jeongyeon enggan untuk bercerita dan berkata dengan malas, "Mina, aku tidak mengerti apa maksudmu dan apa salahnya dengan foto ini? Kita tidak memiliki hubungan apapun. Bukankah kau juga mengizinkanku untuk berhubungan dengan wanita lain?"
"........"
Melihatnya membuat alasan seolah-olah ini bukan apa-apa, Mina merasakan darahnya semakin mendidih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
FanfictionJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
