Jeongyeon belum melupakan senjata rahasianya. Kue berukuran delapan inci yang dia panggang baunya jauh lebih manis dari pada kue kecil sebelumnya.
Karena Chaeyoung ingin memakannya terakhir kali, Jeongyeon tidak berani menambahkan terlalu banyak gula demi kesehatan anak itu. Namun, kali ini dia menambahkan banyak gula.
Dia bahkan membuat sendiri kantong piping, mengoleskan lapisan krim tipis di atas kue lalu menambahkan hiasan. Hasilnya bahkan lebih baik dari pada yang dijual di toko kue.
Dia memiliki selai melon di lemari es yang kebetulan berwarna hijau, jadi dia menggunakannya untuk menggambar bambu.
Hutan bambu yang bergoyang melengkapi krim putih, menciptakan pemandangan yang dinamis dan tenang.
Meskipun Mina sudah tahu bahwa Jeongyeon memiliki keahlian dalam memasak, dia tetap terkejut ketika melihat hasil akhir kue tersebut.
Ya, kue itu memiliki tampilan yang indah dan rasa yang lezat. Sangat bisa untuk di jual dan di pamerkan di sebuah toko kue.
Krimnya manis tapi juga tidak terlalu manis. Dasar kuenya lembut dan lezat. Tingkat kemanisannya pas, bahkan lebih baik dari pada yang biasa Mina beli.
Makan malam tentu saja tidak bisa hanya kue, jadi sambil menunggu kue itu matang, Jeongyeon juga memasak bubur bergizi.
Dia menambahkan kacang tanah, buah goji dan kenari serta menumis sayuran ketika bubur sedang di masak.
Porsinya tidak banyak, cukup untuk dua orang dan tentu saja masakan Jeongyeon sangat cocok dengan selera Mina.
Setelah selesai makan malam, Mina memperhatikan Jeongyeon beranjak dari meja makan dan pergi ke dapur.
Lima menit telah berlalu, tapi Jeongyeon belum juga kembali membuat Mina penasaran.
Dia kemudian pergi memeriksanya hanya untuk mendapati Jeongyeon telah membersihkan semua peralatan yang digunakan untuk membuat kue.
Melihat meja dapur yang sudah bersih, dia benar-benar takjub dengan ketelatenan dan perhatian Jeongyeon.
Berdiri di depan pintu dapur, Mina tak kuasa melirik Jeongyeon yang sedang mengeringkan tangannya yang basah di depan wastafel.
Pikiran waktu itu pun muncul lagi tanpa alasan.
Jika Jeongyeon tetap di sini, menikah dan tinggal bersamanya, itu pasti tidak akan terasa begitu sulit.
Hari-harinya tidak akan membosankan lagi dan mungkin....hidupnya akan menjadi lebih menyenangkan.
Sial.
Mina buru-buru menggelengkan kepala, menyalakan keran dan membiarkan air hangat mengalir di jari-jarinya.
Tapi....
Jika di pikir-pikir, dia memang tidak akan bisa menolak pikiran itu.
Waktu-waktu yang dihabiskan bersama Jeongyeon terasa begitu menyenangkan dan itu saja sudah cukup mempertahankan pria itu untuk tetap tinggal di sisinya.
.
.
.
.
.
Setelah selesai membersihkan dapur, Jeongyeon pergi ke ruang tamu, duduk di sofa dan mulai mencari drama untuk menghabiskan waktunya malam ini.
Mina juga tidak memiliki kegiatan lain. Awalnya dia hanya memperhatikan Jeongyeon dari jauh, namun berakhir duduk di sampingnya dan menonton Tv bersama.
Jeongyeon memilih drama baru. Itu adalah salah satu drama terlaris yang baru saja selesai tayang di Netflix. Bahkan seseorang yang tidak mengerti tentang perfilman seperti Mina pun tahu nama drama ini.
When Life Gives You Tangerines.
Mengisahkan perjalanan cinta dan perjuangan dua pemuda, Ae Sun dan Gwan Sik di pulau Jeju pada tahun 1950-an hingga 1960-an.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
FanfictionJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
