Chapter 41

331 56 6
                                        

Melihat dua sosok itu, Mina tiba-tiba kehilangan ketenangannya. Dia bahkan mempercepat laju mobilnya dan dengan suara rem yang keras, dia berhenti di samping mobil Sana lalu keluar dengan wajah dingin, menghampiri Tzuyu.

Awalnya dia menatap Tzuyu dengan tajam lalu menoleh ke Sana dengan senyum sopan, "Apa yang membuat nona Minatozaki datang ke rumahku malam-malam begini?"

Ketika Tzuyu melihat Mina muncul, entah kenapa dia merasa hawa dingin menyelimuti dirinya yang membuatnya ketakutan.

Dia bertanya-tanya hal buruk apa yang telah dia lakukan hingga membuat Mina  tampak begitu marah kepadanya. Meski begitu, dia tidak bisa bertanya dan hanya menggigit bibir, tampak kebingungan.

Di sisi lain, Sana hanya tersenyum acuh tak acuh pada sikap Mina yang jelas-jelas bermusuhan lalu mengalihkan pandangannya ke Jeongyeon yang berjalan perlahan di belakang Mina dan berkata dengan hangat, "Aku dengar dari Tzuyu bahwa kau tidak merasa enak badan setelah jatuh ke air malam itu."

Jeongyeon berjalan mendekat dan berhenti di samping Mina lalu berkata dengan suara rendah, "Tidak apa-apa. Aku sudah baik-baik saja sekarang."

Mendengar kata-katanya, alis Sana tanpa sadar mengendur. Dia ingin mengatakan sesuatu, namun mengingat Mina masih di sana, dia mengurungkan niatnya.

Hanya saja, dia tidak ingin terlalu banyak berinteraksi dengan Jeongyeon di saat Mina ada dan menebar kesalahpahaman diantara mereka.

Sana awalnya ingin membicarakan tentang bisnisnya bersama Jeongyeon, namun merasakan suasana disekitarnya semakin mencekam, dia langsung mengurungkan niatnya.

Jadi, setelah mengucapkan beberapa patah kata lagi, dia menarik Tzuyu ke dalam mobil dan pergi tanpa ampun.

Saat mobil menghilang dari pandangan mereka, Jeongyeon mengarahkan pandangannya pada Mina, menatapnya dengan tatapan samar, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Mina merasakan tatapannya dari samping, namun dia pura-pura tidak melihatnya dan masuk begitu saja ke dalam rumah.

Jeongyeon yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggerutu dan merenung dalam diam.

Mina jelas masih marah.

Haruskah dia meminta maaf?

Tapi, dia juga masih marah!

Jeongyeon tidak langsung mengikuti Mina, dia menunggu di luar sejenak sebelum masuk dan berdiri di depan tangga untuk waktu yang lama.

Ketika dia mendongak dan bertemu pandang dengan Mina yang ternyata masih berdiri di tangga lantai dua lalu menarik sudut bibirnya menjadi datar.

Mereka berdua hanya saling berhadapan dari kejauhan, seolah-olah bisa menebak apa yang dipikirkan satu sama lain.

Tapi...

Mereka juga merasa ada kabut tebal yang memisahkan mereka dan mulai meragukan apakah yang mereka pikirkan adalah apa yang sebenarnya dipikirkan orang lain saat itu?
.
.
.
.
.
Keesokan harinya adalah hari yang cerah. Jeongyeon membuka matanya dan memandangi langit biru di luar jendela untuk waktu yang lama.

Ini sudah hari ketiga sejak terakhir kali dia bertemu dengan nyonya Kim. Mina juga sudah mengetahui rahasianya dan dia tidak tahu apakah Mina percaya atau tidak.

Yang jelas, dia tidak ingin lagi berpura-pura acuh dan tidak peduli lagi akan apa yang terjadi pada pemilik aslinya. Dia juga ingin mencari tahu tentang hal buruk apa yang sedang disembunyikan oleh keluarga Yoo dari dunia luar.

Setelah memperkuat tekadnya untuk membantu pemilik aslinya. Jeongyeon akhirnya bangkit perlahan untuk membersihkan diri dan turun ke bawah.

Ketika dia turun, hanya Mina yang duduk di meja makan dan di dapur, dia melihat punggung chef yang sedang sibuk menyajikan sarapan.

Where am i?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang