Mina membuka pintu dengan sangat pelan, takut menganggu orang yang sedang tidur. Ada lampu menyala di ruangan itu, cukup terang untuk menerangi pintu.
Posisi tidur Jeongyeon sangat tegak. Dia berbaring telentang dengan kedua tangan berada di perut dan napasnya pendek.
Mina berjalan mendekat dan perlahan duduk di tempat tidur, menyebabkan satu sisi kasur tenggelam. Jeongyeon masih tidak terganggu sedikitpun, dia tertidur sangat lelap, mungkin karena terlalu lelah.
Mina perlahan-lahan naik ke atas tempat tidur, bersandar pada headbord dan melihat ke samping, memperhatikannya.
Jeongyeon tidak terlalu suka bergaya akhir-akhir ini atau tepatnya, dia lebih suka memakai pakaian santai dan sederhana.
Dulu, tidak peduli kemana pun dia pergi, Jeongyeon akan sangat memperhatikan penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Dia cenderung mengenakan pakaian mahal dan mencolok. Tak lupa, menggunakan aksesoris sebagai pelengkap. Juga, membutuhkan persiapan dan waktu yang cukup lama.
Tapi akhir-akhir ini, Mina tidak pernah melihat Jeongyeon seperti itu lagi. Bahkan pada beberapa kesempatan, Mina melihatnya hanya memakai kaos polos dan celana olahraga di rumah dan saat keluar, dia hanya memakai hoddie dan kemeja biasa.
Meskipun Jeongyeon sekarang memiliki wajah yang sama seperti sebelumnya, tapi matanya benar-benar berbeda.
Ada yang bilang untuk menilai karakter seseorang, lihat saja matanya. Jika matanya bersinar bagaikan bintang, maka dia pastilah orang yang berkarakter baik.
Dulu, tatapan mata Jeongyeon tampak kosong, hanya dipenuhi dengan rasa jijik yang mendalam terhadap dunia.
Kadang-kadang, dia bahkan memiliki ekpresi di wajahnya yang seolah-olah ingin semua orang mati. Tapi sekarang selalu ada cahaya hangat di matanya.
Mina adalah orang yang pandai mengamati detail dan merasa bahwa Jeongyeon menyembunyikan sesuatu di dalam dirinya. Namun, dia masih tidak tahu apa itu.
Entah, dia memang mendapat hidayah dari tuhan sehingga ingin memperbaiki diri ke arah yang lebih baik. Atau mungkin, dia memiliki kepribadian ganda hingga sekarang terlihat seperti orang yang berbeda.
Dari dua kemungkinan itu, Mina tentu lebih condong ke arah yang ke dua. Itu karena dia merasa bahwa Jeongyeon yang sekarang, bukanlah Jeongyeon yang dulu.
Jika pernyataan Tzuyu sebelumnya benar, maka kemungkinan ke dua adalah jawaban dari pertanyaannya selama ini.
Tapi...
Jika itu memang benar, kenapa Jeongyeon bisa menderita bipolar?
Apa yang telah dia lalui hingga dia menjadi seperti itu?
Mina masih duduk di tempat tidur, matanya mengamati setiap inchi wajah pihak lain. Dia berpikir bahwa Jeongyeon terlihat lebih baik dengan penampilannya sekarang.
Tapi...
Apa hubungannya....dengannya?
Lagi pula, perjanjian pernikahan mereka akan berakhir dalam satu tahun lagi. Juga, dia tidak ingin terikat dengan Jeongyeon terlalu lama.
Tiga tahun cukup untuk menggunakan pernikahannya sebagai alat pelindung sementara untuk kelangsungan hidup dan perusahaannya.
Mina menghela napas lega, setidaknya ketika mereka bercerai nanti, dia tidak perlu repot-repot untuk berakting menjadi menantu yang baik lagi di depan orang tua Jeongyeon.
Sejak awal, dia menikah hanya untuk menyelematkan dirinya, Chaeyoung dan perusahaan yang ditinggalkan orang tuanya.
Dengan menikah dan mengubah status menjadi istri orang, maka tidak akan ada lagi laki-laki yang berani mendekati dan mencoba melamar pernikahan kepadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
FanfictionJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
