Mina adalah seseorang yang termasuk senang mengejar waktu tidur. Meskipun dia bangun pada waktu yang tepat setiap hari, bukan berarti dia tidak suka tidur lebih lama.
Bahkan dia merasa sangat tidak nyaman setiap pagi di hari kerja. Kalau bukan karena tuntutan dan kewajibannya, dia tidak akan mau melakukannya.
Saat kulitnya menyentuh selimut yang lembut dan nyaman, Mina pun mengeluarkan rintihan pelan.
Kemudian, hidungnya berkedut, aroma samar yang familiar tercium dari luar, membuatnya membuka mata dan segera bangun dari tempat tidur.
Dia pergi ke kamar mandi untuk mandi, merapikan diri dan dengan santai berjalan ke bawah untuk membuktikan tebakannya.
Benar saja, begitu sampai di ujung tangga, dia melihat Jeongyeon telah meletakkan sarapan yang sudah di siapkan di atas meja.
Yes!
Hal inilah yang dia tunggu dan harapkan sejak kemarin. Bahkan penantian itu membuatnya sampai berpikir bahwa dirinya telah gila hanya karena makanan.
Jeongyeon sedang menyajikan makanan dam menyadari tatapan Mina di belakang punggungnya.
Dia berbalik, bersandar di meja dan tersenyum sambil melepas topi kokinya, "Mina, selamat pagi, ayo sarapan."
Saat dia melakukan gerakan itu, rambutnya yang sudah mulai panjang langsung terbebas dan kekangan dan jatuh berserakan.
Sinar matahari dari jendela menyinari kepalanya, membuat rambutnya yang hitam pekat berkilauan dan senyumnya terlihat sangat indah.
Jeongyeon tahu dan sadar bahwa dirinya pasti akan terlihat tampan saat ini. Lagi pula, tidak ada yang bisa menolak melihat pria tampan memasak untuk mereka di pagi hari ketika turun ke bawah, bukan?
Hehehe....
Pikiran narsisnya membuat Jeongyeon tertawa di dalam hati. Namun, tawa jahat itu langsung lenyap ketika dia tak melirik ke arah Mina.
Wanita itu hanya meliriknya dengan acuh tak acuh sebelum memfokuskan perhatiannya pada makanan di atas meja.
Apa-apaan!
Apakah di mata Mina, dia tidak sebaik bakpao kukus yang tersaji di atas meja?
Jeongyeon berpikir tanpa daya dalam hati dan dengan bibir cemberut, dia berbalik lalu pergi mencuci tangannya di dapur.
Tentu saja, dia tidak melihat Mina menatapnya dengan tatapan agak linglung setelah dia pergi.
Cuaca sekarang panas dan meskipun pendingin ruangan cukup membantu, tapi tetap saja memasak di dapur masih terasa pengap.
Jeongyeon selalu suka berpakaian santai dan terasa nyaman di rumah, juga dengan gaya yang sederhana.
Hari ini, dia hanya mengenakan kaos putih tipis tanpa lengan, memperlihatkan sebagian besar lengannya yang berotot.
Karena olahraga rutinnya, bokong serta kakinya yang kencang, padat dan berotot terlihat jelas saat dia berjalan dengan celana pendek hitamnya.
Sebenarnya, Mina tidak melewatkan penampilan Jeongyeon yang tampan dan senyum indahnya barusan.
Alasannya langsung memalingkan muka adalah karena senyum itu membuatnya merasa canggung dan tidak yakin bagaimana harus bereaksi.
Meskipun orang itu sudah pergi beberapa saat yang lalu, memikirkannya saja masih membuat wajah Mina memerah. Dia sedikit mengerutkan kening dan duduk di meja.
Sarapan hari ini berbeda dari biasanya, Mina sudah pernah merasakan langsung kemampuan memasak Jeongyeon.
Meskipun dia dengan keras kepala menolak untuk mengakuinya, makanan Jeongyeon memang yang terbaik yang pernah dia cicipi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
Fiksi PenggemarJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
