Keesokan harinya, seperti biasa Mina harus pergi ke kantor dan mengurus pekerjaan di perusahaan sementara Jeongyeon hanya bisa bermalas-malasan di dalam rumah.
Saat ini, Jeongyeon hanya bisa memandang Mina dengan iba. Lihatlah, dia masih sangat muda, tapi dia selalu sibuk bekerja dari pagi hingga malam dan jarang sekali beristirahat.
Dia tahu tidak ada yang bisa mengubahnya, namun saat mengingat hubungan mereka yang sudah berubah menjadi teman, sebuah ide pun muncul di kepalanya.
Meskipun Jeongyeon ragu Mina akan menyetujuinya, tapi dia masih berpegang teguh pada secercah harapan.
Namun, Mina hanya mengabaikan tatapannya sepanjang waktu. Jeongyeon menggertakkan gigi dan berkata, "Bolehkah aku pergi ke perusahaan bersamamu?"
Mina sedang berkemas, dia berhenti sejenak, menatap Jeongyeon dan mengerutkan kening, "Tidak!"
Bagaimana mungkin Mina membiarkannya ikut bersamanya?
Jeongyeon bagaikan bom waktu yang siap meledak kapan saja dan bisa menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya.
Meskipun Jeongyeon sudah menduga jawaban Mina sejak awal, tapi kerutan di dahinya tetap semakin dalam.
Dengan keputusasaan, dia mulai mengeluh pada Mina, "Aku sangat bosan di rumah. Kau tidak mengizinkanku pergi bekerja dan keluar pun juga tidak boleh. Lama-lama, aku bisa jadi gila kalau terus seperti ini!"
"........"
Melihat wajah frustasinya, Mina tidak bisa tidak memikirkan bagaimana Jeongyeon menghabiskan waktu di rumah selama ini. Dia merasa itu memang membosankan dan tekadnya pun mulai goyah.
Tapi....
Bagaimana jika dia membawa Jeongyeon bersamanya?
Bisakah dia tidak mengganggunya nanti?
Menyadari tekad Mina mulai goyah, Jeongyeon memasang wajah memelas dan kembali membujuknya, "Mina, biarkan aku ikut denganmu. Aku berjanji tidak akan membuat masalah dan menganggumu. Aku hanya akan mengikutimu dan tidak akan pernah meninggalkan sisimu lebih dari tiga meter!"
Melihat Jeongyeon seperti ini, Mina akhirnya tidak bisa menolak lagi. Dia memintanya kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan akan menunggunya di bawah.
Mendengar Mina setuju, Jeongyeon merasa sangat bahagia. Akhirnya dia terbebas dari rumah yang seperti penjara ini.
Dia ingin melompat dan berteriak untuk melampiaskan perasaannya, namun bagaimana mungkin dia berani menunda lagi?
Jeongyeon segera kembali ke kamar, berganti pakaian dan berpakaian dengan rapi. Kemudian dia bergegas turun, takut Mina akan menjadi tidak sabar dan pergi lebih dulu setelah menunggu terlalu lama.
Mina yang sedang menunggu di bawah tertegun sejenak saat melihat pakaian yang dikenakan oleh Jeongyeon.
Hari ini, dia mengenakan setelan baju kerja berwarna coklat muda sementara Jeongyeon mengenakan setelan coklat tua.
Saat keduanya berdiri berdampingan, entah kenapa Mina merasa seperti sedang mengenakan pakaian pasangan.
Mina mengerutkan kening, menahan perasaan aneh di hatinya dan berkata, "Ayo pergi."
"Oke." Jeongyeon segera mengikuti Mina seperti ekor kecilnya.
.
.
.
.
.
Kemunculan Jeongyeon di perusahaan langsung memicu perdebatan sengit. Lagi pula, sudah lama dia tidak datang ke perusahaan.
Terlebih lagi, kali ini dia muncul bersama Mina dan yang terpenting lagi, mereka berpakaian seperti pasangan!
Dan, Jeongyeon mengikuti Mina dengan patuh sepanjang waktu, tidak pernah meninggalkan jarak lebih dari tiga meter.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
FanfictionJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
