Chapter 17

406 81 31
                                        

"Hah..."

Jeongyeon tersentak dari tempat tidur, membuka matanya dan menatap langit-langit dengan tatapan kosong.

"......."

Apa dia baru saja bermimpi?

Sialan!

Bukannya dia tidak pernah bermimpi romantis. Sebagai pria dewasa yang sehat secara fisik dan mental, wajar jika dia bermimpi seperti itu.

Hanya saja, tidak ada objek yang jelas dalam mimpi-mimpi sebelumnya. Tapi kali ini, dia dapat melihat wajah itu dengan sangat jelas dan itu adalah Mina.

Tapi...

Mina di dalam mimpinya benar-benar berbeda dari yang ada di dunia nyata. Dia tidak berbicara dengan dingin kepadanya. Dia masih memiliki wajah yang tegas, tapi tetap tersenyum dengan indah. Dia bergairah seperti api yang membara, membakar dirinya hingga garing di luar dan lembut di dalam.

Mina menekannya dan menyentuhnya di suatu tempat yang membuat Jeongyeon gemetar karena kenikmatan.

Akibatnya ketika dia bangun, sebagian tubuh bagian bawahnya masih gemetar untuk mengekpresikan kegembiraan dan kesenangannya.

"........"

Setelah efek samping sensasi fisik itu berlalu, Jeongyeon menatap kosong ke arah langit-langit kamar lalu perlahan-lahan mengendurkan kakinya yang ditutupi selimut.

Basah di antara kedua kakinya sangat kentara dan itu sangat memalukan. Dia tanpa sadar kembali mengingat keintimannya dengan Mina tadi malam. Semakin dia memikirkannya semakin kuat juga peringatan di kepalanya.

Mina sangat menggoda tadi malam dan dadanya terasa sangat lembut saat menempel padanya, sangat berbeda dengan dadanya yang keras.

Akkkkhhhhh....

Jeongyeon menggelengkan kepalanya kemudian memikirkan hal-hal buruk tentang Mina dan terus menekankan di dalam benaknya.

Mina itu berwajah dingin, lidahnya berbisa, dia kasar, kejam, menyebalkan dan tidak berperasaan. Nafasnya harum, bibirnya....

Namun pada akhirnya kata-kata itu muncul di antara kata-kata buruk yang sedang dipikirkannya.

"........"

Pipi putih Jeongyeon tiba-tiba memerah,  dia merasa aliran darahnya naik ke wajah dan telinganya.

"Mina, ini semua salahmu!"

Jeongyeon meratap, menutupi wajahnya dengan bantal dan menendang-nendang kakinya dengan keras di bawah selimut. Meski sudah melakukan hal itu, rasa panas di kulitnya tak juga mereda.

Jeongyeon merasa bahwa dirinya benar-benar sudah tamat. Jangan sampai dia menyukai Mina hanya karena kejadian tadi malam.

Akhirnya, dia menghabiskan sepanjang pagi untuk memikirkan perasaannya yang tiba-tiba menjadi aneh terhadap Mina.

Dia berbaring di tempat tidur dalam waktu yang lama sampai perutnya keroncongan karena lapar.

"Tuan Jeongyeon!"

Mendengar Sunmi mulai memanggilnya dari luar, Jeongyeon perlahan-lahan bangun dari tempat tidur, membereskan kekacauan itu sendiri dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah mandi, dia turun ke bawah untuk sarapan dan menemukan Mina sudah duduk di meja makan, minum secangkir kopi.

Jeongyeon melihat pemandangan itu dari tangga. Wajahnya berubah menjadi merah dengan sangat cepat, seolah-olah  ada alat pengubah warna dipasang di wajahnya.

Where am i?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang