Setelah menghabiskan bubur buatan Jeongyeon, Mina merasa seperti hidup kembali. Dengan sesuatu di dalam perutnya, rasa sakit yang dia rasakan sebelumnya akhirnya mereda.
"?????"
Jeongyeon menatap panci bubur yang kosong di tangannya dengan wajah bingung dan tak percaya.
Mengingat bagaimana Mina kesakitan dan menolak bangun saat di suruh makan, dia mengira bahwa Mina tidak akan makan banyak, tapi sekarang....seluruh isi panci benar-benar telah licin dan habis.
Jeongyeon tak kuasa melirik ke arah perut Mina yang rata dan mulai bertanya-tanya kemana semua makanan itu pergi.
Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Saat melihat wajah datar Mina, pikiran jahat pun muncul di kepalanya.
Hehehehe...
Kapan lagi dia punya kesempatan untuk mengejek Mina?
Jeongyeon terkekeh dalam hati lalu berdehem pelan dan bertanya, "Kenyang? Enak?"
"........."
Saat pertanyaan sederhana itu sampai ke telinga Mina, dia sedikit menegang dan berhenti bergerak ketika hendak berbaring di tempat tidur.
Dia dengan perlahan mengangkat matanya untuk menatap Jeongyeon dan menemukan bahwa pria itu sedang menahan tawanya.
Sial.
Mina langsung mengutuk dalam hati.
Sejujurnya rasa buburnya sangat enak, tapi melihat tatapan menggoda dan main-main di mata Jeongyeon, tentu dia tidak ingin menyerah dan menurunkan harga dirinya.
Dia lalu berkata dengan santai, seolah-olah dia belum menghabiskan seluruh isi panci bubur itu, "Tidak buruk."
"......."
Wanita ini.....
Meski Jeongyeon sudah menduganya sejak awal, namun bibirnya masih sedikit berkedut ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut kecil Mina yang tajam.
Oh, ayolah....
Apa yang bisa diharapakan dari orang sombong, angkuh dan apatis seperti Mina?
Jeongyeon hanya bisa menepuk dada dalam hati dan melupakan keinginannya untuk melanjutkan peperangan karena itu hanya akan membuang-buang waktu.
Dia lalu berkata dengan malas, "Aku pergi sekarang. Kau istirahatlah."
Ketika hendak menutup pintu, Jeongyeon berhenti sejenak dan berkata, "Hubungi aku jika kau butuh sesuatu."
Klik.
Suara pintu yang tertutup seketika bergema di dalam kamar dan ruangan itu pun menjadi sunyi.
Mina mencoba bergerak dan bangun dari tempat tidur ketika merasakan kekuatannya telah kembali.
Dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, menggosok gigi dan segera mengeringkan diri sebelum berbaring kembali.
Baru beberapa menit berlalu dan Mina sudah merasa bosan atau lebih tepatnya....kesepian. Entahlah, tapi ketika Jeongyeon ada di sana, rasanya waktu berlalu begitu cepat.
Namun setelah dia pergi, meskipun aroma bubur masih tercium di dalam kamar, Mina masih merasakan kesepian.
Menyadari pikirannya sendiri, dia menggelengkan kepala dan memaksa dirinya untuk tidur. Sakit membuat seseorang lemah dan dia tidak terkecuali.
Mina bahkan mulai berpikir bahwa menghabiskan waktu bersama Jeongyeon adalah hal yang baik, mengingat betapa seriusnya penyakitnya.
.
.
.
.
.
Penyakit Mina datang dan pergi dengan cepat. Setelah tidur nyenyak, dia bangun keesokan paginya dengan perasaan segar yang telah lama hilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
Fiksi PenggemarJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
