Tomorrow Tonight - Pt.2

1K 130 17
                                        

round 2, kajja-kajja!*

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

round 2, kajja-kajja!
*



























Chaeyoung lagi nonton sambil selonjoran di sofa, dengan kaos kebesaran, sweat pants, dan rambut dikuncir asal. Remote di tangan kiri, cemilan di tangan kanan. Suasana tenang. Aman. Damaiㅡ Ding dong!

"Dateng juga akhirnya," gumamnya santai. Tanpa mikir panjang, Chaeyoung loncat dari sofa dan jalan ke arah pintu.

"Masuk un..nnie." kalimat si Bule gantung.

Kedua alis Chaeyoung berkerut ngeliat sosok Jennie berdiri dengan tangan di kantong jaket— lengkap dengan kaca mata hitam dan beannie. Bentar— ini Jane salah sebut nama apa gimana deh?

Tapi Jennie sama Jisoo kan beda jauh!

"Kamu.. tumben kesini?" Chaeyoung gak tau cara ngucapin pertanyaan barusan; tanpa terdengar seperti pertanyaan sarkas.

"Emangnya kenapa? Enggak boleh? Ganggu waktumu main sama cewek lain, hm?" sahut Jennie.

"Oh wow wow wow, chill— why so defensive," Chaeyoung ketawa, "Kalau kamu bilang mau datang aku kan bisa nyiapin sesuatu dulu." imbuhnya.

Jennie ngerutin dahinya, "Nyiapin apa?" —curiga.

"Hatiku." Jennie muter bola matanya males sebelum nyelonong masuk ninggalin si pemilik apartemen di depan pintu.

'Really need to prepare my heart tho..' ucap Chaeyoung dalam hati— sebelum nyusul Jennie ke dalam.

Ini bukan pertama kalinya Jennie masuk ke apartemen Chaeyoung— tapi ini kali pertama Jennie datang ke tempat Chaeyoung sendirian. Mata kucingnya otomatis nge-scan setiap sudut teritorial pribadi milik sang dominant. Datar— tapi kayak ada sesuatu yang Jennie cari.

"Kamu, sendirian?" Jennie buka suara setelah matanya menyapu seluruh sudut ruangan.

"Iya. Jane baru aja pergi." jawabnya.

Sunyi lagi.

"Hm.. sorry, kalau boleh nanya.. k—kamu ngapain ke rumahku?" tanya Chaeyoung— garuk kepalanya sedikit gatal.

Jennie melempar badannya ke arah sofa sebelum akhirnya ngejawab pertanyaan Chaeyoung, "Disuruh Jisoo," Dia ngeluarin surat dari Jisoo buat ditaro di atas meja, "Korban pengalihan jadwal."

"Huh?" Chaeyoung makin gak ngerti, "Tadi Jane bilang, Jisoo unnie yang mau datang." lanjutnya.

"Harusnya memang gitu," Jennie mulai nyari posisi ternyaman di atas sofa besar milik Chaeyoung, "Sampai mobil ku tiba-tiba berhenti di basement apartemen kamu dan Pak Lee ngasih surat ini." Jennie nyodorin lembaran yang ada di meja.

Chaeyoung masih dengan ekspresi bingungnya ngambil surat itu, "Ini.. berarti—" mulai nyambungin semua benang merah, "Jadi, ini semua cuma akal-akalannya Jisoo unnie?"

"Yes. Kita sama-sama korban disini." Jennie bales dengan nada pasrah— breakdown nya udah cukup di mobil tadi.

Chaeyoung geleng kepala gak habis pikir, "Astaga..." duduk rada jauh dari tempat Jennie, ngeraih remote terus matiin TV. "Demi apa, niat banget isengnya." suaranya pelan.

"Sampai pake p.s. tiga kali." Jennie ngerasa janggal dengan posisi duduk mereka yang berjarak satu cushion.

Diem.

Sunyi.

Hening kembali.

Detik-detik pertama berjalan— awkwardnya nyata.

Jennie nunduk, maninin kuku. Melirik ke arah remote, terus curi pandang ke arah Chaeyoung. Dalam hati bertanya: Kenapa si bule malah matiin TV tadi? Kan sekarang jadi hening banget ini kayak Ruang Ujian— ujian menyusun hati yang berantakan.

Si tuan rumah melirik ke arah dapur, pura-pura sibuk mikir mau bikin minuman atau nawarin makan— walau nyatanya otaknya kosong dan blank ketika Jennie datang.

"Rosie." panggil Jennie.

"Hm?" Chaeyoung menarik alisnya sebelah.

"What do you do for having fun?" tanya Jennie setelah itu.

"Uhm... fuck?" jawabnya. Kalau aja Jane menyaksikan kejadian bodoh barusan— mungkin Asisten pribadi Chaeyoung itu tepok jidat— dissapointed but not surprised at all.

Jennie cuma ngehela nafas, sebelum nanya lagi, "Selain itu, ada lagi gak?" Chaeyoung mikir keras.

TWO SHOTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang