Sorry barudak, aku teh lupa kalo punya cerita yang harus di tamatin. Hehe 33×
••••
H-8
"Gak mau di pingit" Lirih Rafael dengan mata berkaca-kaca
Nana tertawa, menepuk gemas pipi Rafael, "Satu minggu doang kok, gak lama"
Rafael menggeleng keras, tangannya semakin menarik tubuh Nana kedalam pelukannya. "Itu lama...nanti Fael kangen gimana?"
Nana yang mendengar itu menahan senyumnya, dia juga tau kalau satu minggu itu bukan waktu yang sebentar. "Tahan dulu dong kangen nya, nanti kan pas akad ketemu sama aku" ujar Nana mencoba menenangkan
Pria itu melepaskan pelukannya, menatap Nana memelas dengan mata yang memerah menahan tangis. "T-tapi masih boleh teleponan kan, Bunda?" Nana menggeleng pelan
Bibirnya bergetar, bocor sudah keran yang sedari tadi Rafael tahan. "Mana bisa!" Ujarnya merengek tersedu-sedu
"Heyy, kok nangis?" Tanya Nana sambil tertawa kecil mengusap pundak Rafael gemas
"Udah dong, cepp cepp... Kamu pasti bisa kok"
Rafael menghapus kasar air matanya, "B-bunda kenapa kayak yang seneng banget di pisahin sama Fael?"
"Bunda gak kasihan sama Fael?"
"Nanti kalau Fael kangen gimana? Fael khawatir sama Bunda gimana? Udah gak boleh ketemu, telepon pun gak boleh"
"Gimana caranya Fael bisa tau kalau Bunda baik-baik aja nanti...hiks"
Tangan Nana yang sedang mengusap pundak Rafael terhenti. Yeorobun, hati Nana menghangat mendengar kalimat yang keluar dari bibir lelaki di hadapannya ini. "Sayang" ucap Nana pelan seraya membuka kedua tangannya meminta pelukan yang langsung disambut oleh Rafael
"Kenapa harus di pingit sih...Bunda"
Nana menghela napas pelan tidak menjawab, karna sedari tiga jam yang lalu Rafael selalu mempertanyakan hal yang sama, dan Nana pun selalu menjawab dengan kalimat yang sama juga.
Untuk pertanyaan kali ini, biarlah Nana menjawab dengan bahasa tubuh, yaitu pelukan. Karna lelaki ini baru bisa tenang jika sudah di berikan pelukan olehnya
Tubuh Nana bersandar pada pinggiran sofa, menahan tubuhnya. Memainkan rambut Rafael sambil sesekali mengusap gemas kepala bayi besarnya ini.
Kita lihat saja, berapa waktu yang Rafael butuhkan untuk menangis hingga ia tenang.
"Janji jaga diri baik-baik?" Tanya Rafael pelan, mendongak menatap Nana sedih
Nana tersenyum teduh, mengusap pelipis Rafael pelan. "Janji, sayang."
Mendengar itu, Rafael kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nana. Menghirup dalam-dalam aroma yang akan dirindukan nya ini.
Mengingat pernikahan mereka yang akan diselenggarakan tidak lama lagi, Nana tidak bisa tenang. Dada nya selalu berdegup kencang jika membayangkan hari itu. Tatapannya turun melihat Rafael, ia benar-benar tidak menyangka jika lelaki ini yang akan menjadi teman hidupnya kelak. Lelaki yang memperkenalkan hal-hal baru padanya, lelaki yang selalu menatap nya dengan hangat, lelaki yang membuat Nana bisa melihat masa depan jika dengannya.
"Fael lapar"
Lamunan Nana terpecah, kepalanya sedikit menunduk untuk melihat Rafael, "Mau mam?" Rafael mengangguk pelan
Nana melirik jam dinding, menunjukan pukul lima sore. 43 menit Rafael menangis, pantas saja lelaki itu lapar. Nana menyeka air mata yang tersisa di ujung mata Rafael, "Udah lega?" Tanya Nana lembut
