Belum ada satu minggu Rafael pergi, Nana sudah merasa hari-harinya berjalan begitu membosankan. Padahal mereka tidak pernah melewatkan panggilan vidio setiap harinya, tapi itu tidak bisa membantu untuk menghilangkan rasa rindu Nana kepada Rafael
Setiap melihat wajah dan mendengar suara lelaki itu lewat ponsel, entah kenapa rasa rindunya semakin bertambah. Ini aneh, Nana belum pernah merasakan ini sebelumnya. Itu termasuk hal yang normal bukan?
Gadis itu berjalan menuju halte, menunggu ojek online pesanannya datang. Hari ini hari sabtu, jadi dirinya bekerja hanya setengah hari saja
"Huft...malem ini, malem minggu ya?" gumamnya
"Sepi banget gak ada Fael"
Drtt
Ponsel yang ada di genggamannya bergetar, layarnya menampilkan ada sebuah panggilan masuk. Saat melihat nama si penelepon, Nana dengan cepat mengangkatnya
"Bundaaa" sapa Rafael riang
"Hallo Fael"
"Bunda...Bunda. Tebak, Fael lagi dimana!"
"Hng? Di kantor kan?" tanya Nana balik
"No, no, no! Fael lagi di jalan pulang tauuuu" jawabnya antusias
"Jalan pulang?!"
"Iya, Bunda!"
"Kok cepet banget?" tanya Nana bingung
Tidak ada sahutan dari seberang sana. Nana melihat layar ponselnya, panggilan itu masih tersambung
"Fael?"
"Bunda gak suka Fael balik cepet ya?" lirih lelaki itu
"Gak gitu sayang, kan kamu bilangnya waktu itu satu sampai dua mingguan. Makanya aku agak bingung kamu balik cepet" ujar Nana lembut
"Fael sengaja beresin kerjaannya lebih cepet, biar cepet ketemu Bunda"
"Nanti Fael jemput ya, mau peluk peluk lama"
Nana mengerjap, otak nya memikirkan sesuatu hingga sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. "Ah, aku gak bisa Fael"
"Kenapa?" Lirih Rafael
"Aku ada janji, jadi gak bisa ketemu kamu sekarang"
"Bunda..."
Tin!!
"Dengan mbak Arona?"
Nana menoleh, itu ojek online pesanannya. "Benar, Pak"
"Fael, udah dulu ya? ojol nya udah dateng"
"Bunda-"
"Papayyy anak kecil"
Tut
Nana memasukkan ponselnya kedalam sling bag, lalu dengan cepat dia memakai helm yang diberikan oleh abang ojol tersebut
"Tujuannya bisa di ubah, Pak?"
••••
Rafael memasuki unit apartemennya dengan lunglai, melepas sepatu kerjanya dan menggantinya dengan sandal rumahan
Ia menyandarkan punggungnya di dinding dan mengusap sudut matanya yang berair, "Mau Bunda..." cicitnya bergetar
Punggungnya merosot kebawah, lelaki itu melipat kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya disana. Menangis tanpa suara, dirinya benar benar merindukan kekasihnya
