23. Mood

9.6K 231 1
                                        


Nana mengernyitkan keningnya tidak suka, saat melihat film yang ditonton nya menayangkan beberapa remaja yang sedang party di sebuah club malam.

"Bunda gak suka liat orang yang mabuk mabukan?" tanya Rafael, sedari tadi dia hanya asik mengamati berbagai raut wajah Nana saat menonton film ini

Nana harus mendongak untuk menatap Rafael, karna posisinya sekarang sedang berbaring dengan paha Rafael sebagai bantalannya

"Aku gak suka" balas Nana tegas

"Kenapa? Kamu suka minuman kaya gitu?" lanjut gadis itu bertanya dengan mata memicing

Rafael menggeleng panik, "Enggak, Fael gak suka minum minum kayak gitu" jawabnya cepat seraya menggerakkan tangan kanannya. Karna tangan kiri Rafael sedang sibuk mengelus perut Nana

Nana tidak menjawab. Gadis itu bangun dari posisi tidurnya, dan masih menatap Rafael penasaran

"Bunda, Fael serius. Fael gak pernah sentuh minum minum kayak gitu,"

"Fael juga gak ngerokok" ucap Rafael bersungguh sungguh

Melihat Nana yang masih diam, mata Rafael mulai berair. Tidak, tidak. Hari ini dirinya tidak boleh menangis

'Nangis dong cepet!!!' Batin Nana greget

Rafael mengucek matanya sambil menunduk, dirinya takut kebablasan menangis jika melihat Nana lagi

Sedangkan Nana menghela nafas panjang saat tidak jadi melihat Rafael menangis, padahal dirinya sangat ingin mendengar rengekan lelaki itu hari ini

Nana badmood, gagal sudah melihat air mata lelaki itu. Padahal dia sudah menunggu tangisan Rafael sedari pagi tadi.

Tangan Rafael masih terus bergerak mengelus perut Nana dari luar pakaian. Film sudah selesai dari 30 menit yang lalu, tapi mereka masih duduk diam di sofa itu tanpa ada yang buka suara

"Rafael Alfarizee Danuaksya"

Rafael mematung mendengar panggilan itu, dia semakin menggigit bibir bawahnya kencang. Wajahnya memucat, telapak tangannya berkeringat

Ini kali pertama Nana memanggilnya dengan nama panjangnya. Jantung Rafael berdetak tak karuan, dia takut. Takut Nana tidak mempercayainya soal pembahasan mereka tadi. Tangannya yang mengusap perut Nana sudah bergetar

"Kamu kenapa gak nangis?"

Hah? Rafael berkedip tak percaya. Dia masih menundukkan kepalanya, padahal dia sudah sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menangis hari ini. Kenapa gadisnya bertanya akan hal itu

"Fael gak boleh nangis hari ini. Bunda lagi sakit, nanti tambah sakit kalau denger Fael nangis nangis" lirih Rafael bergetar

Nana menggeser duduknya lebih dekat kearah Rafael, dia menangkup wajah lelaki itu. Tatapannya semakin mendatar ketika melihat bibir Rafael yang kembali berdarah

"Ck, anak nakal!" Nana menepuk pelan bibir Rafael, dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu

Badan Rafael bergetar, dia sudah benar benar tidak bisa menahan tangisnya lagi "HUAAaaaaa...Bunda marah sama Fael...hiks" Rafael meredam suara tangisannya dengan menenggelamkan wajahnya di bantal sofa

"Huhuuu...Bunda...hiks"

Nana menghentikan langkahnya, dia menyandarkan tubuhnya di depan pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Menikmati suara tangisan bayi besarnya ini

10 menit berlalu, Nana merasa sudah cukup melihat Rafael menangis. Dia mendekat kearah Rafael, mengangkat kepala lelaki itu yang ada diatas bantal. Tetapi Rafael menahan kepalanya agar tidak terangkat

"Jangan gini sayang, nanti susah napasnya"

"Bangun dulu ya" bujuk Nana lembut seraya mengelus kepala Rafael

Telinga Rafael memerah, dirinya salah tingkah dipanggil sayang oleh Nana

Rafael menyeka air matanya kasar sebelum menatap Nana, "Perut Bunda sakit lagi?" tanya nya dengan suara purau

Nana tersenyum gemas menatap Rafael, hidung memerah dan mata sembabnya sangat menggemaskan

"Semalam aku bilang apa? Jangan gigit gigit, Fael. Nakal banget sih" Nana mengusap darah di bibir Rafael dengan tisu yang dia bawa saat keluar tadi

"Aku gak suka ah kamu nahan tangis kayak tadi, nanti dadanya sesak lagi mau?" cerca Nana

Rafael menggeleng pelan dengan bibir yang melengkung kebawah, "Bunda" panggilnya bergetar

"Kenapa sayang, hm?" balas Nana seraya mengelus pipi Rafael

"Perut Bunda udah gak sakit?" Nana menggeleng, dirinya memang tidak akan lama merasakan nyeri haid.

Melihat gelengan gadisnya, Rafael langsung menarik Nana dan memeluk leher gadis itu. "Bunda, Fael gak suka minum minum kayak gitu" Rafael kembali meyakinkan Nana sambil menangis

Kekehan terdengar dari bibir gadis itu, "Kalau ke club, suka?" tanya Nana jahil

Rafael menggeleng cepat, "Enggak Bunda, Fael gak akan pergi ketempat kayak gitu. Fael janji"

"Oke, aku pegang janji kamu"

°°°°

Sudah waktunya makan siang, kali ini Rafael yang akan memasak untuk mereka berdua. Dia tidak akan membiarkan Nana menyentuh alat dapur hari ini. Biarlah untuk yang tadi pagi, dia kecolongan.

"Bunda mau makan apa?"

"Kamu bisanya masak apa?" Nana menopang dagunya menatap lelaki itu

"Nasi goreng" Rafael menyengir memperlihatkan gigi gingsul nya

Nana tertawa mendengar itu, dia mengangguk pelan. "Aku mau coba nasi goreng buatan kamu"

Melihat Rafael yang mulai sibuk dengan alat masakan, membuat Nana ingin memeluknya. Jujur saja, Nana sering membayangkan hal ini jika dirinya sudah mempunyai kekasih.

Rafael menegang merasakan pelukan dari belakang, dia mengatur nafasnya agar tidak kelihatan salah tingkah. Salah satu kebiasaan Rafael yang muncul setelah bertemu dengan Nana, adalah bernafas dengan cepat ketika dirinya sedang malu

"Bunda duduk aja ya" ucap Rafael lembut sambil mengelus tangan Nana

"Lho? Aku gak boleh peluk kamu?"

"Yasudah" Nana melepaskan pelukannya, dan mulai berbalik hendak melangkah

Rafael panik, dia dengan cepat memeluk Nana dari depan. "Bukan gitu maksud Fael" lirihnya

Tenang saja, nasi gorengnya sudah matang. Tinggal Rafael pindahkan ke piring

Nana mendongak menatap Rafael intens. Rafael yang ditatap segitunya mengalihkan pandangannya agar netra nya tidak bertubrukan dengan netra gadisnya. Rafael salting.

 Rafael salting

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
RAFANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang