41. Kondangan

4.5K 140 17
                                        

"FAEL!! CEPET DONG, NANTI KITA TERLAMBAT!!"

Suara teriakan itu sampai di telinga lelaki yang ada di dalam kamarnya, "IYA BUNDA... SEBENTAR"

Dirasa penampilannya sudah rapih, Rafael dengan tergesa-gesa menuruni anak tangga untuk menghampiri sang pujaan hatinya

"Ayo, Fael udah siap" ajaknya

Merasakan kehadiran seseorang, gadis itu berbalik badan. Berdecak kecil, "Pakai dasi aja masih berantakan" sindirnya sembari membenarkan dasi yang bertengger manis di kerah kemeja Rafael

Yang disindir hanya menyengir lebar, "Hehe ... Maaf Bunda. Fael kan buru-buru, takut Bunda nunggu lama"

"Suruh siapa bangunnya telat!" Rafael hanya menggaruk tengkuknya saat kembali mendengar sindiran itu

Nana menepuk pelan kemeja Rafael, "Ayo, nanti keburu siang, takut ketinggalan akadnya"

Rafael mengangguk, mengambil tangan Nana untuk di genggamnya, dan melangkah keluar dari apartemen luas itu

Hari ini, adalah hari pernikahan Samuel dan Lea. Dua tahun telah berlalu setelah kejadian itu, banyak hal yang sudah berubah.

Mulai dari Nana yang sudah pindah ke apartemen di depan unit lelaki itu, identitas Rafael dikantor, sampai hubungan mereka yang sudah naik level menjadi 'tunangan'

Ya, tunangan. Tiga bulan lalu, Rafael datang kerumah untuk menyampaikan niat baiknya, walaupun harus melalui serangkaian tes dadakan yang di adakan oleh ayah Nana, tapi lelaki itu bisa menghadapinya dengan percaya diri

"Fitting baju pengantin nya sekarang, Bunda?" tanya Rafael

Nana mengangguk, "Tapi aku gak enak kalau langsung ninggalin mereka pas baru selesai akad" jawabnya kecil

Rafael mengusap lembut punggung tangan Nana dengan ibu jarinya, "Nanti biar aku yang bilang ke mereka"

Nana tersenyum menanggapinya. Dia dan Rafael benar benar disibukkan dengan segala persiapan pernikahan. Sampai beberapa hari lalu Nana sempat drop karna terlalu kelelahan, Rafael sudah mengusulkan untuk menyerahkan semuanya ke wedding organizer, tapi Nana bersi keras untuk campur tangan, demi mewujudkan dream wedding nya––katanya

Pandangannya turun melihat jemarinya yang di genggam erat oleh Rafael, ia benar-benar tidak menyangka akan berhasil membawa hubungan ini kejenjang yang lebih serius. Segala bentuk keraguan di tepis olehnya, karena dia yakin bahwa Rafael bisa membahagiakannya

Netra itu beralih menatap wajah lelaki di sebelahnya. Di dalam diamnya, Nana tidak pernah berhenti untuk bersyukur–karna sudah di pertemukan oleh sosok laki-laki yang sedari dulu ia impikan

"Makasih,"

Rafael menoleh sekilas mendengar lirihan itu, dia merespon dengan menggerakkan ibu jarinya untuk mengusap punggung tangan Nana, menunggu gadis itu menyelesaikan ucapannya

"Makasih karena selalu mengusahakan aku di segala hal, makasih Rafael" ucap Nana dengan nada yang sedikit bergetar. Ntah lah, semakin dekat dengan hari pernikahan mereka, Nana merasa dirinya semakin melankolis

"Sayang..."

"Kamu pantas ngedapetin semua itu" balas Rafael lembut

"Aku gak tau gimana cara balasnya, Fael"

Rafael tersenyum manis, hingga matanya menyipit

Cup

"Kamu cukup temani aku di segala hal, selalu ada di sisi aku, dan temani aku untuk menghabiskan sisa umur yang aku punya. Itu udah cukup"

RAFANACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang