40. Pemakaman

8.1K 254 26
                                        


Sepasang netra coklat gelap memandang datar kearah gundukan tanah yang masih basah. Sedih, marah, menyesal, semua emosi itu menjadi satu, hingga membuat dadanya terasa sangat menyesakkan.

Sebatang kara. Benar, kali ini dirinya benar benar sendirian.

Dia kira, dirinya tidak akan pernah merasakan kehilangan lagi. Dia kira, satu satunya keluarga yang dia punya akan terus bersama dengannya selamanya. Tapi dia lupa, dia hanya manusia biasa. Manusia yang tidak bisa menentang takdir Tuhan.

Tangannya mengepal erat, menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya hingga ia kesulitan bernapas. Pikirannya berkecamuk, hingga ia merasakan usapan lembut di bahunya

Dia menoleh, melihat orang di sampingnya yang tersenyum seolah mengatakan 'ada aku disini'. Ya, dirinya tidak sendirian, dirinya tidak sendirian....






"...B-bunda" lirihnya

••••

"Jangan bengong terus, sayang. Ngomong sama aku" ujar Nana sedih

Sejak selesai pemakaman, hingga malam menjelang, Rafael hanya berdiam diri di dalam kamar. Mulut lelaki itu tidak mengeluarkan satu kata pun

Rafael mendongak menatap Nana dengan tatapan sayu, "Jangan tinggalin Fael, Bunda" ucapnya serak

"Cukup mereka aja yang pergi, Bunda jangan,"

"F-fael mohon..."

Nana menghapus air mata yang kembali turun di pipi Rafael. "Aku disini, kamu gak sendiri" jawabnya lembut

"Oma kamu udah tenang disana, Fael"

Rafael mengangguk pelan, kembali menenggelamkan wajahnya di dada Nana dengan isakan yang masih tersisa

"Mam ya? Kamu belum makan apa apa dari pagi, nanti sakit lagi" bujuk Nana

"Fael gak laper" lirih Rafael

Nana diam, gadis itu memutar otaknya mencari cara agar Rafael mau makan. Suhu tubuh Rafael masih panas, dia harus makan dan meminum obat

"Eumm-- aku lapar deh, lepas dulu boleh? Aku mau makan"

Tidak ada jawaban dari Rafael, membuat Nana menghela napas pasrah, hingga ia merasakan pelukannya melonggar

"Fael ikut"

Gotcha!

•••••

"Mam yang banyak ya" titah Nana seraya menyuapi Rafael

Rafael mengangguk singkat, dia mengambil alih sendok yang ada di genggaman Nana. "Bunda juga" lelaki itu ikut menyuapi Nana

Nana menerimanya dengan senang hati, mengusap rambut Rafael pelan. "Makasih"

Beberapa menit kemudian, acara makan mereka selesai. Nana membawa Rafael menuju ruang tengah, dia masih ingin mencoba menghibur kekasihnya agar tidak bersedih lagi

Baru saja duduk di sofa, Nana sudah di serbu oleh pelukan Rafael. Ah baiklah, sepertinya obat yang diperlukan Rafael hanya pelukan, Nana mengangkat tangannya untuk menyingkirkan rambut yang menjuntai di dahi kekasihnya

Dia mengelus pelipis Rafael dengan gerakan teratur, mencoba membuat lelaki itu merasa nyaman

"Oma sama Opa gak pernah setuju sama pernikahan Mama, Papa"

Nana mengerjap, apakah sekarang Rafael akan menceritakan kehidupannya?

"Papa anak tunggal yang selalu dituntut untuk memenuhi semua keinginan Oma dan Opa,"

"Papa kabur waktu dia dijodohin sama anak dari rekan kerja Opa, karna disitu dia udah punya hubungan sama Mama,"

"Mama anak panti asuhan, dan hal itu yang bikin Oma dan Opa nentang keras hubungan mereka,"

"Papa ngajak Mama keluar negeri buat nikah disana, dia udah gak mikirin mau di restuin atau enggak, yang penting Mama udah jadi istri dia"

"Setahun kemudian, Mama hamil. Oma dan Opa yang tau itu langsung cari cara buat bikin Mama keguguran, karna mereka gak mau punya penerus dari wanita yang gak jelas asal-usulnya" suara Rafael mulai melemah

"Entah gimana caranya, Papa selalu tau perbuatan mereka yang mau nyelakain Mama. Tapi saat itu Papa kecolongan, waktu usia kandungan Mama ke delapan, orang suruhan Oma dan Opa berhasil nabrak Mama yang lagi mau nyebrang"

"Disitu Mama gak tertolong, tapi--tapi dokter berhasil ngeluarin bayi itu dari perut Mama,"

"Papa terpukul dan sempat depresi, di umur Fael yang ke tujuh, Papa milih nyusul Mama dan ninggalin Fael."

"Setelah pemakaman Papa, Fael diseret buat tinggal sama Oma dan Opa. Mulai dari situ Fael selalu dituntut serba bisa, dipukul kalau ngelakuin kesalahan kecil, dijadiin bahan pelampiasan mereka kalau lagi marah, sampe Fael berkali-kali masuk rumah sakit karna patah tulang"

Hati Nana berdenyut sakit mendengar itu, matanya sedari tadi sudah siap menumpahkan cairan bening, tapi sebisa mungkin ia tahan

"Perbuatan mereka berhasil buat Fael berkeinginan untuk mati. Anak sekecil itu setiap hari hanya memikirkan cara untuk bunuh diri. Fael gak mau di sana, Fael cuma mau sama Mama Papa"

"Fael selalu bertanya-tanya, sebenernya apa salah Fael? Kenapa mereka memperlakukan Fael kayak gini?"

"Waktu itu Fael mimpi ketemu Mama sama Papa. Mereka bilang kalau Fael belum waktunya untuk nyusul, Fael harus bertahan sampai ketemu seseorang. Fael gak ngerti, tapi Mama bilang seseorang itu yang akan buat Fael memilih untuk hidup, dari pada mati"

"Mulai dari sana, Fael sebisa mungkin bertahan. Walau sesekali keinginan untuk mati itu terus lewat di pikiran"

"Fael berhasil, Fael berhasil tumbuh dewasa tanpa peran orang tua. Fael berhasil berdiri diatas kaki Fael sendiri"

"Tapi Fael merasa keberhasilan itu percuma, karna nyatanya Fael masih terbelenggu sama rantai tak kasat mata yang mereka buat"

"Tapi hari itu beda, Fael merasa setengah dari diri Fael bebas. Dimana hari yang tidak Fael sangka akan sedikit membuat Fael lega--hari kematian Opa"

"Sehabis pemakaman, karena terlalu merasa bebas, Fael sampai gak sadar kalau kebut-kebutan di jalan. Kebut-kebutan di jalan sambil ngebayangin kalau Fael ketemu sama 'seseorang' itu"

"Seseorang yang Mama maksud, yang sangat-sangat Fael harapkan kehadirannya, dan sekarang--Fael ketemu dia" Rafael menatap Nana dengan mata yang memerah

"Pertemuan yang tidak di sengaja, yang paling Fael syukuri"

Nana mengusap air matanya sendiri, dia tersenyum seraya memegang kedua pipi Rafael

"Terima kasih... terima kasih sudah bertahan sejauh ini, sayang" ujar Nana bergetar

Rafael menggeleng pelan, dia mengambil tangan Nana yang ada di pipinya, lalu mengecup telapak tangan gadis itu. "Fael yang harusnya berterima kasih"

"Terima kasih karna sudah lahir di dunia ini, terima kasih karna sudah hadir di hidup Fael..."

"Fael cuma bisa mengucap beribu-ribu terima kasih untuk Bunda, kalau ada hal yang lebih tinggi dari sekedar kata terima kasih, Fael akan kasih itu ke Bunda..." ujarnya menatap Nana dalam

Nana kembali meneteskan air mata, dirinya tidak menyangka akan dicintai sebegini nya. Bahkan kehadirannya pun sangat disyukuri oleh Rafael

"Tolong jangan pergi, Fael cuma punya Bunda sekarang"

RAFANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang