Saluran Seratandika di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb8jJFPLI8Yam8ioq01N. Yang mau dapat Update terbaru setiap harinya, tentang ceritaku boleh masuk ke sini ya.
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
BRAAAAK!
Suara benturan keras terdengar di seluruh area parkiran supermarket.
Kalila tertabrak dengan sangat keras hingga tubuhnya terpental beberapa meter dan jatuh menghantam aspal. Darah mengalih di sela-sela kakinya. Kantong belanja yang dibawanya terlempar dan isinya berhamburan di jalan. Orang-orang yang berada di sekitar langsung berteriak kaget.
"Ya Allah!"
"Tabrakan!"
Mang Ujang langsung berlari ke arah Kalila dengan wajah panik.
"Neng Kalila! Neng Kalila!" panggilnya dengan suara gemetar.
Kalila terbaring di aspal dengan tubuh yang tidak bergerak. Wajahnya sangat pucat. Beberapa orang mulai berkerumun di sekitar mereka.
"Cepat panggil ambulans!" teriak seseorang.
Mang Ujang berlutut di samping Kalila dengan tangan gemetar. Ia mencoba memanggilnya lagi.
"Neng... Neng Kalila..."
Namun tidak ada jawaban.
Seseorang di kerumunan mencoba memeriksa kondisinya, lalu wajah orang itu langsung berubah serius. Mang Ujang semakin panik. Dengan tangan yang gemetar ia segera mengambil ponselnya dan menelpon Altaf.
***
Di kantor, Altaf sedang duduk di ruang kerjanya ketika ponselnya berdering. Ia melihat nama di layar.
Mang Ujang.
Altaf langsung mengangkatnya. "Halo, Mang?"
Namun suara Mang Ujang di seberang terdengar sangat panik. "D-den... Neng Kalila... kecelakaan..."
Deg! Hati Altaf mengeclos.
Altaf langsung berdiri dari kursinya. "Kecelakaan? Maksudnya apa, Mang?!"
Suara Mang Ujang hampir bergetar menahan tangis. "Tadi... ada mobil nabrak Neng Kalila di parkiran supermarket... Mang sudah teriak... tapi kejadiannya cepat sekali..."
Wajah Altaf langsung pucat.
"Kalila sekarang di mana?!" tanyanya dengan suara tegang.
Mang Ujang terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,
"Neng Kalila... tidak selamat, Den..."
Dunia Altaf seperti berhenti saat itu juga. Altaf masih memegang ponsel dengan tangan gemetar. Wajahnya pucat, napasnya terasa berat setelah mendengar kabar dari Mang Ujang.
Di saat yang sama, pintu ruangannya terbuka. Riza baru saja masuk sambil membawa beberapa berkas. "Boss, ini ada berkas yang perlu-" Kalimatnya terhenti.
Ia melihat Altaf berdiri kaku di dekat meja dengan wajah yang sangat pucat. Ponsel masih menempel di telinganya, dan ekspresi Altaf terlihat benar-benar terguncang. Riza langsung merasa ada yang tidak beres.
Di seberang telepon, suara Mang Ujang masih terdengar panik. "Den... orang-orang di sini sudah panggil ambulans..."
Altaf seperti baru tersadar. Suaranya bergetar saat ia bertanya, "Mang... istri saya sekarang di mana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ALKALI
EspiritualBacalah My Imam Until Jannah lebih dulu, agar tidak bingung! *** Muhammad Altaf Khair Wijaya seorang pembisnis muda. Ketampanan yang di milikinya di warisi dari sang Ayah. Dia pria yang memiliki sifat di...
