Chapter 6

49K 2.4K 12
                                        

Pria berwajah dingin sedang menatap dari atas Pesta yang dia buat untuk para Pegawai Perusahaan. Dia menatap satu persatu para undangan yang merupakan bawahan dan kolega bisnisnya dengan menggenggam satu gelas minuman keras dan menggoyang-goyangkannya dengan tangan kiri.

Dia memang kidal.

Tatapannya sedingin es itu menyusuri tiap undangan. Entah apakah dia sedang mencari seseorang atau memang itu kebiasaannya.

Dia adalah Pria dengan kepribadian misterius.

Pandangannya terkait pada sepasang wanita dan pria. Dia menajamkan pandangannya menemukan bahwa pria itu adalah salah satu kolega sekaligus teman kampusnya dulu. Dia mengalihkan lagi tatapannya pada si wanita karena kemilau gaunnya yang menyilaukan mata kemudian menatap dalam-dalam menajamkannya pada wajah yang tidak terlihat terlalu jelas. Namun kibasan rambut dan bagaimana dia berdansa membuatnya sangat penasaran.

Kenapa aku seperti mengenalnya?

Gumamnya dalam hati.

Dia terus menerus memberikan perhatiannya pada lantai dansa. Wanita itu membuatnya sangat penasaran sekuat apapun dia berusaha untuk mengalihkan perhatiannya. Dia tahu sifat impulsifnya sudah menguasainya kini. Pria itu mungkin temannya tetapi wanita itu sudah membuat pikirannya stuck.

Ada apa dengan pikiranku? Sial ini sangat menyebalkan!

Pekiknya kesal dalam hati.

Dia masih dengan tatapan penasaran. Keingintahuan yang besar seperti akan membunuhnya. Dia perlu segera tahu siapa wanita itu. Dia bahkan tidak peduli jika wanita adalah kekasih dari koleganya.

" Brad."

Ucapnya dengan nada datar.

Pria lain yang berdiri di belakangnya kini maju satu langkah. Dia tetap menjaga jarak dan berdiri dibelakangnya.

" Ya,Tuan?"

Bertanya dengan berhati-hati.

" Cari tahu siapa gadis dengan gaun Sequin itu."

Perintahnya.

" Baik, Tuan."

Ucapnya tanpa penolakan.

Pria itu pergi setelahnya.

" Kau seharusnya mengajak Lucy kesini."

Ucap Rose.

Dia dan Clark yang sedang berada di lantai dansa. Terbesit niat dalam pikiran Rose tadi untuk mengajak Kakaknya berdansa. Sudah lama sekali mereka tidak datang pada acara pesta bersama seperti ini.

Rose menarik lengannya memaksa untuk berdansa. Dia merasa canggung untuk turun lagi ke lantai dansa. Ini sudah lama sekali dan keahliannya sudah tidak seperti dulu tetapi wajah memelas Rose membuatnya luluh. Clark hanya mampu menghela nafas dan mengabulkan permohonan adiknya itu.

" Kau seperti memiliki sihir yang memaksaku untuk berkata iya."

Ucap Clark dengan nada kesal.

IMPULSIVE BOSSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang