Chapter 23

21.3K 1.1K 55
                                        

Flashback

Salju turun semakin deras memaksa dua orang manusia itu untuk berjalan cepat menuju sebuah Kedai Kopi kecil yang berada tak jauh dari Universitas.
Beruntung di dalam Kedai Kopi tersedia api unggun dan mereka memutuskan untuk duduk di depan api unggun tersebut.

Berkali-kali Gadis itu mengusap-usap tubuhnya dengan telapak tangan. Dia memiliki tubuh kecil yang cenderung ramping dengan cadangan lemak yang rendah, di tambah dengan pakaian seperti itu, dia benar-benar merasa sangat kedinginan tadi. Bibirnya yang merah kini berubah pucat begitupun dengan kuku tangan dan kakinya. Namun ide menerima ajakan tentang minum kopi itu memang sangat brilian. Api unggun membantu menghangatkan tubuhnya.

Alexander tidak merasa kedinginan, dengan setelan hangat yang lengkap, pakaian tiga lapis dengan long coat berbahan wol yang tebal dan tubuh penuh otot membantunya tetap merasa hangat.

Mereka kini sedang membaca menu.

" Kopi?"

Tanya Pria itu memecah kesunyian.

Dia masih membaca dengan serius menu itu.

" Latte hangat dengan sirup hazelnut."

Ucapnya pada pelayan yang sudah berdiri tepat di samping mereka.

" Bagaimana denganmu Tuan?"

Tanya Pelayan itu.

Alexander mendengar dengan baik pertanyaan itu namun tatapan sama sekali tidak berpaling dari gadis yang duduk di kursi kayu tepat di hadapannya.

" Berikan aku minuman yang sama."

Balasnya dengan suaranya yang dalam.

Tatapan masih pada Gadis yang sedang berusaha menghangatkan diri itu.
Dia selalu menyukai bulan-bulan ini, musim dingin dengan salju yang berjatuhan dan dia sekarang semakin menyukainya.

Dia seperti bunga yang tumbuh di tengah dinginnya musim salju.

Gumamnya sembari mengukir ingatan dari setiap inchi wajahnya di dalam memori di kepalanya.

Rose mengalihkan pandangannya pada Pria yang sudah lebih dulu menatapnya.Tatapan yang tajam itu membuatnya merasa terintimidasi, membuat seorang Rose yang lugu dan tidak pernah peduli tentang Pria menjadi tersipu. Alexander jelas  bukan Pria pertama yang terpesona oleh kecantikannya tetapi dia Pria pertama yang berhasil mengambil alih perhatiannya.

Mereka hanyut dalam kesunyian. cukup lama.

" Jadi kita punya selera yang sama benar?"

Ucap Alexander membuka perbincangan kembali.

Wajahnya terlalu kaku untuk memberikan ekspresi ramah dan selalu tampak tenang. Dia bukan Pria hangat dan romantis yang semua Gadis harapkan untuk miliki. Kulit terang cenderung pucat dan sepasang mata biru yang dalam itu membuatnya terlihat seperti
'Pria Dingin Tanpa Toleransi'. Walaupun sebenarnya, dia merasa gugup dengan laju detak jantung yang tidak normal namun dia terlalu pandai dalam menyembunyikannya.

" Apa kau benar-benar menyukai kopi?"

Balas Gadis itu.

Dia hanya mengatakan apa yang begitu saja terlintas.

" Tentu saja."

Jawabnya.

Bibir Rose membentuk huruf O.

" Karena tidak biasanya laki-laki menyukai rasa hazelnut."

Kembali berbicara.

Alexander menyipitkan matanya.

IMPULSIVE BOSSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang