Flashback
Pria itu melambaikan tangannya memberi isyarat menyuruhnya untuk duduk di kursi yang sama seperti satu minggu yang lalu. Dia memberi senyum terbaik yang bisa di berikan.
"Terima kasih."
Ucapnya sedikit terbata-bata.
Dia duduk dengan posisi yang sama lalu mengintip dari balik bulu matanya. Alexander terdiam sejak tadi dan hanya menatapnya terus-menerus membuatnya sangat ingin berlari setelah ucapan terima kasih itu.
" Bagaimana kabarmu?"
Ucapnya membuka pembicaraan.
" Lumayan lelah menunggumu."
Jawabnya singkat.
" Menungguku?"
Bertanya dengan wajah bingung.
Pria itu membersihkan tenggorokan.
" Ya menunggumu."
Ucapnya sambil mengusap hidungnya yang gatal.
Bibir Gadis itu membentuk huruf O.
Alexander mendatangi kedai itu setiap hari selama satu minggu belakangan ini. Dia datang setiap jam sembilan pagi dan pulang jam delapan malam ketika Kedai akan tutup. Sembari menunggu dia membaca buku literatur itu, dia memang menunggu kedatangannya. Satu minggu berlalu, dia tetap melakukan hal yang sama, menunggu Gadis itu datang sudah seperti rutinitas barunya. Dia memang Pria yang punya tekad kuat.
Alexander menyeruput kopi latte hazelnut hangat yang dia pesan setiap hari itu dengan modifikasi pengurangan gula sesuai seleranya. Gadis itu ada benarnya. Rasa hazelnut memang bukan favorit para Pria tetapi dia tetap saja memesan rasa yang sama.
Rose beranjak dari tempat duduk.
"Aku harus pergi karena teman-temanku sedang menungguku."
" Terima Kasih sekali lagi."
Ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Pria itu memberi tatapan tajam. Dia menyipitkan matanya, memberi tatapan mengintimidasi, berusaha mencari tahu kebenaran. Dia sangat marah sebenarnya tetapi berusaha sabar untuk pertama kalinya.
Apakah dia tidak sadar bagaimana aku sudah menunggunya seperti orang gila selama satu minggu ini?
Hardiknya kesal.
Dia menarik nafas dan mengalihkan pandangannya ke arah salju yang turun melalui jendela kaca Kedai. Dia berharap sesuatu yang lebih seperti interaksi atau makan malam bersama sebagai balasan.
Rose terlalu gugup hingga rasanya ingin muntah, dia berusaha untuk terlihat cool namun tak sanggup menahan ekspresi ini lebih lama lagi.
Terlihat cool itu melelahkan!
Ucapnya membatin.
Dia memasang sebuah senyum kaku dan pergi mungkin adalah jalan keluar terbaik.
Mungkin.
Rose melangkahkan kakinya dengan ragu-ragu. Jika di telusuk sebenarnya dia masih ingin berada di sini namun entah mengapa rasa gugup berhadapan dengan Pria ini seperti mencekiknya.
Alexander beranjak dari tempat duduk dengan langkah kakinya yang jenjang, dia menarik dengan cepat lengan Gadis itu, membuat mereka berhadapan satu sama lain dan sangat membuatnya terkejut.
Dia menekuk alisnya.
Alexander tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Dia sudah terobsesi dan jika itu terjadi, berbagai cara akan dia lakukan. Dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, selalu seperti itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
IMPULSIVE BOSS
RomansRose Elizabeth Nolan adalah gadis cantik dari kalangan menengah keatas yang berasal dari Inggris. Dia diterima bekerja di sebuah perusahaan raksasa bernama Thorn Company yang berada di Newyork dan memutuskan untuk pindah ke Amerika demi mengejar cit...
