33

2.3K 65 2
                                        

Deva

"Risy, gue mau ngomong sama lo."

"Iyaa gue tau. Makanya tumben banget lo ngajakkin gue ke sini." Risya tersenyum semanis mungkin yang dia bisa.

Aku harus menjauhkan Risya dari hidup ku. Dia pikir dia siapa bisa dateng dan pergi seenaknya.

"Gua sama lo, udah ga ada hubungan apa apa lagi sya. Jadi stop hubungin gua atau ngelakuin apapun buat gua."
Risya terdiam mendengarku. Aku tau itu kasar banget, dan semua cewek pasti sakit hati dengernya. Risya menundukkan kepala nya, aku yakin dia mau nangis.

1

2

3

Risya mengangkat kepalanya dan kini mata nya berair dan ia sesegukkan. Orang-orang yang berada di sekitar memperhatikan kami. Malu banget asli. Ya Tuhan tolong lah aku, please.

Aku segera menarik Risya masuk ke dalam mobilku. "Dengerin gua, lo disana tadi udah malu-malu in gua, orang-orang mikir gua nyakitin lo."

"Kata-kata lo tuh bikin gua sakit hati. Lo ga mikir apa, Dev?"

Kata-kata aku? Dengan kata-kata doang dia sakit hati? Gimana rasanya ngeliat cewek yang dulu lo sayang jalan sama cowo lain? Dan gaada rasa atau kata maaf yang bener bener minta maaf keluar dari mulut dia, dan sekarang dia balik lagi buat lo.

"Keluar sya dari mobil gua sekarang."

"Dev, aku minta maaf.."

"Gua mohon ya sya, tolong keluar dari mobil gua, gua bisa manggilin lo taxi."

Risya mengelap semua air mata nya, termasuk maskara nya yang luntur membuat matanya item dan wajahnya.

Taxi biru yang aku pesan untuk Risya datang. "Sampe ketemu pas latian band ya." Risya memelukku, perlahan aku melepasnya.

"Janji ya, lo ga bakal bilang siapa siapa tentang kita? Gua gamau banyak orang tau, apalagi ikut campur." Aku berjalan cepat menuju mobilku dan pulang ke rumah.

Sekarang, Anna.

Lagi ngapain dia?

Kabarnya dia gimana?

Aku tidak ingin jatuh cinta lagi, suka sama orang lagi, sayang sama orang. Kelemahan jantung ku membuat semuanya rusak.

"Dev? Oh kamu udah pulang. Papa kira kucing tadi yang masuk."

Aku tersenyum ke arah papa.

"Udah pa,"

"Gimana tadi?"

"Ya gitu. Udahlah Deva gamau ngomongin lagi."

"Ke bali mau ga Dev?"

"Ha?"

Papa mengeluarkan dua tiket pesawat. Papa tersenyum senang. Akus sendiri kaget melihatnya, sudah lama sekali kami tidak berjalan-jalan ke tempat jauh, semenjak mama meninggal.

"Serius pa?"

"Iya.....jadi Papa gamau kamu stress, karena cewek, penyakit, atau karena hal lain, papa mau ngajak kamu liburan. Papa juga butuh liburan kan?"

"Kapan woi pa ke Bali?"

"Nanti malem. Papa juga udah mesen hotel kita dua minggu disana."

"Sumpah Deva ga percaya! Bentar pa, Deva siap siap dulu bentar pa!" Aku segera menyiapkan semua barang-barangku.

Papa benar, yang aku butuhkan liburan, ke tempat tenang seperti Bali, mungkin lebih baik Hawaii? But Bali is enough.

Jam telah menuju angka lima. Aku dan Papa berangkat menuju bandara. Aku mengambil beberapa obat untuk pereda sakit jantung di atas meja. Ini untuk berjaga-jaga.

"Pa, Deva tidur ya..hehe ngantuk."

"Yaudah di belakang sana, nanti papa bangunin."

Aku masuk ke dalam mobil bagian belakang dan mendengarkan lagu dengan earphone.

Tell me,
Tell me that you want me,
And I'll be yours completely
For better or for worse.

I know,
We'll have our disagreements,
Be fighting for no reason.
I wouldn't change it for the world.

'Cause I knew
The first day that I met you
I was never gonna let you,
Let you slip away.

And I
Still remember feeling nervous
Trying to find the words to
Get you here today.

You make my heart feel like it's summer
When the rain is pouring down.
You make my whole world feel so right when it's wrong.
That's how I know you are the one.
That's why I know you are the one

Life
It's easy to be scared of.
With you I am prepared for
What is yet to come.

'Cause our two
Hearts will make it easy
Joining up the pieces
Together making one.

You make my heart feel like it's summer
When the rain is pouring down
You make my whole world feel so right when it's wrong
That's how I know you are the one
That's why I know you are the one

When we are together you make me feel like my mind is free and my dreams are reachable, whoa
You know I never ever believed in love, I believed one day that you would come along and free me

You make my heart feel like it's summer
When the rain is pouring down
You make my whole world feel so right when it's wrong

That's how I know you are the one
That's why I know you are the one
That's why I know you are the one
That's how I know you are the one

Lagu ini mengingatkan ku pada Anna. Aku benar-benar yakin Anna adalah...jodohku? Oke ini emang bodoh banget, tapi dengan Anna aku merasa nyaman. Apalagi saat dia menjengukku, itu artinya dia peduli dengan ku. Aku menutup mataku, membayangkan wajah Anna. Semua hal yang Anna lakukan membuatku nyaman.

Aku teringat kembali ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Lucu. Banget. Lucu banget. Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat semuanya. Mengingat Anna. Sejujurnya, aku nyesel kenapa aku harus menjauh dari dia, dan aku benar benar merasa kehilangan. Tapi, lebih nyesel lagi kenapa aku harus sayang sama dia, kalau aku nantinya juga bakal pergi karena penyakit ini.

***

"Dev, udah nyampe. Bangun." Papa menggucangkan badanku pelan.

"Oh iya,"

Aku dan papa berjalan memasuki bandara dan menunggu kedatangan pesawat kami.

"Di Bali nanti, papa mau kamu relax aja, gauah mikirin apa pun. Everything's gonna be okay."

"Iya paps. Relax."

M I N E Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang