Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terkenang bagaimana sendiri-sendiri berkumpul dalam kepul jilat lengan surya. Berdiri sendiri-sendiri, kerumunan kepal asa pada sebuah tanah lapang. Berperasaan sendiri-sendiri, mengampu mata cita dari rongga jati diri. Meraih level yang satu lagi.
Awalnya tiada kenal satu sama lain. Kita malu-malu dalam balut putih biru. Tak tahu menahu, lalu begitu saja sampai lalu, tiada paham sebentar lagi biru 'kan berlalu. Sampai waktu berbaur menabur sekat-sekat gigantis apatis di antaranya. Sampai angin ingin dingin lekas-lekas menguap. Sampai terusirlah semilir memorabilia tempo hari. Sampai kaku tangan pun lentur mengulur. Sampai hilang akhir. Sampai hilang ukir. Sampai sendiri-sendiri terangkumi sebuah kata. Kita.
Dari sanalah semua minda bening itu melekukkan muaranya. Menghengkangkan suara hati dan dambanya yang lumrah minta kembali. Namun, tiada kata kembali. Tiada kata mengulangi. Tiada kedua kali. Impianlah yang menggambari sketsa kemudian. Meremajakan ketidaktahuan. Buat sekat-sekat itu melarat dan tak selamat. Buat dinding-dinding tuding itu telanjang. Buat kanak-kanak itu dipecundangi. Lalu, kita pun sadar. Abu-abu genaplah menghiasi. Resmi. Bergandengan selempang putih bersih. Dan kasih. Dan kisah.
Berhulu lucuti lucu yang dulu. Berhulu masa orientasi, batasan-batasan itu perlahan-lahan lunglai dan kebas. Hari-hari permulaan, batasan-batasan itu memekik dan menyiksa diri mau lepas. Detik-detik elastik, batasan-batasan itu akhirnya tersedak sesak napas. Hingga sebuah persinggahan nan nyaman pemersua cakap, canda, tawa, serta lara mengorbit lebar-lebar gerbangnya. Sejurus itulah sekapur sirih merekah. Hangat. Menyirnakan desah. Semangat. Dan batasan-batasan itu pun menyudah. Batasan-batasan itu pun bebas. Batasan-batasan itu pun kalah. Punah.
Pagi hari dengan sandangan dunia di bahu. Otak jernih nan harum. Riang, awali fase pendewasaan arif. Merasai seragam kebanggaan menjelma perisai dan genggam energi melakon samurai. Lupalah yang dulu. Terfokus pada yang kini. Kaki menjadi saksi. Kuar embun bereaksi. Melangkah. Berjinjitan. Menuju belasan kelas. Ya, kita dipisahkan. Lagi-lagi. Dan, meski sayangnya terserobot adangan, tetapi tiada kita serta merta melantas. Ikhlas. Kita tetap padu. Kita tetap utuh. Kelas-kelas itu hierarkinya hanyalah kertas-kertas. Direkatkan dalam sebuah sampul. Disusun menghimpun sebuah buku. Dan setiap kita adalah huruf-huruf. Memeran tinta di setiap lembarannya. Mendaulat cerita. Untuk sang buku. Lalu merajutnya. Lalu melagukannya. Terhitung tiga tahun ke depan. Bersama dinamika. Bersama putih dan abu.