Perihal Rupa Kenangan

196 11 0
                                    


Kemarin, aku berbincang dengan kenangan
katanya, kamu sedang senang berangan
menerka peta takdir di telapak tangan
raba peluang-peluang pengulangan
lalu, ketika kutanya apa gerangan
juga bagaimana cerita gerangan
kenangan bilang supaya jangan
bantahnya, kelak kukehilangan.

Kini, aku malah candu akan ingin
meski kenangan menilaiku tak ingin
pekiknya, aku cuma putik tamak angin
masihlah benakmu imbesil dalam pengin
kenangan berhasil jadikanku benci ingin
lantas, nihil bagai kerai diberai angin
sungguh pula dia itu selicin angin
anonim, oportunis, dan dingin.

[]

PuspawarnaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang