Chapter 7 (Edited)

588 16 1
                                        

Mila POV

Apapun yang terjadi laki-laki itu selalu membantuku. Wajah tampan memikat hati setiap gadis semenjak di bangku SMA. Mungkin dari sejak dia lahir, dia sangat populer. Pintar, cuek, berani dan banyak uang. Kevin si Konglomerat Jakarta.

Lama kelamaan kami nyaman dengan persahabatan ini, Kevin tidak pernah memanfaatkanku. Dia bersahabat dengan tulus, meski aku sulit berteman dengan siapapun.

Dia berani memperkenalkan dirinya. Meski Aku bersikap cuek, dia terus berusaha agar Aku mau menjadi sahabatnya. Aku sempat kena bully, beberapa genk anak sekolahan menyangka Aku adalah pacar Kevin.

Mungkin karena kami selalu bertemu di kantin, pulang bareng dan hang out bareng. Nonton bioskop, makan dan makan. Ya, hobi kami sama.

Aku selalu menjadi tempat curhat setiap Kevin mendapatkan problematika dalam hidupnya. Aku adalah Ibu kedua yang selalu menasehatinya, menggelikan bukan?.
Kevin adalah anak tunggal dari seorang pengusaha batu bara, mungkin jika ini zaman kerajaan kuno. Kevin adalah pewaris tahta kerajaan. Di besarkan di keluarga yang begitu disiplin, penuh kebahagiaan dan glamour.
Aku sudah tidak aneh dengan bully-an dari beberapa teman wanita Kevin yang merasa iri. Jujur saja, semenjak bangku SMA. Aku tidak pernah melihat Kevin menggandeng pacar atau curhat mengenai seorang wanita kepadaku kecuali mengenai ibunya. Apakah itu pertanda Kevin adalah seorang gay? Oh No, Aku selalu menyingkirkan pertanyaan itu karena teman Kevin itu banyak dan tidak pernah terdengar gosip miring tentangnya. Apakah Kevin pernah menyimpan perasaan pada seorang wanita? Sungguh beruntung bagi wanita yang mendapatkan hati Kevin.

Sekarang kami merasa canggung, 4 tahun kami berpisah dan tidak ada komunikasi sama sekali. Aku rasa ini hal yang wajar, setelah sekian lama tentu banyak perubahan yang terjadi pada kami. Namun hal itu kembali terpatahkan, Kevin tidak berubah. Dia selalu care padaku, aku takut sekali jika kepeduliannya padaku menumbuhkan rasa yang seharusnya tidak ada. Jauh dalam lubuk hatiku, Aku sangat bahagia di perhatikan oleh Kevin. Aku tahu jika Kevin hanyak menganggap kami sahabat, aku harus menyingkirkan perasaan ini. Karena aku takut terluka, aku tidak mau kehilangan seorang sahabat.

Kevin POV

Tanpa sepengetahuan Mila, jauh sekali semenjak bertemu di bangku pertama kali sekolah, Aku sudah menaksir Mila. Hanya Aku bukan tipe pria yang bisa mengungkapkan cinta seperti Rudi. Aku takut rasa cinta ini hanya bertepuk sebelah tangan bahkan bisa jadi malah menyakiti wanita yang aku sukai.
"Vin, are you single.. didn't you have GF?" Ucap seorang wanita di DM IG.
"Sorry mam, im single" Balasku dengan cuek.
"Hei tampan! Masa hari gini kamu single?? Aku mau kenalkan kamu pada wanita cantik mau gak?" Tanya wanita itu dengan penuh antusias.
"Gak tante, Kevin bisa mencari wanita sesuai dengan pilihan Kevin." Aku segera mematikan Hp dengan sekejap pembicaraan langsung terputus.
Itulah diriku, mataku terhipnotis hanya tertuju pada Mila. Wanita yang tidak dapat Aku lupakan meski beberapa tahun Mila mengenyam pendidikan di Amerika. Aku sadar jika pilihan ini begitu berat, coba bayangkan lulusan Amerika. Sedangkan Aku hanya sarjana lokal saja, sebenarnya bukan karena Aku tidak mampu. Aku bisa mengenyam pendidikan di luar negri bahkan Aku sudah mendapatkan beasiswa studi di Jerman. Betapa gembira keluarga besarku saat itu, sayang sekali Aku menolak mentah-mentah semua itu karena alasan menunggu kemanakah Mila akan melanjutkan studinya. Aku akan mengikuti langkah Mila jika mengambil universitas di Indonesia. Namun, mengetahui Mila memilih Amerika, kekecewaan meruak di dalam hatiku. Aku menolak beasiswa ke Jerman hanya untuk bersama-sama dengan Mila. Aku sadar siapakah Aku baginya? Mungkin suatu hari nanti Mila akan mengerti perasaanku ini. Aku tidak mau membuktikan cinta dengan ucapan, Aku ingin Mila merasakan apa yang telah aku perbuat selama ini murni tulus untuknya. Apakah Mila akan memahaminya ataukah dia akan menolakku?
Tiba-tiba Hp berdering, Aku segera beranjak untuk menjawab panggilan.
"Ya Paman? Oh begitu sending ke line Kevin ya? Terima kasih Paman, iya..iya nanti kalau Kevin sudah di Jakarta Kevin jelaskan semuanya."
Terdengar percakapan yang samar, Aku membuka kiriman Paman dan akhirnya mendapatkan apa yang dicari selama kunjungan sosial.
Mila dan panitia sedang sibuk mengurus keperluan untuk kembali melanjutkan perjalanan dari Sukabumi ke Perbatasan Jawa tengah dan Jawa Barat yaitu Cirebon.
"Mila, bisakah kita bicara?" Aku meminta dengan hati-hati.
"Ada apa vin? Sepertinya kamu serius?" Mila tersenyum kemudian duduk di dekatku.
Udara hari ini begitu sejuk, suasana begitu tenang dan penuh kehangatan dari sinar Matahari pagi.
"Aku dapat alamat Ayahmu Mil..." Aku tertegun ketika botol minuman Mila terjatuh.
Mila terdiam seribu bahasa, aku tidak tahu apa yang terbesit di pikirannya. Lantas Aku melihat pelupuk matanya basah. Aku membiarkan air mata itu terjatuh karena itu adalah air mata bahagia.

Broken (Under Editing)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang