Chapter 4 (Edited)

674 19 0
                                        

Mila POV

Saat kecil saat usiaku 7 tahun, Ayah menggendongku dikala fajar menyingsing untuk berenang di tepian sungai yang jernih.

Kalian tidak akan menyangka hidupku di masa lalu tidaklah bergelimang harta. Aku nyatanya adalah seorang anak desa, lebih jelasnya pelosok desa yang masih asri.

Dia tertawa melihatku yang berusaha berenang tanpa bantuannya. Terkadang kami berdua tertawa hanyut dalam keceriaan di sambut mentari pagi yang indah.

Aku melihat air bagaikan kilauan berlian di pagi hari, hatiku begitu damai disertai suasana yang begitu hangat yang di impikan oleh semua orang.

Ayah adalah kekuatanku untuk mengenal segala sesuatu yang baru. Apabila malam Ayah menunjukkan sesuatu yang membuatku tidak dapat melupakannya.

Menjelang subuh, Ayah membangunkanku.

"Bangun, bangun Mila... Ayo kita lihat bintang.." Ayah menggendongku dengan hati-hati, mataku masih sendu akibat aku dibangunkan secara terpaksa. Sengaja Ayah menyarungkan kain ke kepalaku agar putrinya ini tidak merasakan hawa udara yang begitu dingin diluar sana. Ayah mendudukkanku di sebuah tugu pagar milik tetangga dan menyuruhku menatap langit yang gelap namun bersih. Saking bersihnya aku melihat bintang-bintang bertaburan banyak sekali jumlahnya.

Rasa kagum menyeruak di dadaku.

"Wah....indahnya banyak bintang....." Aku merasa takjub dengan pemandangan waktu itu, aku tidak menoleh kemanapun kecuali ke atas langit.

Sekilas tidak ada perbedaan dari bintang-bintang itu. Tetapi lama kelamaan Aku heran mengapa ada bintang yang berkerlip sedangkan ada beberapa bintang yang tidak berkerlip.

"Ayah mengapa bintang itu warnanya hanya satu? Coba lihat disana ada bintang yang berkedip terus.." Penasaran bertanya pada Ayah.

"Bintang yang tidak berkedip itu bukan bintang nak, itu adalah planet..." Jawab Ayah sambil memandang bintang.

"Apa itu planet Ayah?" Aku semakin bingung.

"Di atas langit kita ada beberapa benda luar angkasa, ada bintang, ada planet, ada bulan, ada matahari dan asteroid."

"Ayah ada yang bergerak lihatttt..." Aku berteriak karena heran bercampur rasa takut.

Ayah tertawa, memandang kebahagiaan yang Ayah tunjukan saat itu adalah sebuah kenangan. Karena setelah hari itu tidak ada lagi guratan kebahagiaan di hatinya.

Hingga suatu malam, Aku sudah berada di dalam mobil dengan adikku Andre yang masih bayi. Ibu terlihat begitu sedih, dan aku tidak tahu dimana Ayah.

Aku kira Ibu mengajak kami jalan-jalan, nanti kami akan pulang membawa banyak cerita pada Ayah. Hingga saat ini. Aku tidak pernah pulang. 18 tahun lamanya, Aku tidak melihat bahkan mendengar kabarnya.

Aku melamun hingga di sebuah persimpangan jalan baru aku menyadari, Aku berada dalam perjalanan tour bersama kawan-kawan. Semua pada turun dari mobil hanya untuk melepas penat apalagi kami wanita memerlukan WC.

Perjalanan menuju Sukabumi masih jauh ternyata, Aku beserta yang lain turun di sebuah rest area untuk makan siang.

Tiba-tiba Kevin menghampiriku, dia berpura-pura menyediakan sebotol minuman untuk membuyarkan lamunanku.

"Daritadi kamu hanya melamun, apa yang kamu lamunkan?" Tanya Kevin penasaran.

Apakah daritadi Kevin memperhatikanku? Mana mungkin juga dia itu sejak awal bertemu denganku sangat cuek. Bahkan aku jadi merasa canggung berada di dekatnya.

Tidak ada basa-basi sama sekali dari seorang Kevin. Apa mungkin Kevin memiliki pacar sehingga dia menjaga jarak padaku? Tapi entahlah itu. Bukan urusanku juga.

Aku bertanya seperti itu karena memang kita bersahabat baik, hangout bareng, nonton bahkan mengerjakan pr bersama.

Tetapi itu sudah beberapa tahun silam semenjak kepergianku ke Amerika untuk pendidikan. Aku kehilangan kontak pada mereka semua karena kesibukanku maka dari itu mungkin ini yang membuat Kevin canggung terhadapku.

Sekarang Kevin banyak berubah, dia sangat dewasa dan semakin tampan. Dia adalah laki-laki tampan yang pernah aku temui. Oh ya ampunnn... aku harus enyahkan pikiranku ini karena Kevin adalah sahabat baik bagiku. Tidak lebih.

"Hanya sebuah kenangan..." Aku menjawab singkat.

"Waw...kenangan bersama siapa, cowok?" Tanya Kevin serius.

Aku memandangnya langsung, diapun memandangku. Sekarang kita tengah beradu pandangan karena apa maksudnya menanyakan hal itu padaku padahal dia tahu bukan urusannya mengetahui siapa yang aku pikirkan.

"Ya. Tentang sesosok pria." Aku menjawab datar-datar saja.

Aku melihat wajahnya berubah menjadi sendu, mungkin dia menyangka jika Aku tengah menjalin hubungan dengan seorang pria yang bisa kalian sebut pacar.

Kevin melihatku kembali dan mencoba membaca mataku yang mungkin dia pikir aku berbohong. Pertanyaannya mengapa?

"Siapa dia? Apakah dia teman dekat kita?" Tanya Kevin begitu serius.

Aku melihat mata kevin yang sangat lugu, "Kepo banget sih kamu" Aku menepis pertanyaannya supaya dia tidak masuk ke privasi hidupku.

"Beneran, aku kepo banget. Apalagi aku tahu kita sudah tidak saling sapa begitu lamanya." Ucap kevin seraya tersenyum.

"Dia bukan teman dekat kita, tapi aku mencintainya sejak lama." Aku berkata sambil melihat Kevin. Aku sengaja memberikan jawaban itu agar dia berhenti menanyakanku perihal Ayah.

Kevin tampak begitu shock, raut wajahnya berubah menjadi sedih. Dia tidak bisa berkata-kata, Aku melihatnya menjadi heran kemudian aku tersenyum padanya.

"Pria itu Ayahku... maaf bukan pria seperti itu yang Aku maksudkan." Aku tidak menyangka raut wajah Kevin berubah seperti itu.

Kevin terdiam, Mila tersenyum melihat tingkah aneh Kevin.

Kevin POV

Aku berbalik kebelakang dan mengepal tanganku, "Yes!!!"

Aku sangat bahagia. Hampir saja Mila membunuhku seketika. Bagiku Mila adalah wanita yang mampu membuatku menjadi sosok apa saja. Meski lama sekali Mila mengenyam pendidikan di Amerika. Rasa itu tidak pernah sirna, dan kali ini Aku serius bukan hanya mengajak Mila menjadi pacarku.

Aku akan menjadikan dia, istriku untuk selama-lamanya.

"Kenapa kamu,Vin?" Mila bertanya heran padaku.

Aku hanya tersenyum saja padanya. Aku Kevin tidak pernah tersenyum pada wanita manapun. Aku malas berkenalan atau di perkenalkan dengan wanita manapun.

Mereka semua palsu, mereka hanya ingin belanja tas, emas dan barang branded lainnya.

Aku ingat pertama mami memperkenalkanku pada seorang wanita, katanya temen sahabatnya. Entah berapa teman sahabat mami di dunia ini.

Dia cantik, dengan balutan make up yang tebal. Aku memandangnya bagaikan badut. Sepertinya dia berdandan berlebihan. Apapun itu aku tidak suka wanita bermake up tebal yang di pakai sehari-hari.

Please, jawab pertanyaanku kalian wanita? Perlukah make up setiap hari? Apa kalian tidak risih setiap kali kalian berjalan kalian selalu melihat ke kaca kemudian jika ada yang kurang kalian pura pura ke toilet atau bahkan kalian pakai langsung dihadapan kami kaum pria?

Jika pria lain menyukai seperti itu, Aku bukanlah tipe pria yang suka melihat wanita terlalu berlebihan dalam berdandan. Aku suka wajah yang natural, karena Aku tahu di balik wanita yang berpenampilan natural ada skincare yang mahal harganya yang tidak mereka umbar-umbar.

Disitu Aku berpikir itulah wanita sederhana dan tidak sombong.

Aku melihat Mila dan memperhatikan wajahnya yang jauh dari kata make up. Dia cantik alami, terlebih hatinya. Aku mengenalnya sudah lama, dan Aku berkata, "Ini wanita sesuai kriteria Gue banget"

That's final!

Broken (Under Editing)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang