Anaya terus saja mengomel di sepanjang perjalanan menuju apartemennya. Selama itu pula dia terus menyumpah serapahi pria asing yang menurutnya sangat keterlaluan. Gara-gara tingkah arogannya dia jadi gagal untuk menempati jabatan penting di perusahaan benefit tersebut.
Kesempatan itu datangnya cuman sekali, eh sekalinya sudah ada kesempatan ini malah disia-siakan. Fuck banget deh nasibnya.
"Ah, sialan pake banget deh nasib gue hari ini! tunggu aja, pasti bakal gue bales kelakuan tuh laki sombong gak tau diri. Seenaknya aja berlagak sok-sokan di depan gue, pake bilang 'Emang saya peduli sama wawancara kamu?' Aish emang dia pikir, dia itu siapa, sih?" gerutunya dengan jengkel sambil menghentak-hentakkan sepatu flat shoesnya di lantai tangga darurat.
Anaya memang sengaja tidak menggunakan lift menuju apartemennya dan malah menggunakan tangga darurat yang biasa digunakan jika lift sedang bermasalah saja. Jarang sekali ada yang mau menggunakan tangga darurat yang panjangnya bukan main. Hanya orang setengah saja yang mau menggunakan tangga tersebut, untuk pengecualian gadis itu.
Anaya sengaja memakainya hanya agar kemarahan yang bersarang di hatinya segera menguap seiring dengan panjangnya tangga tersebut. Jadi sesampainya di apartemennya dia tidak akan kembali mengamuk dan memecahkan barang-barang koleksinya.
Mungkin belum saatnya dia untuk menduduki jabatan tersebut, dia harus bersabar dan menunggu datangnya lain waktu untuk mendapatkannya kembali.
"Loh Nay, lo kok-?" ujar Frisca yang baru saja keluar dari dalam lift dan heran saat melihat Anaya muncul dari tangga darurat dengan keringat yang mengalir di pelipisnya. Frisca itu temen Anaya yang tinggalnya bersebelahan dengan apartemen Anaya. Jelas heran saat melihat tetangganya satu itu tiba-tiba muncul dari tangga darurat yang jarang sekali digunakan oleh para penghuni apartemen.
"Lo sehat kan?" tanyanya lagi dengan dahi berkerut menatap Anaya ingin tahu.
Semenit.
Dua menit.
"Buahhaaaa... ya gue waras dong Fris, lo pikir gue kenapa coba? ada yang salah?" jawabnya masih dengan tawanya.
"Ya gak sih. Cuman gue aneh aja liat lo tiba-tiba muncul dari situ," tunjuknya dengan dagunya. Masih setia berdiri menunggu jawaban dari sang empunya yang tak kunjung menjawab.
Anaya hanya mengendikkan bahu lalu berkata, "Gue duluan ya Fris, hari ini gue sial banget. Udah dulu ya, Bye..." katanya lalu berlari kecil menuju pintu apartemennya.
Frisca hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah laku tetangga apartemennya itu.
***
Keesokan harinya Anaya berniat kembali ingin bertemu dengan pria sombong yang telah membuat dirinya menjadi penganggur kelas jelata. Bah! jelata? tidak elit sekali kan kedengarannya, memalukan. Anaya masih tidak terima kalau dirinya benar-benar gagal melamar kerja. Padahal ini satu-satunya perusahaan bonafit yang dia inginkan dari semasa kuliah sampai akhirnya selesai.
Anaya pikir kesempatan untuk masuk kedalam perusahaan bertaraf internasional tersebut terbuka lebar untuknya. Dia mempunyai nilai IPK cumlaude diatas 3,5 ke atas. Sedangkan teman seangkatannya hanya mampu dibawah nilainya saja. Lalu apalagi yang dirisaukannya ketika dia akan melamar kerja di perusahaan besar tersebut? tidak ada bukan.
Kenyataan memang tidak semudah menjentikkan jari tangan, Anaya pikir dengan mudahnya dia bisa diterima tapi malang nasibnya, bukannya diterima dia malah ketiban sial diawal kariernya. Double shit! teriaknya dalam hati.
Anaya sudah terlihat rapih dengan mengenakan rok span hitam dengan dipadukan atasan sifon berwarna peach. Stilleto hitam berhak 10 centi sudah terpasang sempurna di kakinya yang jenjang. Ahya jangan lupakan kacamata bulatnya ya, tanpa kacamata itu Anaya tidak akan pede dengan tampilannya yang humble. Perfect. Saatnya menjalankan misi pertama.
**
Pada saat di dalam mobil taksi yang dia tumpangi, Anaya merasa mendadak haus dan ingin membeli air mineral di minimarket terdekat, dia berkata kepada supir taksi langganannya untuk berhenti.
"Pak Tejo, bisa berhenti sebentar gak? mau beli minuman di depan situ. Haus banget tadi pagi lupa gak minum dulu. Pak Tejo mau aku belikan minuman juga?" tanyanya sambil menunggu mobil taksinya berhenti menepi di tepi jalan.
Supir itu menggelengkan kepalanya dan berkata, "Terimakasih banyak non Naya, tapi saya lagi gak haus." tolaknya dengan rikuh. Anaya hanya membalasnya dengan tersenyum.
Setelah mobil menepi, Anaya bergegas menuju minimarket untuk membeli minuman. Setelah selesai dengan urusannya membeli air, ia kembali menaiki mobil taksinya itu lagi.
Belum sempat berjalan, tiba-tiba gadis itu memanggil supir langganannya dengan sedikit berteriak yang membuat Pak Tejo terkejut.
"Aduh si non, bikin kaget Bapak saja. Kalo jantung Bapak copot bagaimana atuh." ujarnya dengan logat sunda sambil mengelus-elus dadanya berulang kali.
"Maaf deh Pak Tejo, gak sengaja abisnya suka spontan," katanya dengan nyengir tanpa dosa. "Itu ada anak kecil di pinggir jalan, kasian banget. Orang tuanya pada kemana sih, nanti kalo anaknya diculik baru tau rasa!" gerutunya dengan kesal lalu tanpa sadar tangannya sudah membuka kembali pintu taksi yang baru beberapa menit ditutupnya.
Perlahan dia mendekati gadis kecil berambut panjang yang sedang berdiri dipinggir jalan yang bagi Anaya itu terlihat sangat menggemaskan. "Adik kecil lagi ngapain di sini?" katanya sambil berjongkok menyetarakan tingginya bocah manis itu. "Mama Papanya kemana, cantik?" lanjutnya lagi sambil tersenyum ramah.
Untung saja gadis kecil itu bukan tipe anak yang penakut pada orang yang belum dikenalnya, tak disangka tiba-tiba gadis kecil yang belum diketahui namanya itu langsung memeluk Anaya sambil menangis.
"Fely takut tante. . ." gumamnya masih terus menangis sesenggukan.
Melihat anak kecil itu yang sedang memeluknya terus saja menangis, Anaya mendadak dilanda bingung bagaimana caranya untuk menenangkannya. Pasalnya dia tidak mempunyai adik kecil karena dia anak bungsu di keluarganya.
"Adik kecil jangan takut lagi ya, kan udah ada tante di sini." bujuknya sambil mengusap sayang rambut gadis kecil bernama Fely. "Jangan nangis lagi, nanti cantiknya ilang loh." tambahnya yang membuat Fely menghentikan isakannya seketika. Anaya mendadak dirinya merasa takjub dan konyol secara bersamaan, hanya dengan merayunya saja anak kecil yang ada dipelukannya ini langsung berhenti dari tangisnya. Wow! hebat sekali dia.
Fely memandang Anaya dengan tatapan yang menurut Anaya penuh harap, seperti tatapan seorang anak yang merindukan ibunya. What the hell? apa-apaan sih dia kenapa otaknya jadi bergeser tidak karuan begini.
"Kenapa cantik?" tanyanya yang tidak mengerti kenapa gadis kecil bernama Fely itu memandangnya dengan aneh.
"Tante mau gak jadi Mamanya Fely?"
WHATTTT???? JADI MAMA???
-----------------
22-12-2016.18:44
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
ChickLitWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
