Ayahnya tau siapa orang yang dimaksud oleh Anaya. Bagaimana mungkin bisa? Sedangkan gadis itu saja sama sekali belum memberitahukan siapa sosok pria yang ingin dia bicarakan.
Ayahnya benar-benar menakutkan. Pantas saja dulu beliau cukup sukses di usianya yang terbilang masih muda yang sudah menduduki posisi Chief Executive Officer(CEO) di perusahaan turun temurun warisan orangtuanya.
Dan pertanyaannya adalah, apakah Ayahnya mempunyai indera keenam sehingga beliau tau apa saja yang ingin Anaya katakan padanya?
Anaya mengendikkan bahunya tak acuh, berusaha mensugesti dirinya sendiri agar tidak memikirkan ucapan Ayahnya tadi. Tapi bohong, jika gadis itu berkata tidak memikirkan apapun. Buktinya sampai ia keluar dari ruang kerja ayahnya, otaknya masih saja bekerja menjadi dua kali lipat memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk.
Oh astaga otaknya! Tidak bisakan ia berpikir dengan jernih?
Saat Anaya melintasi ruang tengah yang bersebelahan dengan ruang baca milik eyangnya, rupanya sang eyang pun sedang berada di sana.
Eyang puterinya terlihat serius menekuri sebuah buku tebal bersampul cokelat usang di pangkuannya. Entah buku apa yang sedang dibaca eyangnya itu, Anaya tidak peduli.
Pikiranya sedang kacau dan dia butuh siraman batin agar otaknya yang buntu itu segera berjalan dengan semestinya.
"Eyang... boleh aku masuk?" Tanyanya dengan wajah lesu tanpa gairah. Ah ini semua gara-gara Ayahnya! Gerutunya dengan sebal. Ups! Benarkah gara-gara Ayahnya? Bukannya dia sendiri yang mencari masalah dengan sang ketua Hitler?
Sang Eyang seketika mendongakkan wajahnya dari buku tebal bersampul cokelat usang di pangkuannya. Kemudian membetulkan letak kacamata bacanya yang sempat melorot, dan dengan dikedipkan kedua kelopak matanya sudah menjawab pertanyaan cucunya yang berdiri di tengah pintu yang sedikit terbuka.
Anaya menyeret kedua kakinya dengan malas-malasan menghampiri eyangnya yang sedang duduk santai di sofa panjang. "Apa kamu sudah berbicara dengan Ayahmu, Nduk?" Tanya eyangnya meraih surai gelap Anaya yang tengah menyandarkan kepalanya di pangkuan sang eyang.
Anaya hanya mengangguk lemah dipangkuan eyangnya, "Daddy sepertinya marah besar padaku, Eyang."
"...."
"Apa Daddy selamanya akan seperti itu, Eyang?"
"Seperti itu bagaimana maksud kamu, Nduk?" Tanya eyangnya tidak mengerti.
"...Tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain?" Jawabnya sambil menghela napas lelah.
Eyangnya berdecak tidak habis pikir, begitulah sifat asli menantunya. Keras kepala dan sangat egois. "Tidak ada yang bisa merubah sifatnya, Nduk. Hanya dia sendiri lah yang bisa merubahnya." Ujarnya kemudian. Tangan tuanya masih mengelus surai gelap Anaya dengan sayang.
"...." gantian Anaya yang tidak bisa berkata-kata. Bukan karena dia tidak bisa lagi bertanya kepada eyangnya, tetapi karena ia berusaha mencoba berpikir bagaimana caranya agar ayahnya bisa ia luluhkan.
"Daddymu hanya bisa luluh oleh kata-kata almarhumah Mommymu, Nduk. Selain dia, tidak ada."
Anaya mendongak tidak percaya.
"Hanya Mommy, Eyang?"
Eyangnya mengangguk mantap, "Hanya Mommymu."
"Bagaimana jika aku membuat skandal besar dengan Efra, Eyang? Seperti aku dihamili oleh pria itu misalnya?"
Dengan geram Eyangnya menyentil kening Anaya dan membuat gadis itu mengaduh kesakitan. "Jangan bodoh, cucuku! Apa kau ingin melihat pria itu mati sebelum anak itu lahir?" Omel eyangnya tidak suka. Dasar cucunya ini kalau bicara suka ngelantur.
Anaya memutar bola matanya dengan malas, untung saja eyangnya tidak bisa melihat kelakuan minusnya yang tidak sopan karena posisinya yang sedang membelakanginya. Beruntungnya ia hari ini, jika tidak eyang puterinya pasti akan menjewer kupingnya hingga satu jam kedepan. Ugh! Lumayan juga sakitnya. Coba saja!
"Itu misalnya, Eyang. Bukan kenyataan kok. Tenang saja, ya." Kekehnya sambil memainkan jemari kiri eyangnya yang bertengger dipinggang gadis itu.
"Awas saja jika kamu berani melakukan hal tidak baik itu Nduk, eyang sendiri berbalik akan menjadi orang pertama yang menghukummu!" Ancamnya dengan geram.
Anaya tertawa dengan keras karena ancaman eyangnya, "Tidak akan Eyang. I promise!" Candanya sambil tertawa lepas. Tapi semenit kemudian tawanya berganti lenyap, bisa-bisanya dia tertawa sedangkan masalahnya dengan Ayahnya belum menemukan titik terang.
"Eyang..."
"Iya, Nduk?"
"Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung, Eyang?"
"Keras kepala seperti biasa. Tidak ada yang bisa kamu rubah Sayang..."
"Apa aku harus menjadi Mommy dulu agarDaddy mau merubah pikirannya?" Katanya dengan putus asa. Semakin dibenamkannya kepalanya dalam pangkuan eyangnya. Tidak disadarinya ia terisak pelan, "Ini sangat sulit, Eyang." Lanjutnya dengan suara sengaunya.
Eyang puteri nampak diam seperti tengah memikirkan sesuatu, "Bagaimana dengan perjodohan, Nduk?" katanya tiba-tiba.
"Perjodohan apa lagi, Eyang?" Jawabnya dengan malas. Perjodohan lagi? Lah yang kemarin dulu, kemarin lusa dan baru beberapa hari ini itu apa? Duh Eyangnya ini...
"Kali ini rencana Eyang pasti akan berhasil." Katanya dengan yakin membuat kedua alis Anaya menukik
Tajam menatap Eyangnya tidak percaya.
"Astaga Eyang! Stop mejodohkan aku. Sungguh aku tidak minat sama sekali dengan perjodohan konyol yang Eyang rencanakan. Dan kali ini siapa lagi?" Protesnya yang langsung menegakkan tubuhnya dan mensedekapkan kedua tangannya di depan dada. Bibirnya menekuk sebal.
"Yakin Nduk kamu tidak mau?" Tanya Eyangnya dengan senyum misteriusnya.
"Aku tidak mau."
"Baiklah. Eyang batalkan saja perjodohanmu dengan Arsenmu itu."
"What?!"
*
*
*
*Tbc.
Jangan lupa di vote yaa...
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
Literatura FemininaWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
